Rabu, 20 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Aktivitas Bisnis IKM Tekstil Tergerus Impor Pakaian Jadi

Praktik impor produk pakaian jadi sangat masif, terutama melalui PLB e-commerce. Produk itu marak dipasarkan di swalayan dan marketplace

Tayang:
Editor: Vito
TRIBUN JATENG/IDAYATUL ROHMAH
ilustrasi - satu gerai pakaian di Mal Ciputra Semarang. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Industri kecil dan menengah (IKM) tekstil lokal dinilai kesulitan menjalankan aktivitas bisnis, menyusul derasnya arus impor produk pakaian jadi ke dalam negeri.

Produk impor itu marak dipasarkan tidak hanya di pasar swalayan, tetapi juga masuk ke marketplace.

Hal itu diungkapkan Analis Kebijakan Industri dan Perdagangan Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Farhan Aqil Syauqi.

Menurut dia, praktik impor produk pakaian jadi sangat masif dilakukan, terutama melalui Pusat Logistik Berikat (PLB) e-commerce.

“Mereka masuk melalui PLB e-commerce. PLB ini tidak hanya tekstil, tetapi macam-macam produknya. Lebih ke produk konsumsi kebutuhan rumah tangga,” katanya, kepada wartawan, Sabtu (3/4).

Ia berujar, kondisi itu membuat IKM tidak dapat memasarkan produk pakaian jadi.

“Di Jawa Barat itu banyak sekali produksinya. Contohnya Sentra Rajut Binong di Bandung. Mereka produksinya terus menerus dan pekerjanya juga banyak. Miris ketika produknya tidak dapat bersaing dengan impor. Harganya jauh sekali, tetapi kualitas lebih baik dibandingkan produk impor,” tuturnya.

Aqil juga mendapatkan laporan bahwa IKM di Surakarta yang menggunakan limbah garmen sebagai bahan bakunya tidak dapat memenuhi permintaan, karena produksinya sudah minim.

“Di Surakarta, IKM ini tidak dapat bahan baku sesuai dengan permintaan. Padahal bahan bakunya limbah. Kalau limbahnya minim, artinya produksi IKM hilir-nya kan minim,” terangnya.

Menurut dia, jika pemerintah tidak dapat memproteksi pasar dalam negeri, IKM ini akan mati perlahan-lahan. Padahal, potensi IKM tekstil itu dapat menumbuhkan perekonomian Indonesia di tengah pandemi.

“Kalau IKM-nya dapat tumbuh, maka perekonomian juga akan bergerak positif. Penyerapan bahan baku juga akan baik ke industri hilir tekstil, jika IKM ini bisa naik kelas," ucapnya.

"Kalau impor pakaian jadi ini terus-menerus diberlakukan, IKM bisa mati, dan pengangguran dengan skala besar bisa terjadi karena IKM ini banyak,” tambahnya.

Sekretaris Jenderal APSyFI, Redma Gita Wirawasta berujar, jaminan pasar merupakan masalah utama sektor tekstil dan produk tekstil (TPT). Dalam hal ini, pemerintah dinilai gagal menjadikan pasar domestik sebagai jaminan pasar produk lokal.

"Pemerintah dengan mudah memberikan karpet merah terhadap produk impor atas nama kepentingan penyediaan barang murah untuk konsumen tanpa memikirkan upaya peningkatan daya beli konsumen itu sendiri," ujarnya, dalam keterangan resmi, Minggu (4/4).

Terus turun

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved