Fokus
Fokus : Berhenti di Kamu
Berhenti di kamu. Ini bukan penggalan lirik lagu atau judul novel romantis yang ditulis seorang dokter itu. Bukan
Penulis: rika irawati | Editor: Catur waskito Edy
Oleh Rika Irawati
Wartawan Tribun Jateng
Berhenti di kamu. Ini bukan penggalan lirik lagu atau judul novel romantis yang ditulis seorang dokter itu. Bukan. Tapi, ini ajakan untuk Anda. Iya, Anda yang sedang membaca tulisan ini.
Saya ingin mengajak Anda menghentikan setiap pesan atau berita bohong yang Anda terima.
Terutama, berita bohong terkait Covid-19. Entah soal vaksin, kondisi rumah sakit, kasus kematian, ambulans untuk menakuti warga, atau apapun materi yang disampaikan tentang Covid-19.
Saya minta Anda menguji setiap pesan dan berita yang Anda baca, sebelum meneruskan ke orang lain. Terutama, ke grup-grup media sosial yang Anda ikuti, tak terkecuali Whatsapp keluarga.
Kenapa penting? Karena ini untuk kesehatan Anda dan orang di sekitar Anda. Sudah cukup, banyak
orang yang tidak tertolong karena enggan segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis karena percaya narasi 'datang ke rumah sakit pasti di-Covid-kan'.
Tak sedikit pula yang menolak mengikuti vaksin Covid-19 karena mempercayai kabar vaksin tidak halal, mengandung chip 666, vaksin mengakibatkan kemandulan pada wanita, dan vaksin mengakibatkan kematian.
Banyak yang makin percaya karena dibungkus dengan penggalan ayat kitab suci yang menyentil secuil pemahaman spiritual kita.
Terbaru, ajakan menolak impor vaksin agar negara tak tekor. Padahal, berbagai merek vaksin yang masuk ke Indonesia, mayoritas diperoleh lewat bantuan atau hasil lobi dan kerja sama yang tak mengeluarkan uang.
Jumlahnya pun belum mencukupi untuk memenuhi syarat mencapai herd immunity atau kekebalan kelompok.
Kita semua sudah lelah menghadapi pandemi ini. Lelah hampir setiap hari mendengar kabar teman atau keluarga positif Covid-19 dan meninggal.
Waswas setiap kali mendengar suara sirine ambulans mengantar pasien, lewat di dekat rumah. Atau pengumuman dari toa masjid atas meninggalnya tetangga kita.
Kita juga sudah capek kegiatan kita dibatasi. Tak leluasa bekerja, bertemu klien, nongkrong bersama teman teman, liburan, dan setiap hari harus mencari jalan alternatif karena pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang entah kapan berakhir.
Saya juga bisa memahami jika Anda marah. Marah dengan kebijakan pemerintah yang berubah-ubah. Pemerintah yang tak sigap dan terkesan menyepelekan prediksi lonjakan kasus Covid-19. Bahkan, kita dibiarkan berebut hanya untuk mencari vitamin dan susu.
Gelombang kedua Covid-19 di Indonesia kali ini benar nyata. Berhenti membaca berita terkait Covid-19 demi kenyamanan, bukan solusi. Justru saat tak membuka mata dan telinga lebar-lebar, kita tak akan mengetahui kebenaran informasi.
Tentu saja, tak semua harus Anda terima. Pilah sesuai kemampuan diri menghadapi, tak menimbulkan kecemasan yang malah memicu ketakutan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/rika-irawati-wartawan-tribun-jateng.jpg)