Berira Banjarnegara
Geliat Pengrajin Tikar Pandan di Somawangi Banjarnegara
Memasuki Dukuh Mawangi Desa Somawangi Kecamatan Mandiraja, tanaman pandan berduri tumbuh rimbun di kebun warga.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: rival al manaf
"Buat tikar itu duitnya (hasilnya) cepat. Bisa disambi momong, " katanya
Dalam sehari, ia bisa menyelesaikan satu tikar yang dijual seharga sekitar Rp 30 ribu. Meski tak seberapa, hasil itu lumayan untuk membantu suaminya yang bekerja sebagai petani.
Baca juga: Lawang Sewu Punya Adik di Tegal, Namanya Lawang Satus, Jadi Tempat Favorit Ngabuburit Warga
Baca juga: Alasan Ganjar Belum Membangun Jawa Bagian Selatan Karena Ada Risiko Bencana Besar
Baca juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa Hari Ini Pekanbaru, Ramadhan Hari ke-5, Sabtu 17 April 2021
Ia bukan satu-satunya pengrajin di Desa Somawangi. Di kampungnya, banyak perempuan yang menjalani profesi serupa. Tikar yang mereka hasilkan ditampung oleh pengepul, lalu dibawa ke kota untuk dipasarkan. Di luar kota semisal Jakarta, tikar itu biasa dipakai untuk alas atau pembungkus mayat. Tapi tikar itu bisa juga dipakai untuk alas duduk atau tiduran selayaknya tikar pada umumnya.
Tetapi anehnya, di masa Pandemi Covid 19, saat angka kematian tinggi karena Covid 19, bisnis tikar pandan justru lesu. Sutinem mengaku, harga tikar pandan saat pandemi jatuh, dari mulanya Rp 45 ribu.
"Sekarang turun karena pandemi. Orang yang mati karena Covid 19 ternyata tidak dibungkus pakai tikar pandan, " katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/sutinem-membuat-tikar-pandan-di-rumahnya-rt-2-rw-7-desa-somawangi.jpg)