Corona Dunia

Jasad Menumpuk di Kamar Mayat, Pengurus Pemakaman Ungkap Awan Kengerian yang Menyelimuti Malaysia

Hari Minggu Malaysia mencatat penambahan kasus harian sebanyak 17.045 kasus, tertinggi sejak pandemi Covid-19 dimulai di Malaysia

Editor: muslimah
SADIQ ASYRAF
Jenazah Covid-19 disemprot dengan disinfektan sebelum dimasukkan ke dalam mobil jenazah di Malaysia 

Pemerintah membuka kamar mayat sementara di Kuala Lumpur minggu lalu untuk mengatasi jumlah penumpukan mayat Covid-19 di ibukota.

Pusat kamar mayat tersebut dilengkapi dengan 5 kontainer yang dapat menampung 225 jasad manusia.

Foto-foto viral tunjukkan tumpukan jasad manusia di RS dan kamar jenazah bukanlah rekaan, ujar Rafieudin.

"Beberapa jenazah harus disimpan di kamar jenazah dahulu selama 3 atau 4 hari. Kemarin, kami mendapati kasus pasien Covid-19 yang meninggal di rumah dan RS tidak dapat mengambil jasadnya lebih dari 12 jam karena kekurangan staf dan ambulans.

"Keluarganya tidak bisa melakukan apa-apa karena mereka sedang karantina. Inilah yang sedang terjadi," ujarnya.

Selain jumlah kematian Covid-19 yang meningkat, tingkat bunuh diri di Malaysia juga meningkat.

"Sejak pandemi Covid-19, jumlah orang sekarat telah meningkat. Beberapa dari mereka melakukan bunuh diri karena masalah finansial. Kami menangani kira-kira satu sampai tiga kematian itu setiap harinya dan lebih dari 20 kematian setiap bulan," ujar pengurus pemakaman Kelvin Teh dilansir dari The Straits Times.

"Jumlah kasus sudah terlalu tinggi sehingga kami sekarang menghadapi kekurangan peti mati. Krematorium dipesan penuh setiap hari," tambahnya.

Rafieudin sangatlah sibuk hari-hari ini sehingga ia hanya bisa tidur selama 2-3 jam sehari.

"Sisanya, aku harus siap siaga untuk menerima telepon, kadang jam 2 malam, 3 dini hari atau 4 subuh, menuntun keluarga melewati proses tersebut, membuat catatan, mengirimkan timku untuk mengambil jenazah dan melaksanakan pemakaman. Kami punya 10 tim yang dikirim setiap harinya," ujarnya.

Ia mendirikan relawan Squad Penanganan Pemakaman Malaysia 5 tahun lalu untuk membantu keluarga yang membutuhkan yang tidak bisa membiayai pemakaman.

Pemakaman meliputi pemakaman Muslim dan non-Muslim serta melibatkan kasus kompleks seperti dekomposisi ataupun jasad pasien HIV.

Rafieudin khawatir mengenai protokol pemakaman.

"Sebelumnya, aku sudah belajar bagaimana mengurus jenazah dengan HIV dan Ebola, tapi virus Corona tidak sama dengan HIV, yang menyebar hanya lewat jarum, kontak seksual dan transfusi darah. Covid-19 menyebar lebih gampang lewat air dan udara, aku mulai khawatir," ujarnya.

Petugas pemakaman harus mengenakan pakaian APD lengkap saat menangani korban Covid-19, sementara jenazah Covid-19 harus dibungkus dalam 2 lapisan kantung mayat. (*)

Sumber: Intisari
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved