Berita Batang
Kapasitas Dipangkas, Strategi Berubah TPST Sentul Andalkan Pemilahan Sampah dari Rumah
Pemangkasan anggaran pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sentul di Kecamatan Gringsing
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Pemangkasan anggaran pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sentul di Kecamatan Gringsing tak hanya berdampak pada kapasitas mesin, tetapi juga memaksa perubahan strategi penanganan sampah di Kabupaten Batang.
Jika sebelumnya TPST Sentul dirancang sebagai solusi besar dengan daya olah hingga 100 ton sampah per hari, kini kapasitasnya harus disesuaikan menjadi 50 ton per hari akibat efisiensi anggaran dari pemerintah pusat.
Nilai proyek pun turun signifikan dari Rp120 miliar menjadi sekitar Rp 59 miliar.
Kondisi ini membuat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batang menggeser pendekatan dari yang semula bertumpu pada teknologi skala besar, menjadi kombinasi antara pengolahan dan pengurangan sampah dari sumber.
Kepala DLH Batang, Rusmanto, menegaskan bahwa keterbatasan kapasitas TPST justru menjadi momentum untuk memperkuat peran masyarakat dalam pengelolaan sampah.
“Dengan kapasitas yang sekarang, kita tidak bisa hanya mengandalkan TPST. Kuncinya justru ada di hulu, yaitu bagaimana masyarakat bisa memilah dan mengurangi sampah sejak dari rumah,” kata Rusmanto kepada Tribunjateng, Rabu (6/5/2026).
Baca juga: Terungkap Penyebab Kebakaran di Metro Sports Center Semarang Diduga Berasal Dari Videotron
Menurutnya, tanpa perubahan perilaku masyarakat, keberadaan TPST sebesar apa pun tidak akan mampu menuntaskan persoalan sampah secara menyeluruh.
Dampak langsung dari penurunan kapasitas ini adalah menyempitnya wilayah layanan.
Jika sebelumnya TPST Sentul diproyeksikan melayani hingga delapan kecamatan di wilayah timur Batang, kini hanya sekitar tiga hingga empat kecamatan yang bisa terakomodasi.
Wilayah seperti Gringsing, Banyuputih, dan Limpung tetap menjadi prioritas, namun tidak semua daerah yang semula masuk rencana awal bisa langsung terlayani.
Kondisi ini menuntut pemerintah daerah untuk mencari solusi tambahan, termasuk penguatan Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) di tingkat desa serta optimalisasi bank sampah.
Meski mengalami efisiensi, proyek TPST Sentul dipastikan tetap berjalan. Saat ini prosesnya telah memasuki tahap pelelangan di kementerian, dengan target tender rampung pada Mei 2026.
Sejumlah persiapan teknis juga telah dilakukan, termasuk pengujian kekuatan tanah di lokasi pembangunan sebagai dasar konstruksi fasilitas pengolahan sampah tersebut.
Rusmanto optimistis, meski dengan skala yang lebih kecil, TPST Sentul tetap akan memberi dampak signifikan dalam mengurangi beban sampah, khususnya di wilayah perbatasan Batang-Kendal yang selama ini cukup krusial.
Pengurangan kapasitas TPST ini secara tidak langsung menjadi titik balik perubahan paradigma pengelolaan sampah di Batang, dari yang semula berorientasi kumpul angkut buang menjadi kurangi pilah olah.
| Bupati Batang Lari 5 Km Sambil Pungut Sampah, Gaungkan Kampanye Lingkungan ke Dunia |
|
|---|
| Gunakan Skema Sister City dengan Zhijiang, Pemkab Batang Fokus Tingkatkan SDM Lokal |
|
|---|
| 300 Sekolah di Batang Rusak, Perbaikan Butuh Waktu 45 Tahun |
|
|---|
| Koperasi Desa Merah Putih di Batang Mulai Bergerak, Tantangan SDM & Partisipasi Warga Masih Jadi PR |
|
|---|
| Transportasi Murah hingga Hunian Subsidi, Jurus Pemkab Batang Sejahterakan Buruh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260506_tpst.jpg)