Sabtu, 18 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kisah Inspiratif

Kisah Penjual Cilok Jadi Youtuber Sukses Gara-gara Kehujanan

Kampung YouTuber di Desa Kasegeran, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, melahirkan banyak content creator yang sukses.

Tiktok/garasiphotogtx
Ilustrasi penjual cilok naik ninja 250 CC 

Ia lantas menemui Siboen untuk belajar menjadi YouTuber. "Saya tertarik menjadi YouTuber untuk menambah enghasilan. Jualan cilok kadang sehari habis, kadang sampai tiga hari, kadang sampai modal habis," ujar Angger.

Namun impiannya menjadi YouTuber terkendala peralatan, karena ia hanya memiliki ponsel jadul tanpa kamera. Ia lantas membobok celengan yang dikumpulkan bertahun-tahun.

"Saya dapat uang sekitar Rp 2 juta. Saya ditemani Mas Siboen membeli ponsel, sampai sana saya sempat termenung karena uangnya kurang. Akhirnya kekurangannya dibayari mas Siboen," kisah Angger.

Berbekal ponsel baru, malam itu juga ia mengikuti Siboen membuat konten misteri. Live di hutan kawasan desa.

"Malam itu saya langsung dapat memenuhi jam tayang untuk monetisasi, jumlah subscriber juga lumayan. Kebetulan waktu itu dari beberapa teman yang bareng tidak bisa live, hanya saya yang bisa," kata Angger.

Namun waktu itu ia belum bisa mencairkan uangnya. Setelah kurang lebih tiga bulan ia baru mendapat uang pertama dari YouTube. Sejak saat itu, ia semakin meyakinkan hatinya untuk menjadi seorang YouTuber.

Vlog jualan cilok

Ia juga membuat vlog aktivitasnya berjualan cilok. "Pagi saya menyiapkan cilok, siang berjualan sambil nge-vlog. Sepulang jualan, malam harinya saya buat konten misteri," ujar Angger.

Mulai tahun 2019, ia kemudian beralih membuat konten memasak makanan tradisional. Konten tersebut berisi kegiatan mencari bahan makanan di hutan dan memasaknya di alam bebas.

"Sejak awal pandemi Covid-19 saya berhenti berjualan cilok dan fokus di YouTube, karena jualannya sepi," kata Angger.

Pembuatan konten itu melibatkan istri dan ibu mertuanya. Bahkan, sesekali anaknya yang masih berusia sembilan tahun juga masuk dalam frame video.

Sang istri, Tarinah (36), seorang mantan TKI ini bertugas sebagai kameramen. Sedangkan ibu mertua bertugas memasak bersama Angger.

Pada sesi akhir video, mereka menyantap bersama makanan tersebut di alam bebas. Untuk proses editing dilakukan Angger bersama istrinya hanya dengan menggunakan ponsel.

Kemampuan tersebut ia dapatkan saat belajar dengan Siboen dan rekan-rekan lain sesama YouTuber.

"YouTuber harus kreatif, harus ditekuni. Seperti orang memelihara kambing, kalau tidak diurus tidak akan menghasilkan keuntungan," kata Angger.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved