Breaking News:

Berita Semarang

SDN Pekunden Gelar Simulasi Tatap Muka, Pelajaran Hanya Berlangsung 2 Jam Saja

SDN Pekunden, Kota Semarang menggelar simulasi pembelajaran tatap muka di sekolah, Rabu (31/3/2021).

Tribun Jateng/Hermawan Handaka
Kepala sekolah bersama guru dan staf sekolah melakukan simulasi kegiatan belajar tatap muka di SD Negeri Pekunden Semarang Jalan Pandanaran 1 No 28, Pekunden, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (31/3/21). Simulasi yang dilakukan oleh pegawai sekolah dengan menerapkan protokol kesehatan merupakan salah satu persiapan untuk mengadakan kegiatan belajar tatap muka yang sehat serta bebas COVID 19. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pekunden, Kota Semarang, menggelar simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah, Rabu (31/3/2021). Sekolah tersebut menjadi satu dari sekian sekolah yang ditunjuk Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang untuk uji coba PTM yang dimulai 5 April mendatang.

Simulasi dimulai dari para siswa datang ke sekolahan mema

Kepala sekolah bersama guru dan staf sekolah melakukan simulasi kegiatan belajar tatap muka di  SD Negeri Pekunden Semarang Jalan Pandanaran 1 No 28, Pekunden, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (31/3/21). Simulasi yang dilakukan oleh pegawai sekolah dengan menerapkan protokol kesehatan merupakan salah satu persiapan untuk mengadakan kegiatan belajar tatap muka yang sehat serta bebas COVID 19.
Kepala sekolah bersama guru dan staf sekolah melakukan simulasi kegiatan belajar tatap muka di SD Negeri Pekunden Semarang Jalan Pandanaran 1 No 28, Pekunden, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (31/3/21). Simulasi yang dilakukan oleh pegawai sekolah dengan menerapkan protokol kesehatan merupakan salah satu persiapan untuk mengadakan kegiatan belajar tatap muka yang sehat serta bebas COVID 19. (Tribun Jateng/Hermawan Handaka)

kai masker yang kemudian langsung dilakukan pengukuran suhu tubuh oleh petugas. Selanjutnya mereka mencuci tangan menggunakan sabun sebelum masuk ke ruang kelas.

Di dalam kelas, para siswa langsung menempati tempat duduk yang sudah diatur. Jumlah siswa yang masuk mengikuti simulasi juga disesuaikan dengan kapasitas ruangan yaitu 50 persen dari total siswa.

Setelah selesai, para siswa diarahkan untuk keluar kelas secara bergantian mengikuti jalur yang sudah disediakan. Selanjutnya mereka meninggalkan sekolah dann pulang ke rumah masing-masing.

Kepala SDN Pekunden, Abdul Khalik menuturkan, simulasi tersebut sebagai gambaran pelaksanaan PTM yang akan diuji cobakan mulai 5 April. Nantinya, setiap kelas hanya diisi 50 persen dari jumlah siswa sehingga pembelajaran dilakukan secara blended yaitu daring dan luring.

"Nanti yang pertama uji coba itu kelas 5 dan 6. Karena 50 persen yang masuk, kami atur bergiliran. Senin untuk tempat duduk sebelah kanan, kemudian yang kiri masuk Selasa, begitu seterusnya. Yang tidak masuk, mengikuti pembelajaran secara daring dari rumah," kata Khalik.

Dikatakannya, jam pelajaran dibatasi hanya 120 menit atau 2 jam saja tiap kelasnya. Untuk menghindari kerumunan, pihaknya telah mengatur jam masuk dan kepulangan para siswa.

"Jamnya diatur hanya 2 jam. Untuk kelas pertama, masuk pukul 08.00 WIB, kelas kedua masuk 08.15 WIB, dan seterusnya. Jadi pulangnya juga beda-beda waktunya," jelasnya.

Khalik menegaskan, SDN Pekunden telah siap menjalankan PTM. Selain telah menyiapkan simulasi uji coba, Khalik mengklaim 100 persen orang tua siswa mengizinkan anak-anaknya untuk masuk sekolah.

"Selain izin orang tua sudah mengizinkan, seluruh guru dan tenaga kependidikan di SDN Pekunden juga sudah divaksin," ujarnya.

Siswa kelas 4 SDN Pekunden, Mikail Maulana, mengaku senang bisa mengikuti simulasi tersebut. Ia beralasan bisa bertemu dengan teman-temannya dan para guru setelah setahun menjalani pembelajaran dari rumah.

"Senang karena bisa ketemu teman-teman dan guru. Nantinya tidak apa-apa pakai masker kan demi menjaga kesehatan dari Covid-19," ucapnya.

Orang tua siswa, M Bahtiar juga mengaku mendukung dilakukan PTM. Selain karena anak-anak sudah bosan belajar dari rumah, menurutnya, dengan tatap muka maka lebih efektif sehingga anak-anak lebih memahami materi pelajaran.

"Semoga simulasi ini memberikan petunjuk orang tua yang belum yakin mengizinkan anaknya masuk sekolah. Kalau saya sendiri yakin bahwa di sekolah lebih aman," katanya. (*)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved