Berita Semarang
Cerita Pasien Covid-19 Anak dari Rumdin Wali Kota Semarang: Ditinggal Mati Ibu dan Diusir Warga
Di Kota Semarang, ada beberapa cerita anak terpapar Covid-19 yang terpaksa menjalani perawatan di Isolasi terpusat (Isoter).
Penulis: iwan Arifianto | Editor: moh anhar
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Di Kota Semarang, ada beberapa cerita anak terpapar Covid-19 yang terpaksa menjalani perawatan di Isolasi terpusat (Isoter) Rumah Dinas (Rumdin) Kota Semarang.
Bahkan di antaranya menjalani perawatan sendiri tanpa dampingan orangtua dan keluarga.
"Pernah ada pasien Covid-19 anak umur 8 tahun. Ia terpaksa menjalani perawatan di isoter rumdin lantaran positif Covid-19. Ibunya meninggal dunia terpapar Covid-19 sedangkan ayahnya negatif sehingga anak itu terpaksa menjalani perawatan sendiri," jelas Kepala Tempat isolasi terpusat (Isoter) Rumah Dinas (Rumdin) Walikota Semarang, Drg. Rahma Defi. M.Kes kepada Tribunjateng.com, Senin (2/8/2021).
Baca juga: Video Viral Curhat Sopir Angkot Saat PPKM Minta Uang Bensin ke Istri
Baca juga: Empat Camat Jalani Pemeriksaan di Satreskrim Polres Tegal, Dugaan Pelanggaran Prokes di Tengah PPKM
Baca juga: Gubernur Ganjar Diwaduli Semrawutnya Bansos: Mumet Ndan, Sing Entuk Malah Wong Sugih
Baca juga: Kisah Sukses Adly Natha Pembudidaya Anggur di Pekalongan, Miliki 80 Jenis Bibit dari Berbagai Dunia
Ia melanjutkan, sebenarnya anak itu bisa menjalani isolasi mandiri dengan dirawat sang ayah yang negatif Covid-19.
Namun akibat tekanan dari para tetangga yang takut tertular Covid-19, anak itu terpaksa diungsikan ayahnya ke isoter rumdin.
"Iya diusir oleh para tetangga, jadi si anak kami jemput dengan ambulance. Dia datang sendirian ke rumdin. Kejadian itu sebelum lebaran tahun ini," terangnya.
Keadaan anak itu memantik rasa iba para nakes di isoter rumdin, anak sekecil itu terpaksa alami kejadian pilu diusir warga padahal baru saja kehilangan ibunya.
Para nakes secara bergantian merawat anak itu dengan kasih sayang dari menyuapi makan dan memandikan. Bahkan anak itu ikut tidur di ruangan jaga perawat.
"Anak itu terpaksa tidur dengan kami karena takut tidur di ruangan pasien sendirian. Tiga hari kami rawat si anak sudah sembuh," terangnya.
Dia mengatakan, pernah pula menangani dua pasien Covid-19 anak masing-masing bayi 6 bulan dan 18 bulan.
Mereka berdua tertular dari orangtuanya.
Sang ayah bayi meninggal dunia sedangkan ibu mereka alami syok berat selepas tahu ditinggal meninggal sang suami.
"Kejadian dua minggu lalu. Malam-malam kami terima pasien itu. Ibu dengan dua bayi. Kondisi ibu sesak nafas dengan saturasi 70," paparnya.
Menurutnya, ibu tersebut mendapatkan perawatan intensif lantaran kondisinya drop. Begitupun dengan dua bayi tersebut dengan sigap segera ditangani oleh para perawat dan bidan.
"Ketika bayi mau menyusui kami dekatkan dengan si ibu yang kondisi depresi bahkan ketika menyusui mukanya datar tanpa ekspresi," bebernya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/dok-relawan-semarang-penjemputan-pasien.jpg)