Tadarus

TADARUS DR Ns Jebul Suroso: Protokol Kesehatan dan Hidup Sehat Berdampingan

Bila seluruh virus dikumpulkan dari semua pasien yang terifeksi, maka cukup ditempatkan pada botol seukuran 330 ml. Seukuran botol air mineral.

Editor: iswidodo
tribunjateng/ist
DR. Ns Jebul Suroso SKp MKep | Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto 

Ditulis oleh DR. Ns Jebul Suroso SKp MKep | Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto

TRIBUNJATENG.COM - Untuk kali kedua kita melaksanakan ibadah Ramadan bersama pandemi Covid-19. Dibandingkan situasi Ramadan tahun lalu, kali ini lebih longgar. Sudah bisa menyaksikan mobilitas manusia dan barang, meskipun dibatasi dengan protokol kesehatan.

Pembatasan menjadi suatu keharusan agar bisa hidup berdampingan dengan virus Covid-19. Pembatasan ini dituangkan dalam protokol. Hampir semua kegiatan manusia dan barang dibuatkan protokolnya.

Protokol ini harus dipatuhi setiap orang tanpa terkecuali. Apakah ia rakyat jelata, aparat, atau penguasa. Semua harus melaksanakan protokol dengan kesadaran tinggi dan bertanggungjawab.

Tidak seorang pun menduga, sebelumnya wabah ini hanya menyebar di Wuhan, Tiongkok. Jarak Indonesia ke Wuhan, Tiongkok, sekitar 3.400 km. Sangat jauh.

Teknologi transportasi memudahkan pergerakan manusia dan barang dari satu titik ke titik lainnya dalam waktu cepat. Namun, terdapat pendompleng yang wujudnya tidak kelihatan secara kasat mata karena berukuran 80-120 nanometer. Namanya Covid-19.

Orang awam tidak paham sebesar apa nanometer ini. Termasuk saya, yang berlatar perawat.

Mungkin penjelasan seorang ahli matematika bisa membuat kita membayangkan dahsyatnya virus ini. Diestimasikan jumlah orang yang terinfeksi sebanyak 3 juta per hari di seluruh dunia. Setiap orang yang terinfeksi ini dihinggapi sekitar 1 – 100 miliar partikel virus pada fase puncak infeksinya.

Bila seluruh virus dikumpulkan dari semua pasien yang terifeksi, maka cukup ditempatkan pada botol seukuran 330 ml. Seukuran botol air mineral.

Bisa kita bayangkan, virus yang hanya sebanyak sebotol air mineral mampu menghentikan aktivitas manusia di bumi. Dasar penghentian kegiatan manusia terjadi pada Kamis, 30 Januari 2020, dimana World Health Organization (WHO) menyatakan peningkatan status penanganan wabah tersebut menjadi Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau darurat kesehatan global.

Manusia adalah makhluk mulia. Kemuliaan itu ditandai dengan adanya akal. Hanya manusia sebagai makhluk yang berakal.

Dengan akalnya, manusia mampu mengubah dunia menjadi lebih efisien dan efektif. Dengan akal pula mampu membuat sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Misalnya, sekarang manusia bisa berpergian ke mana pun dengan pesawat terbang, yang ukurannya bisa disesuaikan dengan kebutuhannya.

Dengan akal pula seharusya manusia menyikapi pandemi ini. Mempergunakan akalnya sesuai dengan latar belakangnya. Sejalan dengan perintah Allah Swt dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (Qs. Al-Baqarah (2): 164)

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved