Breaking News:

3 Menteri bakal Berburu Peluang Investasi Industri Baterai

Menteri BUMN bersama Menko Marves dan Mendag akan ke AS untuk mencari peluang kerja sama terkait pengembangan Industri Baterai kendaraan listrik.

Istimewa
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir 

TRIBUJATENG.COM, JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, bakal melakukan perjalanan ke Amerika Serikat (AS) untuk mencari peluang kerjasama terkait dengan pengembangan Industri Baterai Kendaraan Listrik (Electric Vehicle Battery).

Tak sendirian, Erick bakal mengunjungi AS bersama Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, serta Menteri Perdagangan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi.

Direncanakan, kunjungan ke Negeri Paman Sam tersebut akan berlangsung pada pertengahan April 2021.

Sebagai informasi, Kementerian BUMN membentuk Indonesia Battery Corporation (IBC) sebagai holding untuk mengelola ekosistem industri baterai kendaraan bermotor listrik yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Holding tersebut berisikan empat perusahaan BUMN sektor pertambangan dan energi, yakni Holding Industri Pertambangan, meliputi MIND ID, PT ANTAM Tbk, PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero).

Proyek Indonesia Battery Corporation melibatkan dua perusahaan luar negeri, yakni Contemporary Amperex Technology (CATL) dan LG Chem Ltd.

"Kami tidak hanya membuka kerja sama dengan CATL atau LG. Tapi kita juga membuka dengan partner lain. Karena itu dipertengahan April ini Pak Menko Luhut dan saya bersama Bapak Menteri Perdagangan, kami akan ke Amerika. Salah satunya melihat potensi kerja sama dengan pihak di Amerika," kata Erick, dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (26/3).

Tak hanya Amerika, Erick Thohir bersama rombongannya juga akan melakukan perjalanan ke Jepang, untuk melihat potensi kerja sama serupa.

Usaha pemerintah dalam mencari partner kerja sama dengan pemain global bertujuan agar industri EV Baterry ini dapat terkonsolidasi dari hulu hingga hilir.

Ditambah lagi, modal untuk membangun pabrik itu membutuhkan biaya yang cukup besar. Nilai investasi industri baterai yang terintegrasi dari hulu hingga ke hilir ini diperkirakan mencapai 17 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 244,87 triliun (kurs dollar Rp 14.404).

"Jadi jangan pikir IBC ini berdiri kami mau monopoli dengan satu atau dua pihak, tapi kita akan berpartner dengan banyak pihak. Ini harus terkonsolidasi, karena kalau tidak terkonsolidasi yang kami takuti hilirisasi tidak berjalan dengan baik, dan hanya mengalihkan kekayaan alam kita untuk dipakai bangsa lain," jelas Erick.

Namun, untuk dapat bekerja sama dengan IBC, Menteri Erick telah menetapkan persyaratan khusus.

"Kami terbuka untuk bekerjasama dengan siapapun. Hanya saja harus memenuhi tiga kriteria, yakni mendatangkan investasi pada sepanjang rantai nilai, membawa teknologi, dan pasar regional atau global," terangnya.

"Tiga syarat itu penting agar seluruh rantai nilai di industri EV battery ini dapat dibangun secara terintegrasi melalui sinergi yang strategis," tambah Erick. (Tribunnews/Bambang Ismoyo)

Editor: Vito
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved