Berita Sragen
Kisah Horor Relawan Pemakaman Covid di Sragen Kaget Lihat Bambu Pembawa Jenazah Gerak-gerak Sendiri
Menjadi relawan pemakaman Covid-19 memang tidak mudah, tidak hanya tenaga namun juga pikiran hingga waktu.
Penulis: Mahfira Putri Maulani | Editor: Catur waskito Edy
Menggunakan APD tersebut saja membuat para relawan merasa sangat panas. Belum ditambah pemakaman jenazah Covid-19 pada siang hari, ketika berpuasa.
Seperti yang disampaikan Niko Armando Reza Prima Jaya, Komandan Relawan (KSR) PMI Sragen. Dia mengaku menjadi relawan tidak ada dukanya, namun dirinya tidak menampik akan terasa cukup berat ketika berpuasa.
"Tidak ada dukanya, karena sejak awal kami bergabung menjadi tim pemakaman Covid-19 dengan niat membantu. Memang diakui paling berat adalah saat bulan ramadan dan pemakaman pada siang hari."
"Mungkin bisa membayangkan siang hari terik kami harus memakai baju hazmat dan melaksanakan pemakaman," terang Reza sapaan akrabnya itu.
Ketika bulan ramadan kemarin, dia mengaku dalam sehari bisa melakukan pemakaman dua hingga tiga kali ditempat berbeda. Sementara dirinya dan teman-temen harus tetap menjalankan kewajiban ibadah puasa.
Reza mengaku teman-teman relawan selalu berusaha bahagia, menurutnya bahagia adalah merupakan salah cara untuk meningkatkan immune tubuh.
Permintaan pemakaman tidak mengenal waktu bisa pagi, siang, atau malam, dini hari bahkan subuh pun akan mereka sanggupi. Sering para relawan melaksanakan sahur setelah memakamkan ketika ramadan.
Pengalaman pemakaman pada malam hari kadang membuat merinding para relawan. Seperti bambu yang digunakan untuk pemakaman bergerak sendiri.
"Pengalaman ketika malam hari pernah ada bambu yang biasa digunakan untuk mengangkat peti berbunyi glodak-glodak seperti ada yang menggerakan," kata Anung Sukiantoro, relawan dari SAR MTA.
Suara tersebut lantas tak membuatnya dan para relawan lari terbirit-birit ketakutan. Mereka justru menghiraukan dan melanjutkan prosesi pemakaman.
Anung sendiri merupakan relawan asal Sragen yang bergabung menjadi relawan Covid-19 di RSD Moewardi Solo, sejak awal Pandemi Covid-19 masuk di Indonesia tahun lalu.
Dia mengaku sering mengantar jenazah Covid-19 ke wilayah Sragen, sekaligus ikut menjadi tim pemakaman karena saat itu di Sragen belum ada relawan yang bergerak.
"Awal mula ikut relawan juga spontan, karena ada jenazah terkonfirmasi Covid-19 dari RSUD Sragen. Kebetulan ada permintaan yang disampaikan dari PSC 119 Sragen, akhirnya terbentuklah relawan gabungan pemakaman hingga saat ini," katanya.
Sebagai relawan, dirinya menitip pesan kepada masyarakat agar tetap patuh protokol kesehatan. Mengingat Pandemi Covid-19 di Indonesia terlebih Sragen belum berakhir. (uti)
Baca juga: Kebakaran di Sam Poo Kong Semarang, Disebut Berasal dari Rumah Lilin
Baca juga: Tampil di Acara Televisi Jepang, Dewi Soekarno Promosikan Keindahan Pulau Iriomote di Okinawa
Baca juga: Operasi Pencarian Korban Kedung Ombo Resmi Ditutup, Niken Telah Ditemukan Pagi Tadi
Baca juga: Buntut Kasus Antigen Bekas di Bandara Kualanamu Medan, Erick Pecat Semua Direksi Kimia Farma
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/relawan-pemakaman-covid-sragen.jpg)