Berita Tegal
Pemkot Tegal Luncurkan Program Jo Kawin Bocah di Hari Kartini, Ini Tujuannya
Kasus pernikahan anak banyak terjadi di berbagai daerah dengan berbagai latar belakang.
Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM,TEGAL- Kasus pernikahan anak banyak terjadi di berbagai daerah dengan berbagai latar belakang.
Hal itu menjadi perhatian tersendiri bagi Pemerintah Kota Tegal.
Mengingat terdapat banyak risiko yang timbulkan akibat pernikahan tersebut.
Di tengah pelaksanaan upacara peringatan Hari Kartini ke 142, Pemkot Tegal meluncurkan program 'Jo Kawin Bocah' di Adipura Balai Kota Tegal, Rabu (21/4/2021).
Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam melakukan upaya pencegahan perkawinan usia dini.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, (DPPKBP2PA), M Afin mengatakan, perkawinan anak adalah pelanggaran dalam hak pendidikan anak menjadi susah ditempuh.
Selain itu juga membuat kesempatan berkreativitas terhambat.
Ia mengatakan, pernikahan anak harus menjadi perhatian semua pihak.
Karena hal itu juga menyebabkan anak masuk pada lingkaran kerentanan ekonomi dan memungkinkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga.
Baik secara fisik maupun psikis.
“Dengan adanya program Jo Kawin Bocah, kami berharap semoga tidak ada lagi pengajuan dispensasi nikah anak di Kota Tegal,” katanya dalam rilis yang diterima tribunjateng.com.
Sementara itu, Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono dalam sambutannya menyampaikan, bahwa saat ini yang dibutuhkan adalah hubungan dan perlakuan yang setara dan adil.
Bukan sama rata, bukan juga saling mendominasi dan membebani.
Oleh karena itu, Pemkot Tegal terus mengupayakan agar warga Kota Tegal baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan mengaktualisasikan diri, mengembangkan diri dan memajukan diri.
Dedy Yon juga menggarisbawahi bahwa pada intinya emansipasi adalah sebuah upaya yang dilakukan untuk memuliakan perempuan dan laki-laki.
Hal tersebut dilakukan agar sebagai manusia semuanya dapat menjaga harkat, derajat dan martabat masing-masing.
Semua mengetahui, memahami dan melaksanakan serta menerima hak dan kewajibannya masing-masing.
“Saya harapkan setelah ini tidak ada lagi laki-laki yang merendahkan perempuan, tidak ada lagi perempuan yang berusaha mengalahkan laki-laki. Lakukan kewajiban dan hak kita sesuai peran dan porsi kita masing-masing. Jangan ada diskriminasi terhadap siapapun,” ungkapnya. (*)