Opini
OPINI: Mudik dan Mengambinghitamkan Tradisi
OPINI: Mudik dan Mengambinghitamkan Tradisi. Ditulis oleh DR. Nugroho Trisnu Brata, Pengajar Sosiologi-Antropologi FIS Unnes
Bahwa tradisi tidak berbeda dengan kemoderenan. Tradisi harus memiliki sifat luwes dan cair sehingga bisa terus menjaman. Tradisi tidak absolut melainkan situasional. Tradisi memberikan tata transenden yang menjadi orientasi baku untuk melegitimasi tindakan manusia.
Tradisi itu tidak selalu berasal dari nenek moyang di jaman dulu. Tradisi itu bisa dibuat oleh masyarakat pada masa kini kemudian dilaksanakan/dipraktekkan di waktu waktu selanjutnya. Misalnya tradisi karnaval budaya untuk alasan wisata juga telah dibuat dan dilaksanakan di berbagai kota atau tempat. Mengadakan pertunjukan wayang kulit dalam ritual merti desa (bersih desa) yang sebelumnya tidak dilakukan oleh masyarakat suatu desa kemudian menjadi tradisi baru yang disepakati untuk diulang diwaktu yang akan datang.
Tradisi memakai helm bagi pengendara sepeda motor adalah tradisi baru dalam berlalu-lintas di Indonesia pada tahun 1990-an awal. Tujuan helemisasi adalah untuk meminimalkan resiko kecelakaan bagi pemotor jika jatuh, yaitu melindungi kepala. Namun penerapannya tidak mudah, bahkan ditolak dengan demonstrasi oleh kalangan mahasiswa. Dengan perangkat UU Lalu lintas tahun 1992 beserta sanksinya maka tradisi memakai helm bisa diterima masyarakat dan berlangsung hingga saat ini.
Kebiasaan Baru
Tradisi memakai masker, sering mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak fisik juga menjadi tradisi baru di era merebaknya pandemi covid 19 di tahun 2020 sampai 2021 ini. Sebelumnya kebiasaan tersebut terlihat aneh dan perilaku menyimpang, namun sekarang sudah menjadi tradisi di masyarakat.
Jika tradisi dilihat sebagai ekspresi atau perwujudan kebudayaan maka di sini tradisi mudik lebaran dan ziarah kubur telah di-remaking (dibentuk kembali, dibuat lagi, dilahirkan kembali atau direproduksi) oleh pemilik kuasa yaitu pemerintah untuk menghambat penyebaran covid 19.
Tradisi (Latin= tradere) yang berarti mewariskan atau menurunkan, dalam hal ini adalah tradisi bertemu dengan kerabat dan leluhur melalui mudik virtual lewat media sosial, dan menunda ziarah kubur untuk waktu yang belum ditentukan. Inilah gambaran tradisi baru di jaman virtual atau dunia maya. Bahwa tradisi itu harus luwes dan bisa menjaman, sebagai strategi untuk beradaptasi dengan dinamika kehidupan yang terus berjalan sehingga manusia bisa melangsungkan hidupnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/dr-nugroho-trisnu-brata.jpg)