Berita Semarang
Menilik Pengolahan Bubur India, Kuliner Khas Ramadan di Semarang yang Legendaris
Tidak semua tempat menyajikannya, bubur india hanya ada di Masjid Jami Pekojan jalan Petolongan nomor 1 Purwodinatan, Semarang Tengah.
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: m nur huda
Resep bubur india telah diwariskan kepada Ahmad sejak tujuh tahun lalu.
Meski secara turun-temurun dalam keluarganya sebagian besar menjadi pengurus masjid, namun kata Ahmad, baru dirinyalah yang diberi tanggungjawab menjadi koordinator juru masak.
Menurutnya, tidak sembarang orang bisa mengemban tugas menjadi juru masak bubur india.
Hal itu karena kata dia, selain bermodalkan keikhlasan, tidak semua orang mampu menaklukkan tungku dengan api besar yang menyala-nyala.
Setiap hari dalam sebulan itu Ahmad hanya dibantu Taskirin, takmir masjid lainnya.
Sementara penyiapan bahan lengkap dengan beraneka bumbu, Ahmad dibantu oleh ibu-ibu warga Pekojan.
"Penyiapan bahannya, ibu-ibu yang melakukan.
Namun untuk pengolahan hanya dua tenaga, saya dan Pak Kirin karena tidak semua orang bisa tahan dengan bara api dan asapnya.
Selain itu juga agar penanggungjawabannya mudah," kata warga yang juga merupakan keturunan Gujarat tersebut.
Kemampuan Ahmad dalam memasak bubur india memang sudah tidak diragukan lagi.
Kepulan asap yang keluar dari tungku dan hawa panas yang menyengat hingga ke pori-pori tak lantas membuat kakek lima cucu ini menjauh dari perapian.
Sebaliknya, dengan keberanian dan tekad kuatnya menjadi juru masak bubur india hingga akhir hayat, ia mampu menguasai dapur terbuka itu hingga berjam-jam lamanya.
Dimulai sejak pukul 11.00 WIB, Ahmad memulai peraduannya di depan tungku.
Disulutkannya api di atas tumpukan kayu hingga api menyala-nyala dan dipercikkannya air jika api mulai merambat keluar area tungku.
Di sana, Ahmad mulai memasak air yang telah bercampur dengan santan atau disebutnya air cewer, yakni air santan yang tidak kental.