Punk
Anak Punk Batang Rapat Bareng Bupati: Curhat Wihaji
Agar lebih dekat dengan rakyat, Bupati Batang Wihaji kini memiliki program baru berbasis podcast "Curhat Wihaji".
Penulis: dina indriani | Editor: Daniel Ari Purnomo
Penulis : Dina Indriani
TRIBUNJATENG.COM,BATANG - Agar lebih dekat dengan rakyat, Bupati Batang Wihaji kini memiliki program baru berbasis podcast "Curhat Wihaji".
Program yang dibawakan langsung oleh Bupati Batang Wihaji itu, memberikan kesempatan bagi narasumber untuk menyampaikan segala keluhan maupun aspirasi kepadanya.
Podcast tersebut akan tayang tiap hari Jumat pukul 16.30 WIB di Youtube Pemkab Batang dan Batang Channel, dengan mengundang narasumber dari berbagai profesi, kalangan, pemikiran dan pemahaman serta tema yang menarik.
Pada episode perdana, mengundang dua mantan anak punk.
Bupati Wihaji mengatakan program Curhat Wihaji ini upaya untuk mengungkapkan harapan, sekaligus ingin menggali seluk beluk perkawanan di antara mereka, untuk diambil sisi positifnya.
Namun persepsi bagi kebanyakan orang, cenderung mengganggu ketenteraman.
“Alhamdulillah dua remaja ini contoh yang jera untuk kembali menjadi anak punk.
Mereka sudah berhenti, tidak jadi anak punk, seperti Didik yang berkarya sebagai penjual kopi di samping alun-alun dan Rifky yang bekerja di bidang bangunan,” tutur Bupati Wihaji.
Menurutnya, mereka adalah contoh yang baik, apabila berkemauan keras, pasti bisa berhenti dan hidup layaknya manusia sebagai makhluk sosial pada umumnya.
“Kalau berhenti jadi anak punk manfaatnya lebih banyak, tapi kalau jadi anak punk terus tentu mudharat (kerugiannya) lebih besar,” jelasnya.
Setelah berbincang-bincang, lanjut dia, selama mereka menjadi anak punk, kebebasannya berlebihan.
Rata-rata tidak beribadah dan tidur pun di sembarang tempat, maka diharapkan kawan-kawan mereka yang masih menjadi anak punk, segera berhenti dan berkehidupanlah secara normal.
“Misalnya ada komunitas anak punk, yang memang mau berekspresi di bidang seni, asalkan positif, ayo ngobrol dengan saya untuk diberikan ruang berkreasi,” imbuhnya.
Bentuk perhatian Pemkab Batang terhadap mantan anak punk, yang berkeinginan kuat untuk berubah menjadi insan yang bermanfaat, adalah dengan memberikan bantuan tambahan modal usaha masing-masing sebesar Rp1 juta.
“Masa depan mereka tidak ada yang tahu, tapi kalau melakukan hal yang baik, InsyaAllah anak-anak ini masih punya harapan,” ujarnya.
Wihaji berharap melalui media podcast ini, bisa menjadi jalan yang lebih baik, untuk memberikan pemahaman yang sama.
“Silahkan kebebasan kalian diekspresikan ke dalam hal-hal positif,” ujarnya
Salah satu mantan anak punk, Didik Hasanudin mengatakan alasan terbesar berhenti menjadi anak punk, karena ingin memperoleh kehidupan yang lebih baik.
“Saya kaget banget bisa berbincang lansung dengan Pak Bupati, apalagi tayang di youtube,”tuturnya.
Saat ini untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, ia berjualan minuman kopi di depan Alun-alun Kota Batang.
“Saya baru dua minggu jualan kopi, modal pertamanya dikumpulkan dari hasil ngamen waktu dulu.
Sekarang sudah dikasih modal dari Pak Bupati buat tambahan jualan, buat kawan-kawan yang saat ini masih menjadi anak punk, carilah pekerjaan yang halal,” ujarnya.
Ia mendukung rencana Bupati yang akan memberikan ruang berekspresi bagi komunitas punk, sehingga hasrat berkesenian mereka tersalurkan.
“Senang sekali kalau teman-teman anak punk ini punya tempat buat menyalurkan hobinya di bidang seni,” pungkasnya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/curhat-wihaji-batang.jpg)