Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jateng

Tekad Ganjar soal Perkawinan Anak di Jateng: Tak Hanya Turunkan, Tapi Hapuskan

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bertekad tidak hanya menurunkan angka kasus, tetapi juga menghapuskan perkawinan anak.

istimewa
Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menunjukan poster 

Penulis: Mamdukh Adi Priyanto

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Angka perkawinan anak diprediksi terus bertambah dari tahun ke tahun.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bertekad tidak hanya menurunkan angka kasus, tetapi juga menghapuskan perkawinan anak.

Harus ada upaya ekstra keras yang dilakukan pemerintah agar perkawinan anak yang berkorelasi dengan kemiskinan bisa dihilangkan.

Selain peran pemerintah, juga harus ada pemahaman kolektif mengenai bahaya pernikahan anak yang perlu dibangun semua elemen masyarakat: akademisi, masyarakat, organisasi masyarakat, dan media.

Jateng memiliki gerakan Jo Kawin Bocah yang diinisiasi Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jateng.

Baca juga: Dua Siswa SDN 1 Sokanegara Purwokerto Positif Covid-19, Pembelajaran Dilakukan Secara Daring

Baca juga: Update Virus Covid-19 Jawa Tengah Kamis 10 Juni 2021

Baca juga: Kronologi Kecelakaan Bus Sumber Selamat Vs Truk Pertamina di Sragen, Dua-duanya Melaju Kencang

Baca juga: Chord Kunci Gitar Bedo Dalane Woro Widowati Ft Evan Loss

Gerakan ini mengajak semua elemen untuk bersatu padu memberikan pemahaman bahwa pernikahan anak membawa dampak negatif yang bisa memicu persoalan ekonomi, kehamilan, dan kematian orangtua.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menyampaikan bahwa kebanyakan korban pernikahan anak adalah perempuan.

Ia pun mendengar langsung penuturan dari seorang ibu yang anaknya nikah dini lantaran hamil duluan.

"Pemerintah mempunyai regulasi. Tapi memang kalau pemerintah punya, regulasi bisa masuk kamar tidur? tidak bisa."

"Ada proses dan melibatkan banyak orang, ada Unicef, ada MUI (pemuka agama)."

"Orangtua juga punya peran penting dalam pendidikan di luar sekolah," kata Ganjar dalam acara Talkshow Gelar Expo Jo Kawin Bocah di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Rabu (9/6/2021).

Ganjar menuturkan adanya permasalahan anak menikah bukan hanya semata-mata karena keinginan, tetapi juga bisa saja situasi, hubungan orangtua yang tidak harmonis sehingga anak tidak terurus, orangtua bermasalah hukum dan sosial, serta pemahaman dan pengetahuan yang dimiliki anak.

Sehingga, ia menegaskan jika banyaknya kasus kawin anak di Jateng tinggi jangan menyalahkan anak-anak, tetapi juga orangtua.

"Jadi tidak hanya kenakalan anak-anak dan remaja, tapi kenakalan orangtua. Ya kalau kawin bocah tinggi di Jateng yang salah ya gubernurnya karena tidak mendidik, ora usah nyalahke wong (tidak perlu menyalahkan orang lain). Anak-anak butuh pemahaman melalui proses belajar, tidak hanya di sekolah tapi juga rumah dan lingkungan," tegasnya.

Dibutuhkan ruang-ruang pengaduan atau bercerita perlu dibuka seluas-luasnya agar anak bisa mendapatkan perlindungan dan mempunyai ruang untuk berkeluh kesah.

Sementara, Kepala DP3AKB Jateng, Retno Sudewi memaparkan angka perkawinan anak di Jateng cukup tinggi.

Pada 2019 ada sebanyak 2.049 kasus pernikahan anak, kemudian pada 2020 atau saat pandemi melanda meningkat drastis menjadi 12.972.

"Dari data tersebut persentasenya 87 persen anak perempuan. Tinggi sekali. Dari data tersebut kami menginisiasi gerakan bersama yang secara masif namanya Jo Kawin Bocah," jelasnya.

Gerakan ini untuk melakukan upaya pencegahan dan penanganan perkawinan anak. Karenanya, dibutuhkan sinergitas semua pihak.

Baca juga: Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun: Sukisno Kepala SMPN 2 Tlogowungu Pati Tewas Kecelakaan

Baca juga: Gofar Hilman Usia 20 Tahun Sudah Tidur dengan 100 Wanita, Pernah Kena Penyakit Kelamin

Baca juga: Reaksi tak Terduga Ganjar Saat Diprotes Pasien Isolasi Donohudan yang Bosan Menu Makan Ayam Terus

Pihaknya juga mengeluarkan buku saku yang berisi panduan untuk mensosialisasikan pencegahan perkawinan anak. Kemudian, mengkampanyekan logo Nikah Sehati (sehat, terencana, mandiri).

"Kami juga melakukan pelatihan keterampilan hidup bagi anak-anak. Ada forum genre, osis, disabilitas. Untuk mendata perempuan dan anak rentan termasuk perkawinan anak, kami buat aplikasi Apem Ketan, yakni aplikasi pemetaaan perempuan dan anak rentan. Ini sudah diuji coba di Klaten, Kota Semarang, dan Wonosobo.

Selain itu, juga mendirikan layanan terpadu atau Care Center Jo Kawin Bocah untuk pencegahan dan penanganan perkawinan anak. Siapapun bisa menggunakan layanan tersebut.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan angka kasus perkawinan anak yang tinggi bisa dicegah. Sehingga kasus bisa diturunkan dan paling tidak dihapuskan.(mam)

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved