Breaking News:

Kesehatan

Tak Perlu Emosi Berlarut Jadi Korban Ghosting, Bangun Karakter Pribadi Lebih Mandiri

Ghostee memang cenderung akan larut dalam suasana pasca ditinggalkan. Tipikalnya memang begitu. Saat pacaran, segala hal bersama.

Penulis: Akhtur Gumilang | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG
Menjadi korban ghosting memberikan perasaan yang menyakitkan. Ghosting adalah istilah yang populer belakangan ini untuk kondisi ketika seseorang ditinggalkan tanpa penjelasan. 

TRIBUNJATENG.COM - Ghosting adalah istilah untuk menyebut suatu perilaku yang tiba-tiba menghilang, padahal masih berada dalam satu hubungan dengan pihak lain. Dalam kasus ini, sebut saja orang yang melakukan ghosting sebagai ghoster. Sedangkan orang yang di-ghosting atau menjadi korban adalah ghostee.

Dr Christin Wibhowo, S.Psi, M.Si, Dosen Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Semarang dan Konselor Pernikahan menjelaskan seluk beluk dan segala hal mengenai ghosting ini.

Menurutnya, penyebab dari terjadinya ghosting adalah pertama, dari sudut pandang ghoster, biasanya karena tidak peka akan sinyal atau tanda-tanda untuk putus (mengakhiri hubungan). Ghostee tidak paham. Misal, si ghoster sudah memberikan sinyal dengan tidak membalas chat, tidak mengangkat telepon, membatalkan janji pertemuan, namun si ghostee tidak sadar dengan cara-cara halus ini. Maka mungkin, si ghoster tidak tega untuk menyampaikan secara langsung kalau mau putus. Akhirnya, si ghoster melakukan ghosting.

Lalu alasan kedua karena mungkin ghoster tidak mau berdebat. Ghoster memang mau putus. Ghoster bahkan sudah dengan mengatakan bahwa dirinya ingin putus. Ghoster langsung berbicara ke pasangannya atau ghostee. Namun, ghostee masih memaksa dan mengejar terus. Daripada begitu dan berdepat terus, akhirnya ghoster memilih melarikan diri saja supaya aman. Kemudian alasan ketiga karena bisa saja si ghoster sedikit Menelik gangguan kepribadian yaitu gangguan kecemasan untuk terikat. 

Ghoster ini punya kepribadian menghindar. Jadi, ketika sudah mulai lekat, si ghoster ini mulai meras takut. Hal ini bisa saja disebabkan karena pengalaman masa lalu atau memang memiliki gangguan tersebut. Kondisi ini bisa saja terjadi apabila si ghoster dikejar-kejar orangtua ghostee untuk segera menikah. Padahal ghoster belum siap.

Selanjutnya, kenapa seseorang menjadi korban atau ghostee? Pertama, karena ghostee tidak siap dan peka terhadap tanda-tanda tadi oleh pasangannya. Kedua, si ghostee tidak memilik prestasi khusus (kegiatan, hobi, atau capaian). Saat berhubungan, ghostee cenderung mengikuti terus pasangannya (manutan). Hal ini tentu membuat bosen si ghoster, sehingga akhirnya si ghoster jadi jengkel dan melarikan diri.

Biasanya, ghostee orangnya cenderung nerima dan manut. Maka dari itu, anak-anak muda, baik perempuan maupun laki-laki harus mandiri dan memiliki prestasi masing-masing. Jangan jadi serba ketergantungan dengan pasangan. Lalu jangan segala hal harus berbarengan semua. Misal, menabung, berbisnis, berinvestasi, dan tinggal bersama. Sebab, ketika sudah tinggal bersama, ini dari pihak perempuan sangat dirugikan.

Sehingga kepribadiannya jadi sangat ketergantungan atau dependen. Kepribadian yang sangat ketergantungan ini juga adalah gangguan. sehingga ghoster-nya jadi bosen. Intinya, kalau terjadi adanya ghosting, maka yang salah bukan hanya pelaku atau ghoster, tetapi korban/ghostee juga punya potensi untuk di-ghosting.

Menjadi korban ghosting atau ghostee tentu bukan hal yang diinginkan. Dampak buruk perilaku ghosting terhadap ghostee banyak sekali. Dampaknya, ghostee semakin tidak memiliki harga diri. Ketika dia betul-betul menjadi korban ghosting, maka potensi-potensi gangguan ini bakal muncul. Ghostee makin tidak punya harga diri, tidak percaya diri, rentan menyakiti diri sendiri, dan suka menyalahkan diri sendiri. Ke depannya, ketika ghostee akan menjalin hubungan lagi, dia akan memiliki trauma ini.

Ghostee memang cenderung akan larut dalam suasana pasca ditinggalkan. Tipikalnya memang begitu. Saat pacaran, segala hal bersama. Hal inilah yang membuat para ghostee terlarut dalam situasi. Para ghostee harus berbenah diri. Introspeksi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved