UIN SAIZU Purwokerto
Berproses Tanpa Menuntut Sempurna, Inilah Mahasiswa UIN Saizu Septi Rahmadani Menjemput Prestasi
Kisah Septi Rahmadani, mahasiswa UIN Saizu yang menjemput prestasi lewat proses, ketekunan, dan keberanian menghadapi tekanan.
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO -- Deretan piala yang berjejer rapi di atas lemari, piagam yang terpajang cantik dalam bingkai serta gelar yang tersemat di belakang nama sering kali menjadi bahasa yang dipahami dunia tentang keberhasilan. Ia berdiri tegak, berkilau, dan seolah berteriak tentang kemenangan.
Namun, di balik dinginnya material logam dan kayu itu, ada bagian cerita yang kerap luput dari pandangan: waktu-waktu sunyi yang diisi dengan keraguan, peluh yang menetes di sela kelelahan, serta tekanan ekspektasi yang tak kasat mata.
Bagi Septi Rahmadani, seorang mahasiswa di Universitas Islam Negeri Prof. K.H.
Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto angkatan 2025, prestasi bukanlah sebuah
destinasi akhir untuk sekadar dirayakan dengan gegap gempita. Baginya, setiap piagam adalah sebuah saksi bisu dari rangkaian proses yang melelahkan namun mendewasakan.
Ini adalah tentang bagaimana seseorang memilih untuk tetap berdiri dan melangkah, bahkan ketika medan yang ditempuh terasa terjal dan tidak sesuai harapan. Daftar pencapaian Septi bukanlah sesuatu yang bisa dipandang sebelah mata. Ia adalah sosok yang piawai mengolah kata sekaligus pembawa diri yang anggun.
Di panggung seni, ia berhasil menyabet Juara 1 Storytelling dalam Pekan Seni dan Olahraga UIN Saizu 2025. Tak berhenti di situ, pesonanya membawanya meraih Juara 3 Miss Beauty D.I.Y 2025 dan puncaknya, gelar Juara 1 Miss Beauty Indonesia Intelligensia 2025 berhasil ia amankan.
Kiprah Septi melampaui panggung kecantikan. Ia dipercaya menjadi Duta Komunikasi dan Edukasi Bank Indonesia Jawa Tengah 2025, sebuah peran yang menuntut kecakapan literasi dan komunikasi publik yang mumpuni. Di ranah akademik pun, ia membuktikan taringnya dengan meraih Juara 3 Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat nasional di Bengkulu pada tahun yang sama.
Namun, deretan gelar mentereng ini tidak jatuh dari langit. Septi tumbuh dari sebuah proses yang ia bangun dengan fondasi niat yang kokoh. "Yang paling utama itu niat dan tujuan yang jelas. Ketika kita tahu untuk apa kita berproses, kita jadi lebih kuat menjalaninya," ujarnya dengan nada tenang namun penuh keyakinan.
Menjadi salah satu "Wajah UIN Saizu" membawa konsekuensi tersendiri. Label
mahasiswa berprestasi yang melekat padanya sering kali menjelma menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, itu adalah bentuk apresiasi; di sisi lain, ia bisa menjadi "penjara" bernama ekspektasi.
Lingkungan cenderung melihat Septi sebagai sosok yang harus selalu tampil sempurna tanpa celah. "Karena ketika orang melihat kita sebagai seorang yang berprestasi, kadang ada ekspektasi yang cukup tinggi dari lingkungan sekitar. Nah disitu, aku sempat merasa bahwa aku harus tampil sempurna.” ungkapnya.
Namun, kedewasaan menuntunnya pada perspektif baru. Ia mulai menyadari bahwa menjadi berprestasi tidak berarti kehilangan sisi kemanusiaannya. "Seiring berjalanan waktu, aku belajar bahwa kita itu tetap manusia yang boleh belajar, boleh salah, dan berkembang. Jadi sekarang aku lebih fokus pada proses,
bukan hanya pada label dan penilaian seseorang,” tuturnya.
Rasa lelah, stres akibat jadwal yang padat, dan ketakutan akan kegagalan adalah kawan akrab dalam kesehariannya. Membagi waktu antara tugas kuliah yang menumpuk, tanggung jawab organisasi, hingga persiapan berbagai kompetisi nasional bukanlah perkara mudah.
Sering kali, ia harus mengorbankan waktu istirahat demi mengejar tenggat waktu yang saling berkejaran. Alih-alih menghindar dari tekanan, Septi memilih untuk memeluk fase-fase sulit tersebut sebagai bagian integral dari transformasinya. Bagi Septi, momen terendah justru menjadi guru terbaik. “Dari situ justru kita belajar jadi lebih kuat dan lebih mengenal diri kita sendiri,” katanya.
Untuk menjaga agar api semangatnya tetap menyala tanpa membakar dirinya sendiri, Septi menerapkan seni refleksi. Ia selalu memberi ruang bagi dirinya untuk menarik diri sejenak dari hiruk-pikuk aktivitas beristirahat, melakukan kontemplasi, atau sekadar berbagi cerita dengan lingkaran orang-orang terdekatnya.
Ia percaya bahwa dukungan lingkungan, mulai dari teman sejawat hingga dosen, adalah ekosistem penting yang memberinya nutrisi untuk terus tumbuh. Di akhir perbincangan, Septi menitipkan pesan bagi rekan-rekan sesama mahasiswa yang
mungkin tengah berjuang di tengah keraguan.
Menurutnya, kesiapan mental sering kali tidak datang sebelum kita mulai melangkah, melainkan terbentuk saat kita sudah berada di perjalanan. "Jangan takut untuk memulai proses, meskipun mungkin kita ngerasa belum cukup siap," beber dia.
| UIN Saizu Tetapkan Jadwal UTS Genap 2025/2026, Ini Detail Pelaksanaannya |
|
|---|
| Bahasa, Imajinasi, dan Pengalaman dalam Puisi dan Cerpen: Jalan Kreatif Memahami Kehidupan |
|
|---|
| Pascasarjana UIN Saizu Buka Pendaftaran Beasiswa Indonesia Bangkit 2026, Ini Syarat dan Jadwalnya |
|
|---|
| Kolaborasi Global UIN Saizu dan NSPU Bahas Masa Depan Pendidikan |
|
|---|
| KPK Gelar Kuliah Umum di UIN Saizu, Dorong Peran Mahasiswa dalam Pemberantasan Korupsi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260417_kisah_saizu.jpg)