Selasa, 28 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kesehatan

Tak Perlu Emosi Berlarut Jadi Korban Ghosting, Bangun Karakter Pribadi Lebih Mandiri

Ghostee memang cenderung akan larut dalam suasana pasca ditinggalkan. Tipikalnya memang begitu. Saat pacaran, segala hal bersama.

Penulis: Akhtur Gumilang | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG
Menjadi korban ghosting memberikan perasaan yang menyakitkan. Ghosting adalah istilah yang populer belakangan ini untuk kondisi ketika seseorang ditinggalkan tanpa penjelasan. 

Semisal masih berlanjut, silahkan hubungi pihak yang berkompeten. Tidak harus psikolog dan para ahli. Maksudnya adalah orang-orang yang diyakini bisa menyelesaikan masalah. Mungkin bisa ke orangtua, kakak, adik, dan teman. Mau pakai psikolog juga boleh. Buka lah pintu hati untuk bercerita. Misalkan malu karena takut rahasianya terungkap, justru mengungkapkan sedikit rahasia adalah kedewasaan pribadi.
Ketika para ghostee sudah melakukan hal-hal tadi, maka hindarilah perilaku-perilaku rendah diri, agresif, dan pasif. 

Saat kita menjadi ghostee, yang harus ditonjolkan adalah perilaku asertif. Di dalam setiap hubungan, anda berhak menyampaikan isi pikiran dan pendapat tanpa harus menyinggung orang lain. Hal inilah yang disebut asertif. Terakhir, hindarilah kutipan-kutipan cinta yang salah.

Seperti kutipan; cinta rela berkorban dan cinta pertama tidak pernah mati. Itu sejumlah kutipan-kutipan cinta yang salah kaprah. Padahal, yang namanya pacaran itu, ada kesempatan untuk putus. Hal itu tidak salah. Banyak sekali orang yang menganggap bahwa cinta pertama itu harus sampai nikah. Kalau enggak, maka tidak ideal. Pacaran itu bukan cinta buta. Bukan pula setia buta. (*)

 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved