PPKM Level 4
Ekonomi RI Tumbuh 7,07 Persen, Pulau Jawa Sumbang PDB Terbesar, BENARKAH?
Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan laporan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diukur dari Produk Domestik Bruto (PDB)
"Jawa memberikan kontribusi atau share dalam struktur perekonomian nasional tumbuh 7,88 persen year-on-year ," kata Margo.
Disusul kemudian, Pulau Sumatera memberikan share 21,73 persen atau naik 5,27 persen, Pulau Kalimantan berkontribusi 8,21 persen, Sulawesi 6,88 persen, dan Maluku Papua 2,41 persen.
Pertumbuhan ekonomi tertinggi justru terjadi di kawasan Indonesia timur, seperti di Pulau Sulawesi dengan share 6,88 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang tumbuh 8,51 persen. Adapun capaian tertinggi terjadi pada kawasan Maluku dan Papua. "Sedangkan Maluku dan Papua dengan share ekonomi 2,41 persen mampu tumbuh 8,75 persen," ujar Margo Yuwono.
Sementara Bali dan Nusa Tenggara memberikan kontribusi ekonomi 2,8 persen."Meskipun Bali dan Nusa Tenggara sharenya lebih di atas Maluku, Papua tetapi kenaikannya lebih kecil hanya 3,70 persen," tutur Margo.
Margo menerangkan perbaikan perekonomian nasional ini sejalan dengan perekonomian global pada triwulan II 2021 yang juga tumbuh membaik dibanding periode sebelumnya. Situasi perbaikan ekonomi terlihat pada mitra dagang utama Indonesia yang mencatatkan tren perekonomian positif antara lain Amerika Serikat (12,2 persen, Tiongkok (7,9 persen), dan Singapura (14,3 persen).
Pada triwulan II 2021, nilai ekspor komoditas barang Indonesia mengalami peningkatan impresif 55,89 persen. Kenaikan ekspor terjadi pada komoditas pertanian, industri pengolahan, dan pertambangan.
Begitu juga nilai impor Indonesia di triwulan II 2021 tumbuh 50,21 persen yang terjadi pada komponen barang konsumsi, bahan baku penolong, dan barang modal.
Belum Absolut
Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Ajib Hamdani menilai pertumbuhan ekonomi II 2021 belum absolut.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi sebesar 7,07 persen ini dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua tahun 2020 tidak sebanding karena sedang terjadi puncak kontraksi ekonomi.
"Kuartal kedua tahun lalu sampai minus 5,32 persen. Dan momen itulah titik awal resesi ekonomi melanda Indonesia. Jadi, indikator pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua tahun 2021 ini masih semi absurd untuk disebut pencapaian yang luar biasa, karena perbandingannya adalah ketika terjadi kontraksi ekonomi yang terdalam," kata Ajib.
Indikator berikutnya mulai bebasnya mobilitas orang karena efek kebijakan pelonggaran setelah setahun lebih pandemi. Momen pembatasan mobilitas orang, sempat terjadi pada momen Idulfitri.
Kondisi tersebut tertolong dengan mengalirnya likuiditas di masyarakat, karena momentum mengalirnya THR. Penambahan likuiditas di masyarakat diperkirakan mencapai lebih dari 150 triliun pada momen tersebut sehingga tetap terjadi daya ungkit ekonomi yang relatif signifikan.
"Selama empat kuartal sebelumnya, Indonesia terus mengalami kontraksi ekonomi dan pertumbuhan negatif. Pemerintah perlu mendesain regulasi-regulasi ekonomi untuk terus menjaga pertumbuhan ini dalam tren yang terus positif," kata Ajib.
Apalagi kuartal ketiga tahun ini pengetatan mobilitas orang mulai diberlakukan periode Juli 2020 karena virus varian baru yang memberikan tekanan luar biasa terhadap sisi kesehatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-pertumbuhan-ekonomi.jpg)