Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Universitas Nasional Karangturi

Food Combining dan Trend Diet Kekinian

DI MASA pamdemi COVID-19 ini, pola hidup sehat digadang-gadang paling efektif untuk meningkatkan imunitas seseorang.

Editor: abduh imanulhaq
IST
Novia Anggraeni SPi MSc, Dosen S1 Teknologi Pangan Unkartur 

Oleh: Novia Anggraeni SPi MSc
Dosen S1 Teknologi Pangan Unkartur

DI MASA pandemi COVID-19 ini, pola hidup sehat digadang-gadang paling efektif untuk meningkatkan imunitas seseorang. Trend pola hidup sehat pun mulai menjalar ke pola diet kekinian. Mungkin bagi anak muda jaman now, food combining merupakan istilah yang asing. Padahal food combining digadang-gadang sebagai pola makan yang bisa mengurangi berat badan, rasa kembung dan membuat orang bisa makan banyak tanpa tambah gemuk. Selama ini, pola diet yang paling populer adalah diet nabati (mediterania), diet keto, diet mayo, sirtfood diet, dan lain sebagainya.

Menurut para ahli gizi, food combining didasari dari sebuah teori bahwa sistem pencernaan manusia mengolah makanan dengan jenis yang berbeda dalam waktu yang berbeda pula. Contohnya saja lemak dan protein membutuhkan waktu yang lebih lama dan energi yang lebih banyak untuk dicerna sistem pencernaan manusia dibandingkan karbohidrat. Oleh karena itu, pola makan food combining percaya bahwa mencampurkan berbagai jenis makanan dalam satu kali makan tidak selalu berdampak baik bagi kesehatan.

Food combining adalah pengembangan sistem pengobatan tradisional Hindu Ayurveda yang kemudian menjadi populer pada pertengahan tahun 1800-an. Kemudian dihidupkan kembali di awal tahun 1900-an, oleh seorang peneliti bernama William Howard Hay.  Dalam melakukan risetnya, Hay berhasil menurunkan berat badan kurang lebih 13 kilogram selama tiga bulan. Pola makan tersebut kemudian dikenal dengan nama diet hay.

Seperti yang kita tahu selama ini kalau klasifikasi makanan itu meliputi karbohidrat, protein, lemak , buah dan sayur. Berbeda dengan klasifikasi berdasarkan pola Food Combining yang memiliki banyak sub-kelas.Makanan yang mengandung karbohidrat, terpecah berdasarkan kandungannya: 

* Karbohidrat yang mengandung gula
* Karbohidrat yang mengandung serat
* Karbohidrat yang mengandung pati

Buah-buahan terpecah menjadi:

* Buah yang manis
* Buah yang asam

Food combining juga membagi makanan menjadi 3 klasifikasi besar berdasarkan tingkat keasamannya (pH): 

* Asam
* Netral
* Basa

Menurut prinsip food combining, jika makanan dari jenis klasifikasi berbeda dikonsumsi bersamaan, akan saling menetralisir sehingga berdampak buruk pada sistem pencernaan. Contohnya , menggabungkan makanan berkategori asam dan basa. Pada praktiknya, food combining mengatur kombinasi makanan dari tiga jenis klasifikasi berdasarkan tingkat keasamannya tersebut, agar tubuh mendapat manfaat dan nutrisi yang optimal dari satu kali makan.

Lalu , bagaimana cara meneapkan food combining? Padahal pembagian sub kelas dari food combining sendiri pun banyak yang masih belum dipahami. Yup, jadi food combining ini sendiri memiliki dua pemahaman yang paling penting, yaitu :

1. Mengombinasikan jenis makanan yang mudah dicerna dan makanan yang tidak mudah dicerna, mengakibatkan saluran pencernaan “macet”, sehingga dapat berujung pada gangguan kesehatan.

2. Beda jenis makanan, beda pula enzim yang diperlukan untuk mencerna makanan tersebut. Masing-masing enzim bekerja di tingkat keasaman (pH) berbeda, dan di dalam usus yang berbeda pula.

Dari kedua pemahaman tersebut, food combining menjunjung aturan-aturan makan berikut ini:

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved