Berita Jawa Tengah
Silaturahmi Kebangsaan LDII Jilid I, MUI Jateng: Budaya Saling Memaafkan Cegah Perpecahan Umat
Menurut Islam, umat Islam ini ibarat satu tubuh, jika ada salah satu bagian yang sakit, maka semuanya ikut sakit.
Penulis: Catur waskito Edy | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Menurut Islam, umat Islam ini ibarat satu tubuh, jika ada salah satu bagian yang sakit, maka semuanya ikut sakit. Seperti bangunan satu yang masing-masing komponen saling menguatkan.
Itulah pesan tausyiah Ketua MUI Jateng, DR KH Ahmad Darodji MSi dalam acara Silaturahim bertema kebangsaan bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila DPW LDII Jateng di Ruang Guntur Hotel Grasia Semarang Jawa Tengah, Selasa (1/6/2021).
DPW LDII Jateng mengangkat tema "Budaya saling memaafkan, dengan tujuan memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Perhelatan ini juga kembali mengangkat nilai luhur Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Ketua MUI Jateng heran dan sangat memahami sebagaian masyarakat saat suka mencari bad news is a good news padahal itu sebagian besar konflik yang berkepanjangan.
"Maka saya mengingatkan agar tidak terpancing ikut berkonflik, agar manusia khususnya umat Islam tidak ikut dalam arus tersebut. Ia menegaskan, bukan hanya zoon politicon saja, tapi seperti bangunan yang satu.
Maka KH Ahmad Daroji mengapresiasi budaya memaafkan yang menjadi tema utama acara ini. Ganjalan psikologis jika saling memaafkan maka tidak akan terjadi.
“Budaya minta maaf ini betul, Prof (Singgih). Karena setelahnya akan timbul ikhlas antar sesama,” katanya.
Budaya memaafkan ini yang merupakan ciri khas bangsa Indonesia, Islam yang dikembangkan adalah Islam Nusantara. Islam sejatinya mengajarkan hidup selaras, serasi, dan seimbang. Ini salah satu bentuk bagaimana hubungan manusia kepada Allah dan juga kepada sesama manusia,” tegas KH Ahmad Darodji.
KH Ahmad Darodji mengingatkan, jika umat Islam diibaratkan sebagai satu jasad yang utuh. Yang mana, apabila asa satu bagian yang sakit. Semua akan ikut merasakan sakit. "Kita itu diibaratkan Nabi Muhammad seperti satu jasad yang satu. Kalau ada bagian yang sakit semuanya ikut merasakan sakit. Artinya saling menguatkan satu sama lain," imbuhnya.

Sebelumnya dalam sambutannya, Ketua DPW LDII Jawa Tengah, Prof DR Singgih Tri Sulistiyono MHum menyampaikan bahwa dalam menghadapi konflik yang mengarah pada divided nation yakni dengan saling memaafkan. Singgih juga berharap melalui acara ini, dapat mempererat tali persaudaraan. Dengan memaafkan, perpecahan dapat dihindari.
“Salah satu inti yang bisa dijadikan formula adalah sikap saling memaafkan yang perlu menjadi budaya. Semua bibit perpecahan atau kekerasan dapat dicegah dan diselesaikan,” kata Singgih.
Seperti diketahui saat ini pada level nasional atau internasional, umat Islam sedang mengalami konflik berkepanjangan, baik antar muslim itu sendiri atau dengan umat lain.
Seperti yang terjadi di Suriah dan Palestina, juga persoalan suku Uighur yang wilayahnya berada dalam kekuasaan pemerintah China.
Di media massa juga masih ada kekerasan. Perpecahan di mancanegara itu, jangan sampai terjadi di Indonesia, sebagaimana harapan para founding fathers.
“Padahal justru perbedaan itulah yang menjadikan kita sebuah bangsa, yakni sadar bahwa ada persamaan. Jika sekarang, perbedaan itu justru dijadikan alasan untuk berkonflik, maka hal ini bertentangan dari para founding fathers,” katanya.