Breaking News:

Jumlah Tracing Covid-19 Jauh dari Standar WHO, Babinsa bakal Ikut Datangi Masyarakat

pelaksanaan tracing kontak erat covid-19 di Tanah Air masih jauh dari standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang menetapkan rasio 1 banding 30.

Editor: Vito
ANTARA FOTO/ANDREAS FITRI ATMOKO
Petugas mengambil sampel dari warga saat tes swab covid-19 massal di Kendal, Turi, Sleman, DIY, baru-baru ini, menyusul lima kepala keluarga di kampung itu dinyatakan positif terinfeksi virus corona. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Program peningkatan testing dan tracing covid-19 yang dicanangkan pemerintah dimulai minggu ini, dengan dipimpin Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Program itu dilaksanakan bersamaan dengan perpanjangan PPKM Level 4.

Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto mengakui, pelaksanaan tracing kontak erat covid-19 di Tanah Air masih jauh dari standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang menetapkan rasio 1 banding 30.

Artinya, pada 1 orang yang terkonfirmasi positif covid-19 akan dilakukan pelacakan ke 30 orang kontak erat. Akan tetapi, pelaksanaan tracing di Indonesia masih berkutat pada rasio 1 banding 1.

"Kalau kita ketahui bersama bahwa sesuai standar WHO, dalam pelaksaan tracing kontak erat itu adalah rasionya 1 banding 30. Namun, di Indonesia saat ini baru bisa dilaksanakan 1 banding 1. Satu yang terkonfirmasi dan satu yang kai laksanakan tracing kontak erat," ujarnya, dalam konferensi pers, Senin (26/7).

Kendati demikian, Hadi menegaskan, TNI bersama Polri, BNPB, dan Kementerian Kesehatan berupaya untuk memenuhi standar WHO tersebut. Caranya adalah dengan memperbanyak tenaga tracer kontak erat, mulai dari Dinas Kesehatan, TNI, Polri, dan BNPB.

Sejauh ini, menurut dia, tercatat terdapat 63 ribu tenaga tracer dari TNI yang tersebar di semua wilayah, termasuk di posko PPKM. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan skema pelacakan secara digital.

Saat ini, dia menambahkan, para tenaga tracer tersebut tengah mendapatkan pelatihan dari Kementerian Kesehatan. "Tujuannya adalah untuk mempermudah melaksanakan tracing kontak erat," jelasnya.

Nantinya, Hadi menyatakan, pelacakan bisa dilakukan melalui wawancara via aplikasi pesan WhatsApp.

"Namun, apabila menemui kendala, maka tracer lapangan, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas, termasuk dari bidan desa akan secara manual mendatangi masyarakat yang disinyalir terkena atau terpapar covid-19," terangnya.

Panglima menjelaskan, TNI sudah melakukan persiapan untuk melaksanakan pelacakan kontak erat covid-19 serta mekanisme pelaporannya. TNI sudah memberikan pelatihan melalui aplikasi Zoom kepada seluruh tracer TNI.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved