Liputan Khusus
BERITA LENGKAP : Hanya 42% Tertampung di Sekolah Negeri
Siswa yang ingin masuk di SMA atau SMK Negeri diberikan waktu empat hari untuk mendaftar secara online melalui situs ppdb.jatengprov.go.id.
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Hari ini (21/6) pendaftaran PPDB online resmi dimulai hingga tanggal 24 Juni pukul 16.00 WIB. Siswa yang ingin masuk di SMA atau SMK Negeri diberikan waktu empat hari untuk mendaftar secara online melalui situs ppdb.jatengprov.go.id.
Tahap pendaftaran ini merupakan rangkaian dari PPDB Online yang sudah dimulai beberapa hari sebelumnya. Yaitu 2-8 Juni input data calon peserta didik (CPD) oleh sekolah asal, verifikasi berkas pendaftaran dan penerimaan token oleh CPD, dan 21 Juni hari ini pembukaan pendaftaran.
Untuk waktu pendaftaran secara online berlangsung hingga 24 Juni. Kemudian tanggal 25-26 Juni pemeringkatan calon peserta didik.
Tahap ini cukup menegangkan bagi CPD maupun orangtuanya. Karena nyaris tak ada waktu jeda bagi CPD yang tergeser dari urutan pemeringkatan, untuk pindah mendaftar ke sekolah lain.
Apalagi sekarang pendaftaran SMA SMK di Jateng serentak waktunya dan langsung dihandel oleh Disdik Provinsi Jawa Tengah. Dan pengumuman hasil PPDB online akan disampaikan tanggal 26 Juni. Dalam hal ini, CPD sudah langsung memilih jurusan IPA atau IPS. Tidak seperti dulu pemilihan jurusan dilaksanakan saat siswa kelas 2 SMA atau kelas XI.
Pendaftaran yang dimaksud adalah menggunakan nomor Token yang telah didapat oleh CPD setelah mengunggah sejumlah berkas ke website PPDB Online. Berkas-berkas persyaratan itu antara lain NISN, NIK, KK Orangtua, Nilai Rapor SMP/MTs, Alamat lengkap titik kordinat di peta (penentuan zonasi), Surat Keterangan Bermeterai ditandatangani orangtua calon siswa, dan lain-lain./Termasuk sertifikat prestasi CPD bila punya.
Setelah CPD punya nomor token dan bukti pendaftaran akun di PPDB Online, barulah Senin (21/6) hari ini memilih sekolah yang dituju. Semua dilakukan secara online, meski sekolah juga buka layanan konsultasi, atau kroscek data dan verifikasi secara tatap muka.
Server Tangguh
Karena pendaftaran berlangsung secara online dan serentak se Jawa Tengah maka ada kekhawatiran orangtua calon siswa server bakal down saking banyaknya orang mengakses website tersebut.
Mengantisipasi hal ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah sudah melakukan berbagai langkah untuk mencegah server down. Kabid Pembinaan SMA, Syamsudin Isnaini, mengatakan server situs ppdb.jatengprov.go.id sudah dibagi ke beberapa tempat.
Di antaranya ada di Surabaya dan Lampung. Sehingga, situs tersebut sudah mampu diakses oleh 1 juta akun atau pengguna. "Kami optimis situs PPDB online mampu diakses hingga 1 juta akun. Kami juga memiliki 14 titik pencadangan yang bisa mengatasi situs down," terangnya.
Syamsudin tak menampik masih banyak orangtua siswa yang mengeluh bahwa data siswa tidak masuk dalam sistem. Maka, dari tanggal 14-19 Juni 2021, ia bersama tim sudah melakukan verifikasi data.
"Rata-rata untuk menyinkronkan data NIK. Selain itu, ada pula data nilai rapor yang tidak sesuai juga sudah kami perbaiki. Apabila belum, calon siswa maupun orangtua bisa mendatangi sekolah terdekat. Jadi tidak perlu ke sekolah yang dituju," tambahnya.
Posko Pengaduan
Sebenarnya pihak Disdikbud Provinsi Jawa Tengah sudah membuka posko pengaduan dan konsultasi sejak awal Juni. Posko tersebut tersebar di beberapa cabang dinas yang ada di Jawa Tengah.
"Sekarang pelayanan pengaduan dan konsultasi sudah lebih dari tiga line. Satu nomor bisa tersambung ke beberapa line. Sehingga memudahkan orangtua siswa tanpa harus menuju ke kantor dinas maupun ke sekolahan. Bisa melalui Whatsapp atau telepon," ujar Syamsudin.
Usai penutupan pendaftaran, pihak penyelenggara PPDB online akan melakukan evaluasi pemeringkatan dan penyaluran hingga tanggal 26 Juni 2021. Pengumuman siswa diterima atau tidak juga disampaikan pada 26 Juni 2021.
Hanya 42% Tertampung
Mengenai jatah zonasi atau prosentasi kuota bagi calon siswa berprestasi juga sudah ditetapkan.
"Jalur prestasi kami berikan kuota sebesar 20 persen, 15 persen untuk siswa miskin, dan 5 persen untuk anak tenaga kesehatan. Itu juga kami prioritaskan karena sebagai bentuk apresiasi pemerintah terhadap tenaga kesehatan yang telah berjibaku melawan covid," imbuh Syamsudin.
Sebenarnya tidak semua siswa lulusan SMP Sederajat bisa tertampung di SMA/SMK Negeri Sederajat. Sebab, seluruh SMA/SMK Negeri se-Jawa Tengah hanya mampu menampung 214.000 siswa saja.
"Sedangkan lulusan SMP sederajat di Jawa Tengah mencapai 552.000 siswa. Maka hanya ada 42 persen saja yang akan ditampung di SMA/SMK Negeri sederajat," paparnya.
Tak heran apabila beberapa waktu lalu Gubernur Jawa Tengah membangun satu sekolah SMA Negeri di Kecamatan Tawangmangu. Selain tidak adanya sekolah setingkat SMA Negeri di sana, di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar juga tidak memiliki sekolah SMA/SMK swasta.
"Kami akui sekolah negeri di Jawa Tengah belum bisa menampung seluruh lulusan. Maka, pak Gubernur belum lama membangun SMA Negeri di Kecamatan Tawangmangu. Sebab, siswa yang tinggal di kecamatan itu harus rela ke kecamatan lain hanya untuk bisa sekolah di tingkat SMA Sederajat," pungkasnya. (tim)
Verifikasi ke Sekolah Terdekat
WALAUPUN sistem PPDB Online sudah berlangsung beberapa tahun terakhir, namun persoalan klasik masih saja terjadi. Satu di antaranya, database siswa tidak sinkron dengan sistem yang dikelola oleh pemerintah.
Agus, satu di antara orangtua siswa di Semarang, mengatakan nilai rapor yang dimiliki anaknya tidak tercantum secara otomatis di sistem PPDB 2021 (ppdb.jatengprov.go.id). Maka, pihaknya Senin ini (21/6) harus melakukan verifikasi ke sekolah terdekat yakni di SMA N 11 Semarang.
"Selain itu, titik lokasi zonasi yang saya masukkan juga tidak secara otomatis mencantumkan tempat tinggal saya. Melainkan harus dilakukan secara manual. Harusnya kendala-kendala ini sudah tidak perlu terjadi, toh sistem PPDB sudah berlangsung beberapa tahun," ungkap pria yang tinggal di Tlogosari, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang ini.
Di dalam sistem zonasi yang berdekatan dengan tempat tinggalnya, ada beberapa sekolah SMA yang bisa menjadi pilihan. Seperti SMA N 11 Semarang, SMA N 2 Semarang, dan SMA N 15 Semarang. Namun menurut Agus, anaknya cenderung ingin masuk di SMA N 11 Semarang.
"Sebenarnya anak saya juga ingin masuk di SMA N 1 Semarang. Karena rata-rata nilai NEM hampir mendekati 9, yakni 8,7. Tapi tentu itu harus menggunakan jalur prestasi. Sedangkan setahu saya, kalau ada siswa yang memiliki piagam lomba yang sesuai sama jurusannya, itu akan jadi nilai tambah. Sedangkan anak saya murni hanya memanfaatkan nilai akademik saja," terangnya.
Agus pun tidak terlalu berharap lebih anaknya bisa masuk di SMA N 1 Semarang. Namun ia tetap akan mendaftarkan anaknya di dua sekolahan tersebut sebagai pilihan utamanya. "Kalau saya pribadi lebih suka yang dekat rumah. Tapi jika bisa masuk di SMA N 1 Semarang ya Alhamdulillah. Kalaupun tidak, SMA N 11 Semarang juga sudah oke," imbuhnya.
Pihaknya yakin, dibandingkan jalur prestasi yang hanya diberi kuota sebesar 20 persen, jalur zonasi lebih membuatnya merasa aman. Sebab, dari radius tempat tinggalnya banyak sekolah SMA Negeri yang masih dalam satu zonasi.
"Paling aman pakai jalur zonasi. Karena itu yang diutamakan dibandingkan dengan jalur yang lain. Semoga tidak ada halangan lagi, sehingga anak saya bisa sekolah di tempat yang dia inginkan," pungkasnya. (tim)
Baca juga: Budidaya Koi Sebagai Hobi dan Bisnis Selama Pandemi
Baca juga: Gara-gara Ulah Suporter, Hungaria Terancam Sanksi dari UEFA
Baca juga: OPINI Riza Maulana : Mengapa Virus Bermutasi dan Apa Dampaknya
Baca juga: Hotline Semarang : Kenapa Ada Penutupan Jalan dan Sampai Kapan?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/siap-siap-ppdb-online-di-batang.jpg)