Breaking News:

PPKM Level 4

Cerita Transpuan Semarang di Tengah Pemberlakuan PPKM Level 4: Hanya Andalkan Bantuan Komunitas

Sejumlah transpuan di Kota Semarang terpapar Covid-19. Ketika mereka terpapar Covid-19 harus mengandalkan diri mereka sendiri dan komunitasnya.

Penulis: iwan Arifianto | Editor: Catur waskito Edy
Dok Perwaris Satu Hati
Anggota Persatuan Waria Kota Semarang (Perwaris) Satu Hati ketika mendapatkan vaksinasi. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sejumlah transpuan di Kota Semarang terpapar Covid-19. Ketika mereka terpapar Covid-19 harus mengandalkan diri mereka sendiri dan komunitasnya.

“Iya ketika anggota kami terpapar Covid-19 harus mengandalkan diri sendiri dan swadaya komunitas,” terang Ketua Persatuan Waria Kota Semarang (Perwaris) Satu Hati , Silvi Mutiari kepada Tribunjateng.com, Sabtu (31/7/2021).

Dia menyebut, jumlah kasus positif  transpuan di Kota Semarang meningkat tercatat penambahan 10 kasus positif yang mana  satu di antaranya meninggal dunia.

Kasus yang meninggal dunia terjadi pada 16 Juli 2021 di  satu RS di Kota Semarang, di tengah program PPKM darurat oleh pemerintah. Pasien sempat mengeluhkan buruknya pelayanan di sana.

Pasalnya terdapat oknum perawat yang kurang telaten dan sabar dalam memberikan perawatan. Seperti ketika diminta untuk menyuapi pasien, tidak ada perawat jaga yang mau melayani pasien transpuan.  Padahal kondisi pasien sangat lemah, hal ini menyebabkan bertambah buruknya kondisi pasien.

Setelah 4 hari dirawat di sana, pasien dengan komorbid jantung ini akhirnya meninggal dunia. 

Kemudian untuk pasien lain yang dirasa masih kuat dan tidak memiliki gejala berat,  melakukan isoman di rumah dengan perawatan dari keluarga serta teman-teman  karena banyak yang indekos. “Hanya teman-teman yang bisa di harapkan bantuannya saat isolasi mandiri,” terangnya.

Dia menjelaskan, kondisi saat pandemi ini sudah berat yang mayoritas bekerja di bidang jasa berupa salon kecantikan, rias pengantin maupun entertain. Ditambah lagi dengan PPKM darurat dan Level 4 ini. Banyak jadwal kerjaan yang ditunda maupun dibatalkan.“Kami hanya bisa bertahan dengan uang tabungan serta bantuan keluarga serta teman-teman komunitas,” ucapnya.

Ia mengungkapkan, upaya Perwaris sendiri tetap memberikan bantuan baik moril maupun materiil kepada teman-teman transpuan. Ketika ada info transpuan yang terkonfirmasi positif. 

“Kami coba dampingi semampu kami. Jika tidak bisa dilakukan tatap muka,maka kita dampingi secara onlen. Dan teman-teman juga membantu proses pemakaman teman  yang meninggal dunia terutama soal administrasi,” jelasnya. (Iwn)

Baca juga: 100 Penyandang Disabilitas di Kabupaten Tegal Antusias Ikuti Vaksinasi Covid-19

Baca juga: Terus Bertambah, Operator dan Awak Mobil Tangki Pertamina di Boyolali Jalani Vaksinasi

Baca juga: Anteraja Gelar Vaksinasi Mandiri untuk 10.000 Karyawan dan Masyarakat Umum

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved