Tadarus

Puasa dan Teori Sigmun Freud

Dengan laku lapar dan dahaga, puasa merupakan alat untuk mendekatkan diri kepada Allah, sekaligus untuk memenuhi kebutuhan spiritual manusia.

Editor: rustam aji
istimewa
Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd | Rektor Univiversitas Muhammadiyah Semarang 

Oleh Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd | Rektor Univ. Muhammadiyah Semarang

KEHADIRAN bulan Ramadan setiap tahun dalam kalender hijriyyah, merupakan anugerah dan kasih sayang dari Allah swt kepada umat muslim. Selain di dalam bulan ini Allah menurunkan berbagai keistimewaan sebagai wahana motivasi bertaqwa, juga terdapat perintah menjalankan ibadah puasa selama sebulan lamanya.

Dengan laku lapar dan dahaga, puasa merupakan alat untuk mendekatkan diri kepada Allah, sekaligus puasa pun merupakan wahana untuk memenuhi kebutuhan spiritual manusia. Dalam lapar dan dahaga yang dilandasi keikhlasan, tumbuh keindahan spiritual yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Kita akan merasakan lebih khusyu dan tawaddlu ketika melaksanakan sholat dzuhur, ketika perut dalam keadaan lapar, melaksanakan ibadah puasa, dari pada melaksanakan shalat saat selesai menyantap makan siang di luar bulan suci Ramadan.

Sementara ini dalam kehidupan sehari-hari, kita kerapkali hanya terbelenggu pada keinginan-keinginan biologis belaka yang memerlukan pemuasan sesegera mungkin (immediate gratification). Meminjam teori Sigmund Freud, kebutuhan itu hanya terjadi pada fase kekanak-kanakan. Freud membagi tiga tahap perkembangan kenikmatan anak-anak, yang semuanya bersifat kongkrit, biologis, dan pemenuhannya sesegera mungkin.

Pada masa awal, letak kenikmatan itu ada di mulut (periode oral). Anak-anak menemukan kenikmatannya ketika memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Oleh karena itu sedang apa pun seorang anak, dia akan mencoba meraih benda di sekitarnya untuk dimasukkan ke mulutnya. Jika tidak diperoleh benda, maka dia akan memasukkan tangannya sendiri. Tahap kedua, pusat kenikmatan itu bergeser pada daerah sekitar anus (fase anal). Dia beroleh kenikmatan ketika buang air besar, bahkan dia merasa nikmat melihat tumpukan kotorannya sendiri yang banyak, sambil dipermainkan. Tidak heran jika seorang anak betah lama-lama berada di toilet ketika sedang buang air besar.

Selanjutnya kepribadian anak berkembang lagi memasuki tahap ketiga, yaitu periode persiapan menjadi orang dewasa, bahwa pusat kenikmatan letaknya pada alat kelamin (fase genital). Dia senang mempermainkan alat kelaminnya dan memperlihatkannya pada teman sebaya. Teori Freud tersebut semuanya berupa kebutuhan fisik, tidak terdapat kebutuhan ruhaniah sedikit pun.

Sesungguhnya kebutuhan manusia terus berkembang. Semakin paripurna kepribadian seseorang semakin dia membutuhkan kepuasan-kepuasan yang bersifat filosofis dan rohaniah. Abraham Maslow menyebutnya dengan self actualization (attakaamul al ruhaani) sebagai kebutuhan tertinggi.

Kehidupan modern dengan segala kemajuannya kerapkali menciptakan perangkap terjadinya fiksasi kepribadian. Banyak orang dewasa yang terhambat kepribadiannya hanya pada kebutuhan pemenuhan oral atau genital saja, yaitu makan, minum, seks.

Perbedaannya makan dan minum itu diubah dalam bentuk simbol seperti kepemilikan harta benda yang melimpah. Mereka merasa nikmat ketika mengamati angka-angka buku tabungan dan deposito atau mengamati barang-barang mewah di rumahnya kendatipun jarang memakainya. Institusi-institusi modern pun segera dibuat untuk memenuhi kebutuhan itu; makan, minum, belanja, dan seks.

Dalam konteks ini, perintah puasa Ramadan seperti yang tersurat dalam Al Baqoroh 183, merupakan sebuah bentuk kasih sayang Allah. Kasih sayang untuk mengontrol manusia agar tidak terjebak hanya pada kebutuhan fisik belaka yang bersifat fana. Puasa mengantarkan pencerahan hakekat kemanusiaan hakiki, yang memang Allah tanamkan pada diri manusia, sejak kelahirannya.

Banyak nilai yang dapat dipetik dari ibadah puasa ini, sebagai upaya pendidikan karakter.Pertama, adalah jiwa ikhlas. Ikhlas berarti beramal semata-mata karena mengharap ridlo Allah swt. Puasa merupakan ibadah yang tidak dapat dipertontonkan pada orang lain. Kelelahan fisik, kelesuan, mata cekung, bibir yang kering bukan menunjukkan puasa saja. Puasa hanya dapat dijalankan dengan ikhlas. Karena itu orang melakukannya tidaklah karena tendensi manusia, tidak karena mendambakan kekayaan, tidak pula ditujukan untuk mempertahankan kedudukan.

Dalam puasa orang dididik bahwa keridhaan Allah lebih besar daripada dunia dengan segala isinya. Waridlwanun MinaLLahi Akbar (QS 9:72). Kedua, pembersihan diri. Dalam menjalankan ibadah puasa seorang muslim dididik untuk menghindarkan diri dari segala perbuatan tercela.

Ia mengendalikan lidahnya supaya tidak mengeluarkan kata-kata keji dan menyinggung orang lain. Bahkan jika dia dicemoohkan sekali pun, nabi menyuruh kita untuk berkata Inni shooimuni (Saya sedang berpuasa). Ia mengendalikan telinganya, pandangannya, seluruh anggota badannya, bahkan getaran hatinya.

Pada suatu hadits diceritakan; ketika di suatu siang di bulan Ramadan, ada seorang sahabat perempuan yang memaki-maki pembantunya, Rasulullah menyuruh sahabat yang lain untuk membawakan makanan, dan menyuruhnya sahabat wanita tersebut untuk memakannya. Namun sahabat wanita tersebut berkata bahwa sedang berpuasa. Mendengar jawaban tersebut nabi yang mulia bersabda;

“Bagaimana mungkin kamu berpuasa padahal kamu mencacimaki pembantumu. Sesungguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela. Betapa sedikitnya orang yang berpuasa, dan betapa banyaknya orang yang kelaparan”. Pada kalimat terakhir tersebut, nabi ingin menunjukkan bahwa banyak sekali orang yang berpuasa tetapi tidak memperoleh apa-apa kecuali lapar dan dahaga.

Taqwa sebagai tujuan akhir dari ibadah puasa, tidak akan dapat dicapai tanpa proses pembersihan diri. Cahaya ruhaniah tidak akan mampu menembus hati yang dipenuhi dengan dosa dan maksiat. Ketiga, Ikhsan. Melalui puasa pula seorang muslim diajarkan untuk selalu membiasakan diri berbuat baik. Berbuat baik kepada Allah melalui disiplin ibadahnya; setiap saat digerakkan bibir dan lidahnya untuk berdzikir dan membaca Al Quran, ditegakkan kakinya untuk shalat malam, dipenuhinya waktu sahur dengan istighfar. Selain itu juga berbuat baik kepada sesama makhluk Allah; dibiasakannya memperbanyak sedekah, menolong orang lain, menggembirakan yang susah, dan meringankan beban yang berat, akan membentuk karakter orang yang memiliki jiwa paripurna. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved