Berita Malang

17 Tahun Kematian Aktivis HAM Munir, Mahasiswa Khawatir Kasusnya Kedaluwarsa

Puluhan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang menggelar aksi untuk memperingati 17 tahun pembunuhan aktivis HAM Munir, Selasa (7/9).

BBC
Tertulis di nama jalan itu, "Munir Said Thalib 1965-2004, Pejuang Hak Asasi Manusia Indonesia". 

TRIBUNJATENG.COM, MALANG -- Puluhan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang menggelar aksi untuk memperingati 17 tahun pembunuhan aktivis HAM Munir, Selasa (7/9).

Aksi dilakukan di gerbang utama UB Jl Veteran untuk menarik atensi masyarakat. Dalam aksi itu, para mahasiswa memakai topeng wajah Munir.

"Ini sebagai peringatan 17 tahun kematian Cak Munir. Secara umum, kasusnya ditangani secara hukum pidana dan mengenal adanya kedaluwarsa," jelas Kahfi Inzagi dari BEM Fakultas Hukum UB pada wartawan.

Jika memakai hukum pidana, maka masa kedaluwarsanya pada 2022. "Padahal rentetan kasusnya adalah pelanggatan HAM berat. Kita coba desak pemerintah, dalam hal ini Komnas HAM agar berkomitmen konkret dengan masalah warga," jelas dia.

Almarhum Munir sendiri adalah alumnus FH UB. Saat ini, anak perempuannya, Diva juga melanjutkan kuliah di FH UB.

"Tuntutan mahasiswa jelas. Yaitu memberi keadilan bagi keluarganya. Jika tidak, maka kasus Munir akan ditutup dan tidak terungkap. Termasuk aktor intelektualnya," jelas mahasiswa ini.

Kehadiran negara diharapkan agar bisa menjawab hak warga negara. Hingga hari ini, penyelidikan kasus Munir belum memberikan rasa keadilan.

Dalam executive summary laporan Tim Pencari Fakta disimpulkan bahwa kasus Munir merupakan bentuk permufakatan jahat yang melibatkan empat lapis pelaku. Yaitu pelaku lapangan, pelaku yang mempermudah atau turut serta, aktor perencana dan pengambil keputusan di mana pembunuhan ini diduga berhubungan dengan aktivitas Munir dalam pemajuan dan perlindungan HAM dan demokrasi.

Pada kasus Munir masih berhenti di aktor lapangan yaitu Pollycarpus Budihari Priyanto. Sedang aktor pemberi perintah dan perencana belum terungkap.

Maka mahasiswa UB mendesak Presiden Jokowi melalui Komnas HAM RI untuk memajukan dan menegakkan HAM atas kasus pembunuhan Munir Said Thalib sebagai pelanggaran HAM berat.

Simbol Kehormatan Negara

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menilai, penuntasan kasus pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib akan menjadi simbol penghormatan negara pada hak asasi manusia.

Komisioner Komnas HAM, Amiruddin Al Rahab, mengatakan, jika pemerintah berkomitmen menuntaskan kasus kematian Munir, maka hal itu akan menjadi catatan hukum yang luar biasa.

“Menuntaskan proses hukum merupakan upaya negara menunjukkan kepedulian HAM. Keluarga korban dan komunitas HAM sudah terlalu lama menunggu,” kata Amiruddin saat dihubungi Kompas.com, Selasa (7/9). Namun sebaliknya, jika upaya penuntasan itu tidak dilakukan pemerintah maka akan menjadi catatan buruk di sektor penegakan hukum, khususnya terkait HAM.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved