Breaking News:

Kunjungan di Pusat Perbelanjaan Masih Minim, Belum Mampu Dongkrak Kinerja Bisnis

pelonggaran di PPKM level 3 itu belum bisa mendongkrak secara signifikan kinerja bisnis dan kunjungan di pusat perbelanjaan.

Editor: Vito
TRIBUN JATENG/IWAN ARIFIANTO
ilustrasi - Pengunjung berjalan-jalan di Mal Paragon Semarang, baru-baru ini. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 memberi napas bagi pusat perbelanjaan atau mal untuk menggulirkan kembali roda bisnisnya.

Namun, pelonggaran di PPKM level 3 itu belum bisa mendongkrak secara signifikan kinerja bisnis dan kunjungan di pusat perbelanjaan.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonsus Widjaja menyampaikan, tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan meningkat secara bertahap sejak diberlakukan pelonggaran. Tapi, peningkatannya masih cenderung lambat.

Menurut dia, rata-rata tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan saat ini masih berkisar di level 20-30 persen dibandingkan dengan kondisi normal sebelum pandemi covid-19.

"Diharapkan tren peningkatan kunjungan ke pusat perbelanjaan akan terus meningkat seiring dengan berbagai pelonggaran yang diberlakukan oleh pemerintah," katanya, saat dihubungi Kontan, Senin (6/9).

Jika pemulihan terus terjadi dan bisa dipertahankan, setidaknya hal itu dapat mengembalikan kondisi usaha dari keterpurukan yang terjadi pada Juli dan sebagian Agustus.

Seperti diketahui, saat kasus covid-19 kembali meledak dan PPKM darurat diberlakukan, bisnis di pusat perbelanjaan dan mal ambruk lantaran terjadi penutupan operasional.

Potensi hilangnya pendapatan akibat penutupan tersebut sangat besar. Alphonsus memberikan gambaran, potensi pendapatan pusat perbelanjaan dari anggota APPBI di seluruh Indonesia berkisar di angka Rp 5 triliun/bulan.

"Nilai tersebut adalah pendapatan yang diterima oleh pusat perbelanjaan, dan bukan nilai penjualan. Selama ditutup sementara, pusat perbelanjaan (anggota APPBI di seluruh Indonesia) berpotensi kehilangan pendapatan sekitar Rp 5 triliun setiap bulan," jelasnya.

Ia menilai, masih butuh waktu lama untuk bisa mencapai kondisi usaha seperti sebelum pemberlakuan PPKM Darurat dan PPKM berlevel. Alphonsus memperkirakan sampai dengan akhir 2021 kondisi usaha pusat perbelanjaan masih berada dalam kondisi tertekan.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved