Jumat, 29 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

OPINI

OPINI : Perempuan (Bukan) Turun Mesin

MESIN memiliki batas guna. Batas guna itu ditentukan oleh pemakaian dan durasi penggunaan. Semakin lama digunakan maka akan semakin aus dan berkurang

Tayang:
ILustrasi kosmetik(KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO) 

Oleh Tri Umi Sumartyarini

Alumni S2 Undip dan Pemerhati Iklan Kosmetik

MESIN memiliki batas guna. Batas guna itu ditentukan oleh pemakaian dan durasi penggunaan. Semakin lama digunakan maka akan semakin aus dan berkurang fungsinya.

Sebagaimana mobil, semakin lama digunakan maka semakin aus onderdil atau sparepart-nya dan fungsi berkurang, harus mengalami perawatan yang lebih intens. Akhir-akhir ini ada seorang tokoh yang mengibaratkan perempuan itu seperti mesin dengan istilah turun mesin.

Kondisi di mana perempuan tidak lagi fit seperti sedia kala setelah beberapa kali melahirkan.

Tubuh perempuan diibaratkan sebagai onderdil mesin yang performanya tidak lagi prima seperti kulit kendur, lemak yang menumpuk, selulit, stretchmark adalah layaknya mesin yang aus dan perlu diturunkan untuk diperbaiki. Maka solusinya adalah diberi pil diet, dikembalikan kekencangan elastisitas kulitnya, disusutkan kadar lemaknya.

Beragam pil diet, teh diet, susu diet, kopi diet, treatment khusus, liposuction dan operasi pun ditawarkan. Produk dengan iklannya, menawarkan perempuan yang ‘turun mesin’ itu untuk kembali fit dan menarik.

Sri Wiryanti B.U (2004) menyampaikan pada dasarnya, iklan dirancang untuk mempengaruhi, membujuk, dan memikat konsumen untuk loyal, percaya, yakin, puas, bahkan fanatik terhadap produk yang ditawarkan. Berikut ini akan kita lihat beberapa iklan produk kecantikan.

Iklan-iklan itu menunjukkan dari waktu ke waktu solusi bagi perempuan yang turun mesin. Dalam sebuah iklan, seorang model berpakaian bikini terlihat jijik menjauhi sesuatu. Kedua tangannya direntangkan ke belakang menolak tulisan “selamat tinggal kegemukan”.

Rupanya itu merupakan gambaran sebuah iklan obat pelangsing bertajuk “newshape”. Iklan tersebut terpampang di dalam majalah Intisari edisi Desember 1993.

Lemak Menumpuk

Kegemukan seolah menjadi ketakutan nomor satu bagi perempuan. Tubuh gemuk diyakini mengurangi keindahan penampilan perempuan. Lemak yang menumpuk di bagian tubuh tertentu adalah siksaan bagi perempuan dan mengganggu pandangan bagi yang melihatnya.

Selain meminum pil diet, solusi lain bagi kegemukan adalah treatment khusus seperti yang ditawarkan Marie France Bodyline. Iklan ini termuat dalam majalah Femina edisi No.36 tgl 6-12 September 2007. Kegemukan adalah problem utama setelah perempuan melahirkan. Hal inilah yang ditangkap MFB untuk menggaet konsumen gendut macam artis Arzeti.

Dalam iklan tersebut Arzeti mengaku bentuk tubuhnya berubah setelah dua kali hamil. Ia tidak mampu menurunkan berat badannya dan perutnya menjadi kendur. Setelah mengikuti program MFB yang dinamai Biothermie Plus berat badan Arzeti turun dengan cepat. Perut kendur menjadi susut dan kencang kembali.

Senada dengan MFB, WRP juga mengeluarkan produk untuk ibu yang resah akan tubuh gemuknya pasca melahirkan. Dalam majalah Femina edisi yang sama WRP New Mom menawarkan produk susunya dengan jargon susu rendah lemak dan tinggi kalsium dilengkapi dengan CLA dan collagen. Jadi, susu ini adalah nutrisi bagi ibu pasca melahirkan yang ingin langsing meskipun masih menyusui. Kandungan CLA dan collagen mampu membakar lemak dan mengencangkan elastisitas kulit tanpa mengganggu aktifitas menyusui.

Iklan Pelangsing

Menjadi gemuk adalah keniscayaan bagi ibu yang hamil dan pasca melahirkan. Hal ini alamiah karena ada janin yang tumbuh dan mengakibatkan kebutuhan nutrisi ibu bertambah.

Pasca melahirkan, tubuh perempuan pun lebih berubah lagi. Karena janin yang lahir ke dunia, kelenturan kulit dan otot menjadi kendur. Perut yang dulu langsing kini bergelambir dan banyak bekas stretchmark. Stretchmark adalah garis putih di perut biasanya muncul pada masa kehamilan dan melahirkan.

Sayangnya, dunia luar tubuh perempuan seakan tidak menerima kegemukan apapun alasannya. Tubuh perempuan belum melahirkan dan setelah melahirkan dibanding-bandingkan. Maka lazim kita mendengar istilah “body perawan” versus “body emak-emak”. “body perawan” identik dengan kemudaan, kesegaran, kencang, singset dan langsing.

Sebaliknya, “body emak-emak” adalah tubuh yang keriput, lemak menumpuk, lebar, stretchmark dan ketuaan. Kebanyakan perempuan akan sedih kalau dipanggil “ibu” di kasir perbelanjaan atau pelayanan bank. Mereka lebih senang dipanggil “mbak” karena identik dengan kemudaan, tubuh yang langsing dan kencang. Gemuk menjadi olok. Maka banyak iklan menawarkan Pelangsingan.

Begitulah beratnya menjadi perempuan. Gemuk setelah melahirkan dianggap bencana. Peran ibu yang hamil, menjaga janinnya sampai lahir dengan sehat, menyusui merawat mengasuh dan mendidik anak ternyata tidak cukup untuk dibilang cantik.

Dan lebih menyakitkan lagi, perjuangan yang bertaruh nyawa itu, masih disamakan dengan istilah turun mesin. Pengibaratan semacam ini sungguh hanya melihat perempuan sebagai fungsi tubuh dan tidak dilihat sebagai fungsi nilai, sebagai istri apalagi sebagai ibu. (*)

Baca juga: Hotline Semarang : Layanan Akte Perkawinan dan Akte Perceraian Bisa Secara Online?

Baca juga: Megawati Tanggapi Pengkritik Karya Ilmiahnya yang Sebut Dia Memuji Diri Sendiri

Baca juga: Begal Driver Ojol di Brebes Pegawai Warung Pecel Lele, Membakar Korban Terinspirasi dari Youtube

Baca juga: Hasil Euro 2020: Italia Tancap Gas Dibantu Gol Bunuh Diri Pemain Turki yang Main di Juventus

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved