Breaking News:

Kesehatan

Tak Perlu Emosi Berlarut Jadi Korban Ghosting, Bangun Karakter Pribadi Lebih Mandiri

Ghostee memang cenderung akan larut dalam suasana pasca ditinggalkan. Tipikalnya memang begitu. Saat pacaran, segala hal bersama.

TRIBUN JATENG
Menjadi korban ghosting memberikan perasaan yang menyakitkan. Ghosting adalah istilah yang populer belakangan ini untuk kondisi ketika seseorang ditinggalkan tanpa penjelasan. 

Ketika menjadi ghostee, maka dia tidak boleh hanya menyalahkan pelaku. Tetapi, ghostee harus segera introspeksi diri dan mawas diri. Terutama bagi banyak perempuan setelah memiliki pacar, kalian harus tetap untuk berprestasi. Boleh berpacaran, namun tetap fokus ke depan. Jadi, tugas saat waktu berpacaran itu adalah menjalin hubungan. Lalu, menata masa depan. Masa depannya siapa? Masa depan masing-masing, masa depan diri sendiri. Jangan semua hal tergantung pada pacar/pasangan. Hal ini harus diinstropeksi. 

Begitu seseorang menjadi ghostee, maka dia harus segara introspeksi dan fokus ke masa depan. Intinya, harus terus berprestasi. Jangan berubah menjadi orang yang serba manutan, bahkan jangan berubah ketika juga sudah menikah nanti. Prestasi tetap harus ada supaya PD.

Fokus saja ke depan. Sebab, di balik setiap kesuksesan kita, selalu ada mantan yang menyesal. Nah, maka dari itu, teruslah berprestasi, introspeksi diri, dan jangan diulang lagi dengan kepribadian yang serba dependen tadi. Setelah itu, para ghostee perlu bersyukur juga. Kenapa? karena kita pada akhirnya putus atau selesai. Hubungan yang putus baik-baik itu sebenarnya tidak ada. Namanya baik-baik itu harusnya tidak putus.

Kalau putusnya pakai diskusi justru akan semakin sakit karena kita masih mengenang banyak kebaikan dari pasangan. ketika kita di-ghosting, maka kita mau ga mau harus berhenti menghubungi dia. Seiring berjalannya waktu, luka di hati pun semakin sembuh karena benar-benar sudah tidak ada hubungan. Jadi, ketika seseorang itu di-ghosting, maka langsung saja blokir semua media sosialnya si ghoster. Supaya anda tidak tau lagi kabar dia. Itu betul-betul akan menyembuhkan.

Selain harus terus mengintropeksi, berprestasi, dan fokus ke depan, para ghostee pun perlu membuat target. Targetnya harus memakai angka. Yang jelas supaya kita fokus. Kemudian, kita bersyukur karena ini justru jalan yang terbaik. Hal lainnya yang bagus untuk dilakukan diri sendiri adalah jangan lupa tetap melakukan hobi. Nah seringkali, ghostee suka lupa terhadap hobinya karena masih larut dalam suasana hati gundah gulana. Hobi itu seperti layaknya charge di HP. 

Semisal masih berlanjut, silahkan hubungi pihak yang berkompeten. Tidak harus psikolog dan para ahli. Maksudnya adalah orang-orang yang diyakini bisa menyelesaikan masalah. Mungkin bisa ke orangtua, kakak, adik, dan teman. Mau pakai psikolog juga boleh. Buka lah pintu hati untuk bercerita. Misalkan malu karena takut rahasianya terungkap, justru mengungkapkan sedikit rahasia adalah kedewasaan pribadi.
Ketika para ghostee sudah melakukan hal-hal tadi, maka hindarilah perilaku-perilaku rendah diri, agresif, dan pasif. 

Saat kita menjadi ghostee, yang harus ditonjolkan adalah perilaku asertif. Di dalam setiap hubungan, anda berhak menyampaikan isi pikiran dan pendapat tanpa harus menyinggung orang lain. Hal inilah yang disebut asertif. Terakhir, hindarilah kutipan-kutipan cinta yang salah.

Seperti kutipan; cinta rela berkorban dan cinta pertama tidak pernah mati. Itu sejumlah kutipan-kutipan cinta yang salah kaprah. Padahal, yang namanya pacaran itu, ada kesempatan untuk putus. Hal itu tidak salah. Banyak sekali orang yang menganggap bahwa cinta pertama itu harus sampai nikah. Kalau enggak, maka tidak ideal. Pacaran itu bukan cinta buta. Bukan pula setia buta. (*)

 

Penulis: Akhtur Gumilang
Editor: moh anhar
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved