Pendidikan
UPT Pengembangan Konservasi Unnes Budidaya Maggot Atasi Masalah Sampah Organik
Berbagai cara mengolah sampah terus dilakukan, di antaranya dengan mengubahnya menjadi kompos sebagai media tanam dan lainnya.
Penulis: m zaenal arifin | Editor: moh anhar
Penulis: M Zainal Arifin
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Permasalahan tentang sampah menjadi isu yang tak kunjung selesai.
Berbagai cara mengolah sampah terus dilakukan, di antaranya dengan mengubahnya menjadi kompos sebagai media tanam dan lainnya.
Cara yang paling baru adalah menggunakan maggot, yaitu larva dari lalat tentara hitam (black soldier fly/BSF), yang memakan sampah, sekaligus menjadi budidaya.
Seperti yang dilakukan UPT Pengembangan Konservasi Universitas Negeri Semarang (Unnes), sampah organik, selain diolah menjadi kompos juga digunakan sebagai pakan maggot yang memiliki nilai jual tinggi untuk pakan ternak.
Kepala UPT Pengembangan Konservasi Unnes, Prof Amin Retnoningsih, menjelaskan budidaya maggot di Unnes dilakukan di tempat pengelolah sampah terpadu (TPSP) untuk mengatasi persoalan sampah yang ada di kampus daerah Sekaran, Gunungpati ini.
"TPSP ini menjadi peran serta Unnes untuk menjaga konservasi lingkungan. Bagaimana kita mengolah sampah dengan menjadikan kompos dan budidaya Maggot," katanya, dalam keterangannya, Kamis (3/6/2021).
Baca juga: Sekolah Pembelajaran Tatap Muka Diizinkan, Pelaksanaan PAT Wajib Terapkan Protokol Kesehatan
Baca juga: Kecelakaan Maut Motor Ninja Boncengan 3 Orang di Mojokerto, 1 Meninggal
Baca juga: Catat, Ada Agenda Festival Kopi dan Festival Ngapak di Purbalingga
Penggunaan maggot, kata dia, digunakan untuk mengatasi permasalahan sampah organik untuk mengurai sampah daun yang ada di Unnes.
Total produksi sampah daun di Unnes, katanya, sekitar 12 ton atau 90 persen dari jumlah total sampah.
"Jumlah pohon di Unnes ini kan sangat banyak, nah daun sampah ini diolah untuk menjadi pakan maggot," jelasnya.
Maggot sendiri merupakan sebutan lain dari belatung atau larva dari black soldier fly (BSF). Daun kering yang sudah diolah tadi kemudian diurai menjadi pakan maggot yang diketahui memiliki protein sangat tinggi dan bisa digunakan sebagai pakan ternak.
"Di satu sisi kita bisa mengatasi pengolahan sampah organik, disisi lain kita juga mendapatkan keuntungan penjualan maggot," tambahnya.
Amin menjelaskan sampai saat ini produksi maggot dalam setiap bulannya mencapai 200 kilogram.
Dirinya memprediksi jika produksi maggot ke depan akan semakin meningkat jika perkuliahan mulai berjalan secara luring.
"Bisa saja meningkat jika sampah organik yang dihasilkan bertambah ketika perkuliahan sudah dimulai tatap muka," pungkas dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/budidaya-tentara-lalat-hitam.jpg)