Berita Tegal
Viral Warga Tegal Angkat Motor & Gerobak Lewati Pembatasan Beton
Dua jalan strategis penghubung Desa Majasem Kabupaten Tegal dan Kota Tegal, ditutup rapat menggunakan pembatas beton atau beton movable concrete barri
Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: m nur huda
TRIBUNJATENG.COM, TEGAL - Dua jalan strategis penghubung Desa Majasem Kabupaten Tegal dan Kota Tegal, ditutup rapat menggunakan pembatas beton atau beton movable concrete barrier (MCB).
Tidak tanggung-tanggung, beton yang dipasang bahkan berlapis.
Lokasi tersebut berada di Jalan Werkudoro dan Jalan Hanoman Kota Tegal.
Akibatnya masyarakat harus rela memutar ke Jalan Pantai Utara (Pantura).
Meski begitu, rupanya banyak masyarakat yang tetap nekat.
Masyarakat secara kompak saling membantu mengangkat sepeda motor untuk melintas pagar pembatas beton.
Mereka juga membantu gerobak pedagang cilok dan siomay agar bisa melintasi pembatas beton.
Lalu pada jam pulang kerja, pembatas beton pun sempat digeser oleh masyarakat agar bisa dilintasi kendaraan sepeda motor.
Momen gotong royong masyarakat tersebut viral di media sosial Facebook dan Whatsapp, pada Selasa (13/7/2021).
Setelah kejadian itu viral, petugas berwajib menambah jumlah pembatas beton di lokasi.
Warga setempat Sofar (51), membenarkan momen masyarakat saling membantu mengangkat sepeda motor untuk melintas beton.
Ia mengatakan, kejadian terjadi saat pagi dan sore hari.
Karena banyak masyarakat di Majasem yang bekerja di wilayah Kota Tegal.
"Ada beberapa. Motor diangkat di atas beton. Yang bantu ada 10 orang. Kasihan kalau gak dibantu," kata Sofar, kepada tribunjateng.com.
Sofar menilai, semestinya jalan tidak ditutup total menggunakan pembatas beton.
Namun diberi penjagaan dan dilakukan sistem buka tutup.
Ia mengatakan, karena ada sebagian warga di Kelurahan Slerok, Kota Tegal, yang wilayah tempat tinggalnya di sebelah timur jembatan.
Mereka warga RT 01 RW 05 Kelurahan Slerok.
"Yang jadi masalah sebenarnya ada warga Slerok yang rumahnya di sebelah timur sungai. Dan itu harus dilayani. Masa harus memutar lewat Jalan Pantura," ungkapnya.
Saat tribunjateng.com datang ke lokasi di Jalan Hanoman, banyak masyarakat yang sedang melakukan transaksi jual beli COD.
Mereka lebih memilih melakukan COD, tinimbang harus memutar melintas ke Jalan Pantura.
Hal itu seperti yang dilakukan Vena (45), warga beralamat di Jalan Perintis Kemerdekaan Kota Tegal.
"Ini habis COD. Karena kan susah harus memutar jauh. Tokonya ada di Mejasem," ungkapnya.
Vena mengatakan, penutupan jalan sebenarnya positif untuk mencegah masyarakat agar tidak keluar rumah.
Tapi resikonya memang banyak masyarakat yang nekat untuk melompat.
Ia menilai, seharusnya ada penjagaan dari petugas.
Jadi masyarakat tetap terpantau dan tidak ada yang nekat.
"Saran saya sih ada penjagaan. Jadi tidak ada yang lompat," katanya. (fba)