Wawancara
WAWANCARA : Ferdinand Hindiarto Mantan GM PSIS Jadi Rektor Unika Soegijapranata (1)
Teknologi berkembang pesat di era Revolusi Industri 4.0 seperti sekarang ini. Digitalisasi dan otomatisasi menjadi denyut nyawa aktivitas
Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: Catur waskito Edy
Perasaan santai karena sejak awal saya berangkat santai. Diminta mendaftar menyanggupi menjadi calon rektor bagi saya juga bukan hal yang istimewa, tapi harus disikapi dengan serius. Tidak ada ketegangan gitu sih, santai saja.
Di kampus saya dikenal sosok yang suka ngekek (tertawa terbahak-bahak red.) ya sampai sekarang terus ngekek. Nggak bisa spaneng. Kalau mikir yang serius saya nggak kuat.
Termasuk ketika diminta foto profil pemilihan rektor, ya saya kirimkan foto pas main bola sama PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Ditolak pula. (katanya) pak yang serius?. Lah serius saya begitu. Bicara sepak bola, tagline saya kan dibutuhkan playmaker agar tim bermain dengan benar.
Ketika diumumkan (menjadi rektor), oke saya terima tanggung jawab ini. Biasanya kalau saya melakukan sesuatu akan total. Itu ciri khas saya. Semuanya yang saya punya, yang saya bisa, akan semua saya berikan untuk tugas itu.
Supaya bisa total dan konsisten kan butuh refreshing, nah tekanan harus dimainkan dengan guyon-guyon (becanda).
Respon keluarga saat Bapak terpilih?
Saat mendaftar saya tidak bilang ke anak istri. Baru saat poster pemilihan rektor keluar, barulah anak istri tahu dari medsos (media sosial). Mereka kaget, (katanya) bapak kurang ajar nggak ngasih tahu. Ya yang namanya hidup kan harus ada surprise.
Kebetulan anak saya sudah gede. Yang paling gede juga kuliah psikologi di UGM. Yang kecil SMA kelas 12 juga akan masuk psikologi UGM. Saya mengisi formulir kesanggupan juga diam diam. Teman-teman di kampus tidak ada yang tahu. Beberapa orang kaget saat nama diumumkan.
Apa program unggulan?
Ada WA dari rektor kampus lain. Selamat Mas, selamat Dik jadi rektor di masa badai dan topan alias pandemi. Ya saya jawab, ya kebetulan rektornya Ali Topan Anak Jalanan jadi pas saja.
Ini tantangan berat, situasi pandemi jelas berdampak pada semua aspek kehidupan. Termasuk calon mahasiswa yang orangtuanya terdampak secara ekonomi. Lalu membangun jaringan untuk pembelajaran e-learning.
Saya pikir semua menarik, kompetisi semakin rapat. Kampus luar negeri menjamah Semarang. Saya mengusung tema untuk mengelola Unika 4 tahun ke depan yakni Inflammare Humanitatem yang berarti "Menyalakan Terus Kemanusiaan".
Kenapa? jujur, sekarang hidup banyak orang mengatakan tidak ada keselamatan di luar teknologi, tanda petik.
Seolah-olah kalau tidak ada teknologi akan mati. Kalau handphone (ponsel) ketinggalan saja rasanya wow, panik. Apa iya sih? Mari kembali ke kemanusiaan kita.
Bahwa relasi antarmanusia itu lebih kuat kalau komunikasi langsung. Bahwa teknologi tetap saya tempatkan sebagai alat bantu, tetapi bukan segalanya. Karena di universitas semua subjek manusia, dengan perilaku kemanusiaanya.
Pelakunya dosen dan tenaga kependidikan dengan semua macam kemanusiaan. Jadi orientasi saya fokus di sumber daya manusia, baik mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan. (mam-bersambung)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ferdinand-hindiarto.jpg)