OPINI
OPINI Ade Mulyono : Ilusi Pendidikan Kaum Miskin
JIKA sekolah adalah sebuah organ tubuh, paru-paru. Maka, pengetahuan dalam pengertian paling luas ialah oksigen yang sangat dibutuhkan bagi kesehatan
oleh Ade Mulyono
Penulis Buku
JIKA sekolah adalah sebuah organ tubuh, paru-paru. Maka, pengetahuan dalam pengertian paling luas ialah oksigen yang sangat dibutuhkan bagi kesehatan manusia untuk tetap hidup. Dalam pengertian sosiologinya, manusia dan kelompok yang paling luas: negara.
Sekolah kini diyakini masyarakat sebagai tempat untuk mengubah nasib manusia dari bodoh menjadi pintar dan dari miskin menjadi mapan. Akan tetapi, praksis pendidikan bagi kaum miskin masih dibangun di atas remang-remang: ilusi, manipulatif, dan anti realitas.
Mengingat yang terjadi setelah keluar dari kelas-kelas sekolah peserta didik justru teralienasi dengan masyarakatnya. Hal itu terjadi karena praksis pembelajaran di sekolah yang diajarkan di kelas-kelas hanya mengayunkan angan peserta didik.
Sedangkan dalam praktik pembelajarannya kering dari persoalan riil peserta didik itu sendiri. Persoalan itu yang tidak dipahami oleh stakeholder pendidikan.
Sudah sejak lama kita mendiamkan praksis pendidikan yang hanya “meninabobokkan” peserta didik terutama kaum miskin oleh seruan-seruan merdu para pengajar: “Kelak kalian harus menjadi orang sukses!”
Atau pertanyaan buaian belaka yang sebenarnya tidak mengubah keadaan apa-apa. Misalnya: “Siapa yang ingin menjadi ahli matematika? Menjadi dokter? Menjadi pilot? Atau menjadi presiden?” Pertanyaan semacam itu ibarat obat penenang yang dicekokkan pada orang sakit supaya tidak meronta-ronta karena lara yang dideritanya.
Siapa yang tidak suka mendengar pengantar mimpi indah itu? Betapa bertabur bunga hati peserta didik mendengar kata-kata manipulatif yang dibungkus dengan manis. Seakan-akan memetik hari esok yang indah cukup dengan menabur harapan. Mengingat yang terjadi realitas sosial-ekonomi peserta didik terutama dari kelas sosial bawah tidak dirancang untuk mewujudkan mimpi indah itu.
Betapa tergores hati orang tua melihat anaknya yang mumpuni secara akademik, tetapi tidak dapat mewujudkan impiannya. Sebaliknya, justru berdamai dengan keadaan yang memaksanya bekerja sebagai buruh kasar hanya karena si anak lahir dari keluarga kelas sosial bawah. Tentu karena mahalnya ongkos pendidikan menyebabkan rantai kemiskinan terus berlangsung.
Ilusi pendidikan
Dengan demikian, praksis pendidikan yang hanya mengampanyekan ilusi-ilusi belaka tidak lebih dari ‘politik pendidikan’ untuk mempertahankan dominasi antara kelompok super ordinat dengan kelompok sub-ordinat. Tanpa disadari oleh banyak pengajar ada kepentingan ideologi bermain di dalamnya. Semua itu tidak lepas dari sistem pendidikan yang diaplikasikan dalam praksis pembelajaran melalui hegemoni kurikulum.
Di mana praktik-praktik pendidikan selama ini menjauhkan realitas peserta didik dengan lingkungannya. Tentang pendidikan Foucault pernah mengatakan, “Bahwasanya tidaklah mungkin memisahkan keberadaan pengetahuan dengan meninggalkan kekuasaan. Sebaliknya, tidak mungkin meninggalkan kekuasaan bisa berjalan tanpa pengetahuan. Kekuasaan bekerja di dalam proses pembentukan pengetahuan.”
Praksis pendidikan dalam menjajah pikiran peserta didik untuk mempercayainya sebagai otoritas pengetahuan eksak di masyarakat itulah yang ditentang oleh Ivan Illich. Gagasan pendidikan dalam kacamata Illich sangat menantang pikiran kita untuk lebih bersikap kritis terhadap fenomena yang kita hadapi. Kita tidak boleh percaya begitu saja dengan sistem dan nilai yang diberikan oleh institusi apa pun, termasuk institusi sekolah.
Oleh sebab itu, pendidikan itu bukan anti realitas, melainkan miniatur masyarakat nyata. Maka pendidikan (sekolah) harus berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Pada konteks ini perlunya meminjam pernyataan kritis dari Neil Postman (1995) untuk diajukan sebagai tesis: “Kehidupan publik seperti apa yang hendak dibentuk oleh dunia pendidikan?” Mengingat pendidikan memainkan peran signifikan dalam melegitimasi kehidupan sosial dan kultural dengan cara hegemoni, yakni di mana peserta didik tidak merasa sedang ditindas.
Kontras di kelas
Dengan kata lain, ada sesuatu yang sangat kontras antara hubungan peserta didik saat di dalam kelas dan saat berada di luar kelas. Gerbang sekolah dijadikan tembok pembatas antara kehidupan riil peserta didik saat berada di tengah masyarakatnya dengan ilusi-ilusi yang diajarkan di kelas-kelas sekolah. Bagaimana mungkin peserta didik yang bermimpi menjadi dokter setelah pulang ke rumah justru harus menghabiskan sisa waktunya untuk ikut membantu orang tuanya mencangkul, menggembala kambing, atau mencari kayu bakar di hutan.
Bagaimana bisa peserta didik yang bermimpi menjadi ahli matematika setelah lulus SMA atau SMK pada akhirnya harus bekerja sebagai buruh dengan gaji murah karena ketidakmampuan ekonomi keluarganya untuk melanjutkan jenjang pendidikannya ke perguruan tinggi.
Tentu kita mengerti mimpi itu sangat baik untuk mencambuk peserta didik untuk terus berjuang demi hidup yang lebih baik. Itu metafisikanya. Namun, persoalannya praksis pendidikan di ruang kelas begitu lebar jarak antara “teks” dan “konteksnya”. Antara materi dan metode proses pembelajaran jauh dari keadaan riil peserta didik di tengah masyarakatnya. Pendek kata, meminjam argumentasi Mukhrizal (2014); terlalu banyak masalah sosial yang tidak tersinggung dalam proses belajar manusia dalam pendidikan.
Justru pendidikan terjebak pada kerangka sistem yang dibuat untuk mempermudah manusia mengatur hidupnya. Kerangka sistem yang begitu mengengkang setiap dimensi kehidupan juga terjadi pada institusi sosial pendidikan. Benarlah apa yang dikatakan oleh Keith Morisson, “Pengetahuan tidak bersifat netral, dan kurikulum merupakan wilayah pertarungan ideologi, di mana kelompok penguasa memelihara kekuasaan melalui kurikulum.”
Pelihara kekuasaan
Jadi, peserta didik telah diasingkan dengan dunianya. Khotbah merdu tentang impian dan cita-cita tidak didasarkan dengan logika akal sehat untuk melihat lingkungan peserta didiknya. Rutinitas pembelajaran di sekolah ibarat dunia baru dan peserta didik dipaksa mengikuti aturan baru itu secara sistematis.
Itu sebabnya kata-kata tanpa praksis-revolusioner dari seorang pengajar hanyalah “verbalism kosong”. Bukan kata-kata sejati menurut Freire. Pandangan itu menjadi relevan mengingat praksis pendidikan di Indonesia di mana sebagian besar pengajar antidialogis. Peserta didik tidak lebih dari “objek benda” pasif yang terus menerus diindoktrinasi oleh kurikulum pendidikan melalui pengajar.
Pengajar yang tidak berupaya menjadikan kata-kata sebagai tindakan praksis-revolusioner untuk mobilitas sosial peserta didik hanyalah tindakan nihilisme. Kata-kata yang tidak dapat dijadikan azimat pembebasan. Ibarat mantra para pesulap yang hanya membuat orang tertawa, bukan untuk membuat orang berdiri dan beraksi karena sihir critical subjectivity (kemampuan untuk melihat dunia dan persoalannya secara kritis).
Dalam bahasa Freire: pendidikan yang sejati tidak dilaksanakan oleh A untuk B atau oleh A tentang B, tetapi justru oleh A bersama B dengan dunia sebagai media. Siapa pun tidak ada yang membantah jika peran guru sangat sentral dalam praksis pembelajaran. Sebagaimana diterangkan Giroux dalam Rakhmat Hidayat (2013); mereka [guru] bekerja dengan peran yang penuh muatan politis sebagai intelektual publik. Menjadi wajar jika mengandaikan guru ialah pekerja budaya di wilayah pedadogi kritis. Dengan cara itu, guru tidak terjebak dalam perangkap media dan budaya positivisme.
Itu sebabnya jika pedadogi kritis tidak dijadikan pijakan sebagai perlengkapan dalam proses pembelajaran, hanya akan menghasilkan pendidikan yang pragmatis—yang menjadi agenda pasar bebas (neoliberalisme dan kapitalisme). Tentu hal itu tidak lepas dari indoktrinasi yang digembar-gemborkan bahwa peserta didik bersekolah untuk mendapatkan pekerjaan layak.
Ironisnya mimpi itu hanya bisa diwujudkan oleh peserta didik dari kelas menengah-atas. Sedangkan peserta didik dari kelas bawah hanya berkutat di lingkaran ekonomi bawah (lemah).
Di situlah dikotomi winner (pemenang bagi kelas menengah atas) dan looser (pecundang kelas bawah) tidak terelakkan. Jika dari awal praksis pendidikan tidak dirancang untuk melakukan perubahan secara vertikal, maka yang terjadi ialah sebaliknya pendidikan hanya akan menyebabkan dikotomi sosial: yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. (*)
Baca juga: OPINI : Pertumbuhan Ekonomi yang Manusiawi
Baca juga: Hotline Jateng : Bolehkan Tempat Wisata dan Restoran Buka Saat PPKM Level 3
Baca juga: Fokus : Liga Bersyarat
Baca juga: Ditinggal Pergi untuk Rayakan Ultah Cucu, Rumah Mbah Tutik di Gayamsari Semarang Terbakar
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ade-mulyono.jpg)