Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Viral

Viral Pemilik Warkop Siram Petugas Satpol PP dengan Air Panas Saat Tertibkan PPKM

Video pria pemilik warung kopi siram petugas Satpol PP dengan air panas saat tertibkan PPKM di Medan viral di media sosial.

Penulis: Adelia Sari | Editor: abduh imanulhaq

TRIBUNJATENG.COM - Video pria pemilik warung kopi siram petugas Satpol PP dengan air panas saat tertibkan PPKM di Medan viral di media sosial.

Video itu diunggah oleh sejumlah akun media sosial, di antaranya Instagram @medanku pada Kamis (15/7/2021).

Video itu memperlihatkan sejumlah petugas gabungan sedang menertibkan warung kopi yang masih buka saat PPKM.

Karena tak terima disuruh tutup, pemilik warkop emosi dan mengusir petugas.

Baca juga: Sosok Egianus Kogoya Pemimpin KKB Papua, Usianya Masih 22 Tahun Ternyata Putra Tokoh OPM

Baca juga: Wanita yang Dipukul Satpol PP Bantah Disebut Tak Hamil oleh Petugas Medis: Tukang Urut yang Bilang!

Baca juga: BERITA LENGKAP : Kasus Positif Covid-19 Pecah Rekor Lagi

Baca juga: Sopir Travel Cium Bau Busuk, Ternyata Ada Penumpang Bawa Jasad Bayi untuk Dibuang

Pria pemilik warkop sempat memaki dan mengeluarkan kata-kata kasar kepada petugas.

Seorang wanita yang mengenakan gamis dan hijab merah berusaha menahan emosi pria itu.

Ia berteriak histeris sembari menahan pria pemilik warkop.

"Pakk,,udahh pakk" teriak wanita berbaju merah histeris.

Sedangkan petugas satpol pp nampak tenang menghadapi amukan pria tersebut.

"Kau tentara" teriak pria pemilik warkop.

Ia kemudian berlari ke arah dapur dan mengambil air panas dengan sendok gelas.

Perempuan berbaju merah pun mengejar pria berbadan gempal untuk menahan amarahnya.

"Awas! Pegi kau, pegi" usir pria itu sambil mengambil ancang-ancang melempar air panas.

Melihat hal itu pihak satpol dan tentara pun berjalan meninggalkan warung itu.

Namun pria itu tetap menyiramkan air panas di tangannya.

Dan mengenai sejumlah petugas satpol PP.

Melihat anggotanya terkena air panas, anggota Satpol lain tidak terima.

Kemudian berjalan kembali ke dalam untuk menangkap pria itu.

Namun dicegah oleh anggota polisi dan wanita berbaju merah terus menahan pria itu.

"Udahlah pak, ini rumah kami" teriak wanita itu sambil menangis.

Perekam video yang merupakan bagian dari petugas gabungan pun mengatakan untuk menelfon Polsek dan memproses kejadian ini.

"tangkap itu ambil. tangkap, tangkap" teriak perekam video.

Dari keterangan pengunggah, insiden itu terjadi di warung kopi Jalan Gatot Subroto Medan, pada Kamis (15/7/2021).

Unggahan inipun mendapat banyak komentar dari para netizen.

Alih-alih kasihan dengan Satpol PP yang kena siram, netizen malah membela pemilik warkop itu.

@imahirawatylimbong "Sabar pakk sabar... Pahami lah sedikit amarah mreka... Mungkin sangking banyak nya beban dihati mreka smpe tu smua meluap...."

@raihnrizky "lebih baik nih, jangan tutup orang yang berjualan, tapi cegah yang keliatan ramai, jangan tutup tokonya, tapi atur "

@botak_lae "Manja kali bah cuma disiram air putih main lapor2..."

@fahrudinafriandyhrp "Dukung pedagang"

@ayurzy_ "Selama PPKM , emosi para pedagang semakin gak menentu . Semoga keadaan segera membaik ya Allah"

@sahroni.ibrahim "Yang dibubarkan kerumunannya, bukan pedagang nya woyy, gitu aja kok ga ngerti hadeuuh , boleh jualan asal jangan menimbulkan kerumunan, mau makan apa klo ga jualan"

Dilansir dari Kompas.com, pemilik warkop itu bernama Rakesh.

Usai kejadian itu, Rakesh dibawa ke Gedung PKK Kota Medan yang tak jauh dari lokasi.

Ia dibawa untuk menjalani sidang karena dianggap melanggar PPKM Darurat yang sedang diterapkan di Medan.

Dia dijatuhi hukuman dua hari atau denda Rp 300 ribu.

Malam sebelumnya petugas sudah datang ke warung Rakesh dan memintanya untuk menutup warung.

Karena warungnya buka lewat jam operasional.

Akan tetapi ia menolak dan mengatakan jika punya 5 anak yang harus dibiayai.

Kemudian petugas kembali datang pada Kamis pagi.

Rakesh mengaku emosi karena petugas gabungan datang secara berbondong-bondong seolah-olah akan menangkap teroris.

"Habis itu, orang itu datang seperti teroris. Mobil polisi dua truk, mobil tentara dua truk. Satpol PP satu truk. Bukannya membantu, di situ memaksa kita tutup," ucap Rakesh.

Rakesh kecewa kepada sikap pemerintah dan aparat di lapangan.

Menurutnya pemerintah hanya menyuruh masyarakat menutup tempat usaha, tetapi pemerintah sendiri tidak bertanggung jawab atas kebijakan itu.

"Tidak ada bantuan," katanya.

Rakesh tetap menerima hukuman yang diberikan kepadanya.

Dirinya lalu memilih membayar denda Rp 300.000 sebagai ganti hukuman dua hari kurungan. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved