Berita Semarang
Teliti Seni Barongan, Riris Raih Gelar Doktor Pendidikan Seni dari Unnes
Riris Setyo Sundari berhasil meraih gelar doktor pendidikan seni pada Program Pascasarjana Unnes.
Penulis: m zaenal arifin | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Riris Setyo Sundari berhasil meraih gelar doktor pendidikan seni pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes), beberapa waktu lalu. Riris berhasil lulus berpredikat sangat memuaskan dengan IPK 3,85.
Gelar doktor diraihnya usai sukses mempertahankan disertasinya yang berjudul "Kreativitas Pengembangan Kesenian Barongan Pesisir Lor-Wetan dalam Konteks Pendidikan Seni pada Kelompok Seni Barongan Kusumojoyo Demak".
Di hadapan para dewan penguji promosi doktor yang diketuai Rektor Unnes, Prof Fathur Rokhman, Riris memaparkan penelitiannya tentang masyarakat Jawa yang memiliki beragam kesenian tradisional direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari.
Riris mengatakan, kesenian barongan, merupakan salah satu jenis seni pertunjukan yang hidup dan berkembang di beberapa wilayah Jawa. Seni tradisi ini merupakan salah satu produk budaya yang menjadi bagian dari masyarakat yang dimanis, dalam artian seni menjadi bagian dari perubahan budaya sosial.
"Jadi dalam hal ini masyarakat Jawa bukanlah penduduk yang ada di pulau Jawa, melainkan masyarakat yang hidup di dalam lingkar budaya Jawa," kata Riris, dalam keterangannya, Senin (8/3/2021).
Secara geografis, lingkar budaya Jawa berada di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan Jawa Barat merupakan lingkar budaya Sunda. Masyarakat Jawa pesisir dibagi menjadi beberapa bagian yaitu sub daerah barat yang berpusat di Cirebon. Sub bagian Timur yang berpusat di Demak, dan masyarakat di Surabaya dan sekitarnya yang merupakan sub daerah kebudayaan khusus.
"Dalam kondisi perubahan sosial budaya ini, terdapat dua kemungkinan yang terjadi pada kesenian tradisi. Kesenian surut atau punah seiring dengan perubahan yang terjadi masyarakat. Kesenian berkembang menyesuaikan dengan kondisi masyarakat," tuturnya.
Dikatakan, kesenian tradisi sebagai salah satu produk budaya harus bisa berkembang sesuai dengan perubahan yang terjadi dalam masyarakat, jika ingin tetap ada di tengah kehidupan masyarakat. Pengembangan kesenian sebagai bagian dari budaya ini terjadi dalam proses pendidikan.
Penelitiannya ini mengkaji kelompok kesenian Barongan Kusumojoyo dan bentuk pertunjukannya, bentuk pendidikan seni yang muncul dalam pertunjukan kesenian Barongan Kusumojoyo Kabupaten Demak, serta kreativitas yang dilakukan oleh kelompok kesenian Barongan Kusumojoyo dalam konteks pendidikan seni.
"Pendidikan seni memiliki fungsi yang strategis untuk mengembangkan berbagai macam potensi yang ada dalam diri manusia. Pendidikan seni sebagai media pelestarian tradisi sosial budaya (konservasi budaya). Fungsi pendidikan seni sebagai media pelestarian tradisi sosial budaya terjadi pada proses alih budaya atau proses pewarisan sebuah kesenian sebagai produk budaya, termasuk juga kesenian Barongan Kusumojoyo," jelasnya.
Menurut Riris, proses alih budaya dalam kesenian tradisi khususnya Barongan Kusumojoyo ini sangat dipengaruhi oleh modal budaya yang dimiliki oleh generasi muda di dalam kelompok kesenian barongan Kusumojoyo. Riris menejelaskan Barongan Kusumojoyo merupakan kelompok Barongan yang memiliki eksistensi tinggi di tengah masyarakat.
"Salah satu alasan tetap terjaganya eksistensi dan minat masyarakat terhadap Kesenian Barongan Kusumojoyo, adalah kreativitas yang dilakukan oleh kelompok kesenian Barongan Kusumojoyo Demak. Kesenian Barongan Kusumojoyo sebagai salah satu produk budaya melakukan berbagai kreativitas untuk tetap mempertahankan eksistensinya di tengah perubahan yang terjadi dalam masyarakat," jelas Riris.
Riris mengambil beberapa kesimpulan dalam disertasinya yaitu eksistensi kesenian Baronga tetap terjaga di antaranya menggunakan tari sebelum pertunjukan inti, berkolaborasi dengan pemain musik dari kelompok lain, menggunakan banyak anggota dan banyak property.
"Selain itu, menggunakan lagu-lagu popular sebagai musik pengiring, menggunakan kostum yang meriah, membuat cerita baru sesuai permintaan, bekerjasama dengan pihak ketiga dan terakhir menggunakan media sosial secara konsisten," terangnya.
Riris Setyo Sundari merupakan dosen program studi pendidikan guru sekolah dasar (PGSD) Universitas PGRI Semarang (Upgris). Ia menjadi lulusan doktor ke 584 Unnes serta lulusan ke-44 pendidikan seni serta doktor ke-89 Upgris.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/riris-setyo-foto-bersama.jpg)