Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Fokus

Fokus : Tak Perlu Buru-buru

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, sekaligus penanggung jawab PPKM, Luhut Binsar Pandjaitan memastikan, PPKM akan selalu diterapkan

Penulis: Vito | Editor: Catur waskito Edy
tribun jateng
arief novianto, wartawan tribun jateng 

Oleh Arief Novianto
Wartawan Tribun Jateng

"Iki jan-jane piye, PPKM diperpanjang terus, ora rampung-rampung, tapi saiki nang dalan wis koyo ora ono PPKM (ini sebenarnya bagaimana, PPKM diperpanjang terus, tidak selesai-selesai, tapi sekarang di jalanan sudah seperti tidak ada PPKM-Red)," kata satu tetangga saya, dalam diskusi ngalor-ngidul di pos ronda kampung, kemarin malam.

Yah, hal itu diungkapkan tetangga saya menanggapi kebijakan pemerintah yang kembali memperpanjang PPKM hingga 23 Agustus 2021.

Meski demikian, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, sekaligus penanggung jawab PPKM, Luhut Binsar Pandjaitan memastikan, PPKM akan selalu diterapkan selama virus corona masih menjadi pandemi.

"Saya banyak memperoleh pertanyaan, apakah PPKM dilanjutkan atau dihentikan? Saya ingin jelaskan, selama covid masih jadi pandemi, PPKM akan tetap digunakan sebagai instrumen untuk mengendalikan aktivitas dan mobilitas masyarakat," katanya, dalam konferensi pers, Senin (16/8) malam.

Adapun, jumlah kasus baru covid-19 terus menurun dalam beberapa waktu terakhir. Namun, hal itu juga bersamaan dengan penurunan jumlah pemeriksaan spesimen covid-19.

Pada Rabu (18/8) misalnya, data Satgas Penanganan Covid-19 mencatat jumlah kasus baru sebanyak 15.768 infeksi dalam 24 jam terakhir, sehingga jumlah total kasus covid-19 di Tanah Air mencapai 3,9 juta.

Pada hari itu, pemerintah melaporkan memeriksa 137.182 spesimen covid-19 dalam 24 jam terakhir. Jumlah pemeriksaan itu jauh dari hari-hari sebelumnya saat jumlah kasus di atas 30 ribu, yakni 200 ribu-250 ribu spesimen, sekaligus jauh dari target pemerintah yaitu 300 ribu-400.000 tes per hari.

Sementara, kasus kematian harian akibat covid-19 di Indonesia tak pernah di bawah 1.000 dalam 34 hari terakhir, yakni sejak 16 Juli sampai 18 Agustus. Secara kumulatif, jumlah kasus kematian hingga Rabu (18/8), mencapai 121.141 jiwa, setelah ada penambahan 1.128 kematian pada Rabu (18/8).

Di tengah keganjilan itu, pemerintah kini tengah menyusun roadmap hidup berdampingan dengan covid-19, dengan menjadikan infeksi virus itu sebagai penyakit endemik. Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman menyatakan, covid-19 berpeluang menjadi endemi, yaitu penyakit yang akan selalu ada di sekitar manusia. Namun, hal itu belum akan terjadi dalam waktu dekat. 

Sebab, status pandemi covid-19 diperkirakan baru berakhir paling cepat pada pertengahan atau akhir tahun depan. Setelah pandemi berakhir, status covid-19 akan berubah menjadi epidemi terlebih dahulu.

"Jadi endeminya belum tahu apakah 2023, 2024, atau 2025," tukasnya, kepada Kompas.com, Rabu (18/8).

Wakil Ketua Asosiasi Dinas Kesehatan (Adinkes), Nurhandini Eka Dewi belum dapat memastikan apakah covid-19 dapat menjadi penyakit endemik pada 2022, meskipun cakupan vaksinasi telah mencapai 70 persen.

"Terbebas dari pandemi ke endemi pada 2022 masih tanda tanya," ujarnya, Rabu (18/8).

Ia menyebut, hingga kini belum ada satu negara pun yang berhasil terbebas dari pandemi covid-19. Beberapa negara sempat mengalami penurunan kasus, namun kembali mengalami lonjakan. Selain itu, terdapat kasus pasien yang terinfeksi virus corona kendati sudah divaksinasi.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved