Senin, 4 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

OPINI

OPINI Farhan Fatnanto : Indonesia Cashless Society

PADA masa yang serba digital sekarang ini, beragam tawaran bidang pengelolaan keuangan disodorkan. Pengelolaan simpanan maupun pengaturan penggunaan

Tayang:
KOMPAS.COM
Ilustrasi uang ratusan juta rupiah raib milik korban asuransi 

LinkAja akan menggunakan sistem kode respons cepat atau quick respons atau QR Code. Hal tersebut merupakan wujud dari pengembangan integrasi Electronic Bill Presentment System dan Integrasi Layanan Pembayaran antar jaringan pembayaran yang berguna untuk mensukseskan upaya pemerintah dalam sentralisasi pembayaran utility bills; mendorong penggunaan transaksi pembayaran secara elektronik dengan lebih aktif dan terkoordinasi, dengan tetap menjunjung tinggi aspek perlindungan konsumen, memperhatikan perluasan akses dan kepentingan nasional.

Hasil Penelitian

Mini riset tentang penggunaan uang elektronik dilakukan terhadap masyarakat produktif dengan mobilititas tinggi di wilayah DIY dan Jawa Tengah. Pengambilan data dilakukan melalui pengisian kuesioner secara online. Para informan yang mengisi rata-rata berpendidikan strata satu ke atas. Pekerjaan yang ditekuni sebagian besar adalah bergerak di bidang pendidikan.

Indikator tingginya mobilitas dilihat dari pergerakan informan dari lokasi domisili ke lokasi bekerja. Serta sarana tranportasi yang digunakan adalah kombinasi dari moda transportasi umum dan pribadi. Waktu yang dihabiskan selama perjalanan setidaknya tiga jam, sehingga transaksi daring dipilih sebagian besar informan untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya. Transaksi daring dianggap lebih efisien bagi mereka yang terbatas waktu luangnya.

Produk uang elektronik telah digunakan secara luas, disamping masih banyak pula yang menggunakan kartu debit secara bersamaan. Sebagian besar pengguna kartu debit tidak memisahkan rekening uang simpanan dan uang konsumsi. Namun tidak sedikit yang sering kali menghabiskan uang konsumsi hingga mengurangi uang simpanan.

Pada kondisi demikian dapat disimpulkan bahwa mereka membutuhkan sarana pengaturan keuangan agar uang simpanan tidak turut habis terkonsumsi. Salah satu alternatifnya adalah dengan mengalokasikan uang konsumsi yang telah dipisahkan dari uang simpanan dalam bentuk uang elektronik. Riwayat transaksi yang bisa diakses dengan mudah dapat dimanfaatkan untuk mengontrol penggunaan uang dari waktu ke waktu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua informan telah memiliki uang elektronik dalam dompet (ewallet) berbasis aplikasi di gawai. Rata-rata memiliki lebih dari satu aplikasi. Pemilihan produk uang elektronik oleh informan didasarkan pada kemudahan penggunaan dan penyesuaian pembayaran moda transportasi yang sering digunakan.

Jumlah penambahan saldo per bulan rata-rata tidak lebih dari 500 ribu rupiah untuk masing-masing produk. Jika dibandingkan dengan jumlah pengeluaran per bulan yang rata-rata lebih dari 2 juta rupiah, menunjukkan bahwa metode pengaturan pengeluaran non-uang elektronik lebih banyak digunakan.

Moda Transportasi

Prioritas pemanfaatan utama uang elektronik adalah sebagai alat pembayaran moda transpotasi. Selanjutnya digunakan untuk pembayaran tagihan dan transaksi di merchants. Promo yang ditawarkan oleh masing-masing produk uang elektronik juga menjadi pertimbangan dalam besaran penambahan saldo.

Beberapa produk uang ektronik secara rutin memberikan beragam tawaran diskon pada akhir bulan yang ditujukan secara khusus bagi mereka yang menerima gaji di waktu tersebut.

Promo tersebut tidak cukup menarik bagi informan yang nemerima gaji di awal bulan serta nilai konsumsinya lebih dari lima puluh ribu rupiah dalam satu kali transakasi. Syarat dan ketentuan yang diberlakukan dianggap tidak mudah disesuaikan bagi mereka yang telah berkeluarga dan hanya memiliki satu akun aplikasi.

Kurang luasnya jangkauan pembayaran merupakan kesulitan yang paling sering dihadapi oleh mayoritas informan. Hal tersebut menunjukkan perlunya perluasan penerimaan uang elektronik dalam aktivitas ekonomi saat ini. Semakin luas diterimanya pembayaran menggunakan uang elektronik akan memberikan efek positif terhadap keinginan pengguna untuk memilih metode pembayaran tersebut selain kemudahan penggunaannya.

Masyarakat Nontunai

Meskipun sebagian besar informan tidak mengetahui tentang program pemerintah terkait GNNT, namun mereka menyatakan diri siap menjadi bagian dari Masyarakat Non-Tunai (Cashless Society). Oleh sebab itu pentingnya untuk mensosialisasikan program tersebut kepada masyarakat luas baik melalui media cetak, elektronik dan sosial media yang lebih mudah diakses.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved