Breaking News:

Berita Karanganyar

Harga Cabai Rawit di Karanganyar Turun Jadi Rp 90 Ribu Perkilogram

Harga cabai rawit di Pasar Jungke Kecamatan/Kabupaten Karanganyar berangsur turun yang semula mencapai Rp 100 ribu lebih per Kg, kini menjadi Rp 90 ri

Tribun Jateng/Agus Iswadi
Pedagang Pasar Jungke, Pariyem saat melayani pembeli, Sabtu (27/3/2021).  

Penulis: Agus Iswadi

TRIBUNJATENG.COM, KARANGANYAR - Harga cabai rawit di Pasar Jungke Kecamatan/Kabupaten Karanganyar berangsur turun yang semula mencapai Rp 100 ribu lebih per kilogram, kini menjadi Rp 90 ribu per Kg. 

Pedagang Pasar Jungke, Pariyem menyampaikan, harga cabai rawit mulai turun. Penurunan harga cabai rawit terjadi mulai kemarin. 

"Harganya turun, sekarang Rp 90 ribu. Kemarin Rp 100 ribu," katanya kepada Tribunjateng.com, Sabtu (27/3/2021). 

Meski harga cabai rawit mulai mengalami penurunan, dia tidak menambah stok di lapaknya. Mengingat harga belum stabil. Pariyem menuturkan, stok masih sama sekitar 15-20 Kg. 

"Itu sehari bisa habis. Normalnya itu kalau harganya Rp 50 ribu-Rp 60 ribu per Kg," ucapnya. 

Kasi Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (Dispertan PP) Karanganyar, Budi Sutrisno mengatakan, tingginya harga cabai rawit belakangan ini turut menjadi perhatian dari dinas. 

"Kami sudah keliling, memang karena pasokannya kurang," jelasnya. 

Lanjutnya, selama ini untuk kebutuhan cabai di Karanganyar dipenuhi dari pasokan luar daerah. Terutama Jawa Timur seperti Nganjuk, Kediri, Lamongan dan Banyuwangi. Selain itu faktor cuaca juga turut berdampak terhadap hasil panen cabai. 

"Saat musim tanam tahun lalu, harga turun. Beberapa ada yang beralih ke komoditas lain. Otomatis pasokan kurang," ungkapnya. 

Budi menambahkan, lahan penanaman cabai rawit di Karanganyar berada di wilayah Jumapolo. Sedangkan lahan penanaman cabai keriting berada di dataran tinggi seperti Karangpandan, Matesih, Tawangmangu dan Ngargoyoso. 

Dia menuturkan, tingginya harga cabai rawit di pasaran bertahan hampir sekitar satu bulan. Menurutnya, tingginya harga lebih disebabkan faktor kurangnya pasokan. (Ais)

Penulis: Agus Iswadi
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved