Penangkapan Teroris di Jateng
Terduga Teroris di Kendal Diintai Sejak Mei 2021, Ketua RT Diminta Merahasiakan
Subari diminta untuk merahasiakan kedatangan dan maksud petugas dari siapapun. Katanya, petugas saat itu akan melakukan pengembangan apakah ada jarin
Penulis: Saiful Ma sum | Editor: m nur huda
TRIBUNJATENG.COK, KENDAL - Terduga teroris di Kelurahan Bugangin RT 4 RW 2, Kecamatan Kota Kendal, Kabupaten Kendal sudah dilakukan pengintaian sejak Mei 2021.
Hal itu disampaikan Ketua RT setempat, Subari saat ditemui di kediamannya, Sabtu (14/8/2021).
Subari menjelaskan, pada Mei 2021 lalu sudah ada petugas yang mengaku intel datang ke rumahnya.
Petugas tersebut meminta izin ke Subari untuk menyelidiki pergerakan warganya Nurpriyono Hadi (48) terduga teroris yang ngontrak rumah bersama istrinya, Nur Sapto Hariyani (52).
Subari pun diminta untuk menjaga rahasia ini agar proses penyelidikan berjalan lancar.
"Mei lalu ada yang datang ke saya mengaku intel dari Mabes Polri. Dia bilang mau melakukan penyelidikan bapaknya (Nurpriyono). Sebenarnya ada satu lagi keluarga yang tahu, tetangganya yang dimintai keterangan," terangnya.
Subari diminta untuk merahasiakan kedatangan dan maksud petugas dari siapapun.
Katanya, petugas saat itu akan melakukan pengembangan apakah ada jaringan-jaringan lain yang bersumber dari Nurpriyono.
"Saya diminta merahasiakan oleh petugas. Dia (petugas, red) bilang, nanti akan kami jemput. Sekarang saja sebenarnya sudah bisa, ini masih dalam penyelidikan dan pengembangan," ujarnya menirukan apa yang disampaikan petugas.
Ditangkap di Luar Rumah
Nurpriyono Hadi ditangkap oleh petugas di luar rumah pada, Jumat (13/8/2021) saat hendak menuju musala tak jauh dari rumahnya waktu Subuh.
Rumah Nurpriyono berjarak sekitar 10-20 meter dengan musala tempat kesehariannya jamaah salat 5 waktu.
Selaku ketua RT setempat, Subari mengatakan bahwa saat itu tak banyak warga yang mengetahui. Ia hanya mendapatkan keterangan dari imam musala yang datang lebih awal dari jamaah lainnya.
"Kata imam ini, saat menuju ke musala sudah ada dua orang di dekat rumah Nurpriyono. Dia ambil jalan lain dan masuk ke musala. Tiba-tiba mendengar suara orang jalan agak gaduh, ternyata lima orang jalan berbarengan," terang Subari.
Menurut Subari, sang imam musala menceritakan kepadanya, Nurpriyono dibawa oleh 4 petugas sekaligus.
Kemudian, membawanya melewati gang kecil di samping musala menuju gang yang lebih besar ke arah selatan.
Penangkapan dilakukan dengan senyap tanpa diketahui banyak warga.
Hingga pagi harinya sekitar pukul 09.00 WIB, Subari didatangi petugas kepolisian agar ikut serta menyaksikan penggeledahan rumah Nurpiyono.
Subari melihat, petugas membawa beberapa barang seperti CPU komputer, laptop, handphone termasuk milik istrinya, dan beberapa buku bacaan.
"Petugas bilang ke istri Nurpriyono dan saya, kalau barang-barang yang dibawa tidak ada kaitannya dengan penangkapan, akan segera dikembalikan. Termasuk HP istrinya yang digunakan untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya di pondok," katanya.
Tinggal di Kendal sejak September 2020
Berdasarkan catatan kartu keluarga dari RT setempat, Nurpriyono Hadi (48) dan istrinya, Nur Sapto Hariyani (52) merupakan kelahiran Kota Semarang. Keduanya mulai ngontrak rumah di Bugangin, Kota Kendal pada September 2020 lalu.
Nurpriyono dan Hariyani dikenal rajin salat jamaah di musala sekitar, dan serawung dengan para tetangganya.
Di rumah itu, sehari-harinya hanya tinggal berdua. Sementara 4 putra putrinya menuntut ilmu di pondok pesantren.
Dengan hanya keberadaan dua orang saja, warga sekitar seringnya melihat rumah itu tertutup. Sesekali dibuka saat keduanya hendak berkegiatan di luar rumah.
Kerjaan sehari-hari Nurpriyono dikenal sebagian tukang service komputer. Sementara istrinya menerima jasa jahit pakaian.
Atas peristiwa penangkapan itu, tetangga sekitar sempat sok. Karena tidak ada kegiatan yang mencurigakan yang dilakukan Nurpiryono selama ini. Usai penangkapan, tetangga sekitar pun berbondong-bondong menjenguk Hariyani untuk saling menguatkan dan menghiburnya.
Hariyani pun tidak kehilangan respect para tetangganya. Bahkan, tetangga sekitar tak canggung meminjamkan handphone kepada Hariyani untuk menghubungi keempat anaknya di pondok. Tetangga juga menghiburnya dengan kegiatan sehari-hari masyarakat agar sebagian rasa sedih Hariyani bisa terobati.
Ditanya soal Jamaah Islamiyah
Sehari setelah suaminya diamankan petugas, Hariyani menceritakan awal mula suaminya hilang secara tiba-tiba.
Kepada tribunjateng.com, Hariyani bercerita, pagi itu Jumat (13/8/2021) ia dan suami seperti biasa hendak mengikuti salat Subuh jamaah di musala.
Seperti kebiasaannya, sang suami lebih awal berangkat ke musala. Sementara Hariyani datang belakangan selepas menunaikan salat sunnah di rumah.
"Saya berangkat ketika iqamah. Pas di musala, saya gak melihat sendal suami saya. Mikirnya paling ke masjid. Ketika sampai di rumah, suami saya juga belum pulang. Barang-barangnya juga masih ada di rumah, juga sepeda motornya. Biasanya kalau ke masjid bawa sepeda motor," ujar Hariyani.
Mendapati hal aneh yang menimpa suaminya, Hariyani memilih berdiam diri di rumah sembari menunggu kedatangan suami hingga pukul 06.30. Pikirannya tidak karuan karena sebelumnya tak ada kabar apapun yang diterima Hariyani.
Perempuan 4 anak ini mencoba menghubungi salah satu putrinya yang kini menjadi guru ngaji di sebuah pondok. "Waktu itu saya masih pegang HP, saya cerita kepada anak saya yang pertama dan kedua. Bapak gak pulang-pulang, ke mana ya. Nah sama anak saya, dia bilang umi jangan berpikiran yang aneh-aneh. Mungkin bapak olahraga atau main ke temannya," ujar Hariyani.
Hariyani pun mencoba berprasangka baik kepada apa yang terjadi pada suaminya.
Hingga sekitar pukul 09.00 WIB, datang petugas kepolisian bersama ketua RT setempat ke rumah Hariyani.
Dari petugas, Hariyani mengetahui bahwa suaminya ditangkap. Setelah itu, petugas meminta izin kepadanya untuk menggeledah rumahnya.
Hariyani mengaku, sempat ditanya soal Jamaah Islamiyah. "Ibu tahu Jamaah Islamiyah?," tiru Hariyani dari petugas.
Hariyani pun menjawabnya kalau dia tahu soal Jamaah Islamiyah. Namun, Hariyani mengaku tidak mengetahui jika suaminya masuk dalam jaringan Jamaah Islamiyah.
Bahkan, selama hidup bersama Nurpriyono, Hariyani tidak mengetahui kegiatan suaminya dalam hal syiar keagamaan.
"Ada beberapa barang milik suami saya dibawanya (petugas). Saat tanya buku-buku suami saya, saya tidak tahu semuanya. Saya pikir hanya di sebelah kanan (sebuah tempat buku, red). Ternyata ditemukan buku-buku lain, kalau tidak salah ada judulnya melawan penguasa," terangnya.
Menurut Hariyani, beberapa waktu terakhir, suaminya mulai jarang mengaji. Ia mendapati suaminya sering mendengarkan ceramah ustadz-ustadz.
Suaminya juga tidak pernah menerima teman berkunjung ke rumahnya. Kesehariannya selama ini berkutat pada dunia komputer. Kadang, menerima jasa service komputer, seringnya mendapatkan orderan membuat sebuah website.
Hariyani mengaku tidak pernah diceritakan apa-apa yang menyangkut Jamaah Islamiyah oleh suaminya. Atas peristiwa penangkapan itu, Hariyani mencoba tabah agar tidak terjadi syok yang berlebihan.
"Saat kejadian (penangkapan, red) khawatir suami gak pulang-pulang. Alhamdulillah Allah kasih kekuatan, gak sampai sok. Berharap semuanya baik-baik saja," tuturnya. (Sam)