Breaking News:

Juru Kunci Makam Kiai Dudo Pastikan Tradisi Bulusan Tanpa Kirab

Pelaksanaan kirab untuk memeriahkan tradisi Bulusan akan berlangsung secara sederhana di Kudus.

Istimewa
Sejumlah PKl yang menggelar lapak untum tradisi Bulusan. Sementara itu, tradisi Bulusan di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo pada tahun ini tanpa ada keramaian Pedagang Kaki Lima. 

Penulis: Muhammad Yunan Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS-Pelaksanaan kirab untuk memeriahkan tradisi Bulusan di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus akan berlangsung secara sederhana.

Tradisi yang dirayakan saban lebaran ketujuh itu akan diselenggarakan tanpa ada kirab dan keramaian, seperti tiga tahun lalu. Hal itu untuk tidak memancing orang-orang berkerumunan karena saat ini pandemi Covid-19. 

Juru kunci makam Mbak Duda, Sirojudin mengatakan, semua pedagang yang akan mremo untuk acara tradisi Bulusan sudah disuruh bongkar. Kepala desa dan camat sudah menemuinya untuk berkoordinasi terkait pelaksanan Bulusan.  

Di sekitar area lokasi makam, kata dia, juga sudah dipasangi pengumuman pelarangan berjualan di obyek wisata Bulusan.

"Besok tidak ada kirab. Masyarakay yang ingin ziarah tidak boleh rama-ramai. Terbatas," kata Sorijudin kepada Tribun Jateng, Selasa, (18/5/2021).

Kendati demikian, Sirojudin mengungkapkan pelaksanaan tradisi Bulusan ini tetap berjalan. Pada Rabu malam akan ada tahlil hang diikuti perangkat desa. Dan pada keesokan harinya tidak ada kirab. 

Dikatakan Sirojudin, Tradisi Bulusan berangkat dari cerita turun-temurun. Bahwa pada malam Nuzulul Quran dua  Umara dan Umari santri Kiai Mbah Duda sedang menanam di saaah. Lalu Sunan Muria lewat di daerah tersebut dan mengetahui ada sejumlah santri bekerja malam saat Ramadan. Kemudian mereka diajak ke masjid tapi mereka memilih menyelesaikan pekerjaannya.

Sunan Muria nyeletuk "orang kok kayak bulus." Kemudian mereka berubah menjadi bulus.

Kia Mbah Duda meminta maaf atas kejadian tersebut kepada Sunan Muria. Tapi Sunan Muria tidak bisa mengembalikan ke wujud asal dua santri Kiai Duda. Kemudia Sunan Muria menancapkan tongkat di sana dan mengalir air. Lalu di daerah tersebut dinamakan Dukuh Sumber.

Mbah Duda kemudian meminta saban 7 Syawal meminta doa untuk mendoakan santrinya.

Penulis: Muhammad Yunan Setiawan
Editor: Daniel Ari Purnomo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved