Jumat, 10 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berira Banjarnegara

Geliat Pengrajin Tikar Pandan di Somawangi Banjarnegara

Memasuki Dukuh Mawangi Desa Somawangi Kecamatan Mandiraja, tanaman pandan berduri tumbuh rimbun di kebun warga. 

Penulis: khoirul muzaki | Editor: rival al manaf
Istimewa
Sutinem membuat tikar pandan di rumahnya Rt 2 Rw 7 Desa Somawangi, Mandiraja Banjarnegara, Jumat (16/4/2021) 

Penulis: Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA -

Memasuki Dukuh Mawangi Desa Somawangi Kecamatan Mandiraja, tanaman pandan berduri tumbuh rimbun di kebun warga. 

Tanaman hijau ini bukan untuk dikonsumsi, melainkan diambil daunnya untuk kerajinan. 

Daunnya yang panjang cocok untuk dibentuk aneka kerajinan, di antaranya tikar

Hamparan tanaman pandan itu telah jadi sumber penghidupan warga sekitar. Petani biasa memangkas daun pandan di kebun lalu mengikat dan membawanya pulang.  Di rumah, para ibu rumah tangga sudah menanti kedatangan bahan itu untuk diproses kemudian.

Baca juga: Empat Orang Staf SMPN 2 Jekulo Diswab Besok, Pastikan Tak Ganggu Ujian Sekolah

Baca juga: Kisah ABK Asal Brebes, Indramayu, dan Subang Terombang-ambing di Laut Utara Jawa saat Kapal Terbakar

Baca juga: Cegah Pemudik Curi Start, Pemkab Semarang Bakal Intensifkan Satgas Jogo Tonggo

Butuh proses panjang sampai produk tikar halus siap dipasarkan.  Sutinem (31) warga Rt 2 Rw 7 Desa Somawangi Kecamatan Mandiraja mulanya membersihkan duri-duri tajam yang melindungi tanaman itu. 

Ia lantas mengupas permukaan daun itu agar lebih halus. Ini belum apa-apa. Ia masih harus membelah daun itu sesuai ukuran yang dinginkan menggunakan senar. 

"Pandannya menanam di kebun sendiri, " katanya, Jumat (16/4/2021) 

Sutinem lalu menjemurnya di bawah terik matahari selama sekitar dua hari.  Setelah kering, barulah ia bisa membentuk bahan alam itu menjadi kerajinan. 

Dari tangan terampil Sutinem, daun berduri itu disulap menjadi tikar halus yang siap dipasarkan.  Sutinem sudah puluhan tahun menjalani pekerjaan itu. Ia mendapat keterampilan secara turun temurun. 

Orang tuanya adalah petani sekaligus pengrajin pandan. Mereka juga mendapatkan keterampilan itu dari orang tuanya dulu. Hingga ia tak tahu sejak kapan dan siapa yang mengawali tradisi menganyam pandan di daerahnya. 

"Ini sudah ada sejak zaman nenek moyang, " katanya

Nyatanya tradisi itu masih bertahan sampai sekarang. Ini menunjukkan kebutuhan tikar tradisional itu tidak lekang oleh zaman. Usaha rumah tangga itu cukup membantu pemenuhan kebutuhan. Saat para lelaki sibuk berladang, ibu-ibu rumah tangga sibuk menganyam. 

Terlebih, pekerjaan itu bisa disambi. Ibu rumah tangga seperti Sutinem masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah, termasuk mengasuh anak di sela aktivitasnya membuat tikar

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved