Breaking News:

Beriota Kendal

Ratusan Warga Desa Sidomulyo Kendal Gelar Kirab Mangsa Labuh di Tengah Sawah

Seratusan warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Cepiring, Kabupaten Kendal menggelar kirab mangsa labuh.

TRIBUNJATENG/SAIFUL MA'SUM
Warga Desa Sidomulyo, Cepiring, Kendal berebut sayuran dalam gunungan kirab mangsa labuh, Jumat (9/4/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Seratusan warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Cepiring, Kabupaten Kendal menggelar kirab mangsa labuh dengan mengarak gunungan hasil bumi pada, Jumat (9/4/2021). Gunungan yang berisi sayuran kacang panjang, lobak, wortel hingga cabai diarak dari kantor balai desa menuju brak balai tani di tengah sawah.

Kirab nguri-uri budaya dilakukan warga Sidomulyo dalam rangka menyambut mangsa labuh (musim menjelang tanam padi-red) yang kedua pada 2021. Warga berebut sayuran yang dibentuk gunungan setelah didoakan bersama. 

Setelah itu, mereka juga menggelar selamatan bersama (ambengan) di atas daun pisang.

Kelompok Tani Desa Sidomulyo, Sadiyo mengatakan, kirab ini dilakukan setiap setahun dua kali untuk memperingati masa musim tanam padi. Isinya berdoa bersama dengan membawa nasi selamatan sendiri-sendiri untuk disantap bersama petani lain di tengah sawah.

Selain itu, berkumpulnya para petani tiap 6 bulanan itu dimaksudkan untuk mempererat petani Sidomulyo agar kompak dalam bercocok tanam. Petani mengikuti doa bersama dan berembuk terkait kapan jadwal sebar benih dan tanam bibit padi agar bisa dilakukan serentak setiap musimnya.

"Ini biasa diperingati saat mau labuh tanam agar kompak petaninya. Terus kalau sudah kompak tidak ada iren-iren (saling iri hati-red) sehingga dalam menanam padi bisa rukun agar perawatannya maksimal dan hasilnya melimpah," terangnya di lokasi.

Kirab nguri-uri budaya para petani ini dilakukan untuk memulai musim tanam dengan doa bersama. Di sela kegiatan, petani juga diimbau tetap berusaha maksimal dalam merawat tanaman agar produksi padi yang dihasilkan melimpah.

Kepala Desa Sidomulyo, Ratna Yuli Fitriyani menjelaskan, tradisi tersebut sudah turun-temurun diperingati warganya dua kali dalam setahun. Kata Ratna, warga yang ikut dalam tradisi itu hanya perwakilan petani minimal 1 orang dalam keluarga. 

Tujuannya, sebagai ungkapan rasa syukur petani atas hasil panen tanaman, serta memohon kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan dalam musim tanam yang akan dilakukan. 

"Kalau soal gunungan ini baru, kita berkolaborasi dengan Sanggar Kebudayaan Kejeling, termasuk tari-tariannya," jelasnya. 

Kata Ratna, sebelum melakukan kirab, petani di desanya sudah diberitahukan minimal 1 pekan sebelum pelaksanaan. Waktunya menyesuaikan dengan kondisi musim agar bisa dilakukan serentak.

"Kebetulan kali ini bertepatan pada Jumat Kliwon. Kalau waktu memang tidak pasti, menyusaikan. Tentunya kita berharap agar kebudayaan ini tetap berjalan dan berkembang sebagai bentuk nguri-uri budaya warisan nenek moyang," ujarnya. 

Seorang petani, Junaidah mengatakan, pada prosesi kirab tersebut, ia mengincar isian gunungan dan membawa nasi selamatan untuk dibawa ke rumah.

Kata Junaidah, sayuran dalam gunungan rencananya akan dimasak untuk dimakan dengan nasi selamatan bersama keluarganya.

"Nanti sayuran ini dimasak agar bisa dimakan bareng keluarga. Katanya membawa berkah karena sudah didoakan, juga nasi selamatannya dimakan bareng keluarga," terangnya. (*)

Penulis: Saiful Ma'sum
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved