Kamis, 7 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Sragen

Kisah Horor Relawan Pemakaman Covid di Sragen Kaget Lihat Bambu Pembawa Jenazah Gerak-gerak Sendiri

Menjadi relawan pemakaman Covid-19 memang tidak mudah, tidak hanya tenaga namun juga pikiran hingga waktu.

Tayang:
Istimewa/PMI Sragen
Relawan Gabungan Pemakaman Covid-19 Sragen ketika melakukan pemakanan jenazah Covid-19 

Penulis : Mahfira Putri Maulani

TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN – Menjadi relawan pemakaman Covid-19 memang tidak mudah, tidak hanya tenaga namun juga pikiran hingga waktu. Terlebih ketika harus bertugas ketika di momen Lebaran.

Para relawan harus pintar-pintar menjelaskan kepada keluarga dan orang-orang terdekat, ketika mereka harus tiba-tiba pergi untuk melakukan pemakaman Covid-19.

Berbagai pengalaman telah dialami para relawan karena waktu pemakaman kadang pagi, siang bahkan dini hari atau menjelang waktu sahur.

Bahkan ada pengalaman yang di pengalaman di luar penalaran manusia, seperti dialami relawan ini.

Pengalaman itu terjadi saat  pemakaman pada malam hari, kadang membuat merinding para relawan.

Seperti bambu yang digunakan untuk pemakaman bergerak sendiri.

"Pengalaman ketika malam hari pernah ada bambu yang biasa digunakan untuk mengangkat peti berbunyi glodak-glodak seperti ada yang menggerakan," kata Anung Sukiantoro, relawan dari SAR MTA.

Suara tersebut lantas tak membuatnya dan para relawan lari terbirit-birit ketakutan. Mereka justru menghiraukan dan melanjutkan prosesi pemakaman.

Seperti yang dirasakan, Edi Bagus Pragiyanto. Dia mengaku di hari kedua Lebaran kemarin melakukan dua pemakaman Jenazah Covid-19 di tempat yang berbeda.

"Pemakaman jenazah Covid-19 tidak mengenal momen. Pada hari kedua Idul Fitri kemarin para relawan memakamkan jenazah terkonfirmasi Covid-19 di dua tempat berbeda," kata Bagus alias Cacing.

Relawan PMI Sragen itu mengaku ikhlas melaksanakan aksi sosial itu, meski seharusnya harus berkumpul dengan keluarga di momen lebaran.

"Kami laksanakan tugas kemanusiaan ini dengan ikhlas, meski seharusnya kami berkumpul bersama keluarga. Tapi demi membantu keluarga yang sedang berduka dan mensegerakan hak-hak si jenazah," paparnya.

Tidak hanya momen Lebaran, dirinya juga mengaku melakukan pemakaman ketika bulan ramadan kemarin, ketika dirinya dan para relawan berpuasa.

Seperti kita tahu pemakaman jenazah Covid-19 jelas berbeda dengan pemakaman biasa. Petugas harus menggunakan APD lengkap dari baju hazmat, sarung tangan lateks, masker, kacamata pelindung hingga sepatu boot.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved