Berita Regional
Pantas Harga Mie Instan di Puncak Bogor Mahal, Karyawan Tulis Harga Dalam Kondisi Mabuk
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Puncak, Bogor, Teguh Mulyana telah meminta penjelasan pengelola Kedai Rizqi Maulana terkait harga mi rebus
TRIBUNJATENG.COM - Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Puncak, Bogor, Teguh Mulyana telah meminta penjelasan pengelola Kedai Rizqi Maulana terkait harga mi rebus yang tak wajar hingga viral di media sosial.
Dari penjelasan pihak pengelola, pegawai yang melayani pembeli saat itu dalam keadaan mabuk sehingga salah menuliskan nominal harga.
"Sudah diklarifikasi sama kita dan dibenarkan pihak pengelola bahwa pegawainya dalam keadaan mabok malam itu," ujar Teguh, sebagaimana dikutip dari Kompas.com lewat sambungan telepon, Kamis (3/6/2021).
Baca juga: Line Up Susunan Pemain Timnas Indonesia Vs Thailand, Kick Off 23.45, Live Streaming di Sini!
Baca juga: Yoga Pemuda Klaten Telanjang di Atas Motor Ditangkap: Kalah Taruhan Chelsea Vs Manchester City
Baca juga: Inilah Sosok Heri Purwanto Pemotong Kepala Wanita yang Pamit ke Suami Beli Susu Ternyata Open BO
Baca juga: Wegah, Wegah! Teriak Bunga Bocah SD Wonogiri Bikin Kakek Curiga, Ternyata T Pernah Menidurinya
Teguh mengatakan, pegawai tersebut dalam keadaan tidak sadar saat menghitung pembayaran pada malam itu.
Teguh yang juga menaungi paguyuban pedagang di Puncak Bogor ini meluruskan, tak ada niatan pengelola kedai untuk mendapatkan keuntungan besar atau menipu wisatawan.
Menurut dia, kejadian yang dialami wisatawan itu murni karena sumber daya manusia (SDM) di Kedai Rizqi Maulana tak berkompeten.
Dari hasil pemantauan petugas, harga untuk satu porsi mi rebus telur sebenarnya sudah sesuai yakni Rp 18.000.
Namun, pada malam itu, si pegawai kedai menulis dengan harga Rp 54.000.
Karena itulah, si wisatawan merasa dirugikan karena harga mi rebus terlampau mahal dan tidak wajar.
Padahal, seharusnya dua porsi seharga Rp 36.000.
Atas kejadian ini, pihak pengelola kedai juga telah bersedia mengembalikan selisih harga makanan sebagai bentuk tanggung jawab dan permintaan maaf kepada wisatawan tersebut.
"Ini SDM-nya enggak bagus. Ini harus orang jeli dan matematikanya jangan amburadul kayak begini," ucapnya.
Teguh menambahkan, pihaknya belum mengetahui apakah akan ada sanksi kepada pengelola kedai.
"Kata polisi belum mendapat laporan, kalau ada itu masuknya pemerasan. Kalau sanksi nanti saya yang ngurus dan akan membuat standarisasi harga makanan di Puncak," ungkapnya.
Agar kasus serupa tidak terulang, pihaknya akan bekerja sama dengan camat, desa, polisi, TNI untuk membina pedagang yang ada di jalur Puncak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/tarif-makanan-yang-dijajakan-di-salah-satu-kedai-di-jalan-raya-puncak.jpg)