Breaking News
Selasa, 7 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Regional

Lomba Mural di Yogyakarta: yang Paling Cepat Dihapus Pemerintah yang Menang

Di beberapa daerah marak mural dihapus aparat karena memiliki unsur kritik. Namun ternyata hal itu justru menjadi ide perlombaan di Yogyakarta.

Editor: rival al manaf
ISTIMEWA
Mural Presiden Jokowi bertuliskan 404:Not Found di Batuceper, Kota Tangerang, Banten. 

TRIBUNJATENG.COM, YOGYAKARTA - Di beberapa daerah marak mural dihapus aparat karena memiliki unsur kritik.

Namun ternyata hal itu justru menjadi ide perlombaan di Yogyakarta.

Baca juga: Muncul Mural #RIP Pemerintah di Solo, Gibran Tantang yang Membuat untuk Menemuinya

Baca juga: Kabareskrim: Presiden Tidak Berkenan Polri Agresif Tanggapi Mural Jokowi 404 Not Found

Atas beberapa kejadian itu, aksi "Gejayan Memanggil" mengajak para seniman untuk mengikuti lomba mural.

Humas lomba mural "Gejayan Memanggil" Mimin Muralis menyampaikan, mural atau gambar adalah kebudayaan yang dialami oleh manusia saat mulai anak-anak.

Penghapusan atau pemberangusan karya mural adalah sebagai bentuk kekeliruan penguasa atau orang dewasa.

“Coret-coretan di tembok adalah cara-cara ketika kebebasan bersuara terbatas dan sekarang coretan itu pun dibatasi,’ katanya saat dihubungi, Selasa (24/8/2021).

Dia menambahkan, dengan maraknya penghapusan mural yang terjadi di beberapa daerah pihaknya melihat bahwa generasi sekarang merupakan generasi yang tertekan dengan kebijakan pemerintah dalam menangani pandemi.

Baca juga: Apa Itu Mural? Ini Sejarah dan Perbedaannya dengan Grafitti

Baca juga: Kata Pakar Telematika Roy Suryo Soal Arti 404: Not Found Terkait Mural Jokowi di Tangerang

“Kami berusaha melihat generasi sekarang yang tertekan dengan kebijakan pemerintah menangani pandemi dengan cara otoriter,” ungkapnya.

Langkah penghapusan mural atau gambar di dinding yang diambil oleh pemerintah ini dinilai keliru.

Menurut Mimin, seharusnya gambar-gambar yang tersaji di jalanan ini mendapatkan apresiasi seperti yang dilakukan oleh bangsa Eropa.

“Kita lihat negara-negara Eropa dalam mereformasi politiknya dan negara-negara post kolonial yang merdeka, mereka banyak bertebaran mural-mural yang sifatnya membangun meskipun itu dianggap kritis dan mengancam para politisi,” jelas dia.

Bahkan sekarang ini mural di berbagai negara justru digunakan sebagai daya tarik wisata, sedangkan di Indonesia justru sebaliknya mural dianggap kriminal.

Pihaknya juga menyayangkan banyaknya baliho yang menjadi sampah visual justru dinilai sebagai representasi suara rakyat.

Baca juga: Video Mural 3 Dimensi Dari Kudus Sambut HUT Ri

Baca juga: Polisi Buru Pembuat Mural Jokowi 404: Not Found di Tangerang, Disebut Lecehkan Lambang Negara

“Padahal itu suara oligarki yang punya uang untuk menyewa papan reklame dan memprinting spanduk banner yang merusak pemandangan kita secara estetik dan politik,” kata dia.

Lomba mural ini merupakan respon dari sikap pemerintah yang responsif destruktif dan anti kritik.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved