Unika Soegijapranata
Cara Unika Menangkal Wabah Intoleransi di Perguruan Tinggi Agama, Anggap Keragaman sebagai Kurnia
Sebagai lembaga pendidikan, Universitas Katolik Soegijapranata Semarang mengusung nilai atau values, tidak berbicara agama.
Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: moh anhar
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Dewi Praswida merupakan calon wisudawati pascasarjana Magister Lingkungan dan Perkotaan (PMLP) Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.
Ia akan diwisuda pada Sabtu (18/9/2021).
Perempuan berjilbab ini sempat mengambil studi sarjana jurusan Geografi di satu universitas negeri di Jawa Tengah.
Dewi sempat kaget saat pertama berkuliah di perguruan tinggi agama yang memiliki warna ciri khas ungu ini.
Pasalnya, di setiap gedung terdapat musala, tempat ibadah agama yang dia anut.
Baca juga: Pelaku Perselingkuhan Nyamar Jadi Wanita Ditangkap Warga Jurang, Sudah Curiga Lihat Gaya Boncengan
Baca juga: Ayah Taqi Malik Memaksa Hubungan Badan Saat Marlina Octoria Sedang Haid, Sang Kakak Langsung Ngamuk
Baca juga: KPU Batang Ajukan Rp 80 Miliar untuk Pilkada Serentak 2024, Sistem Akan Dicicil 2 Tahun Anggaran
"Saat saya mengambil S1 di universitas negeri, tidak semua gedung punya tempat ibadah (musala). Tapi di Unika ada," kata Dewi saat sesi diskusi civitas akademika Unika dengan awak media secara virtual, Rabu (15/9/2021).
Menurutnya, meskipun dirinya belajar di lembaga pendidikan dengan embel-embel nama agama, namun, dirinya tidak terkotak, tidak merasa terkucilkan.
Toleransi tinggi justru banyak ditemukan di perguruan tinggi agama.
"Saya biasa kuliah pukul 17.00 WIB sampai pukul sekitar 20.00 WIB. Dalam sekelas, hanya saya yang Islam. Namun, saat tiba waktu salat, pas azan Maghrib, dosen berhenti dulu dan mempersilakan saya salat. Begitu juga dengan waktu Isya," ucapnya.
Ia menuturkan merasa nyaman selama menempuh pendidikan di Unika.
Menurutnya, tidak salah jika Unika dikenal dengan kampus bineka atau keberagaman.
Begitulah seharusnya yang dilakukan lembaga pendidikan.
Mahasiswa tidak terjebak dalam pemikiran yang eksklusif dan menutup dari golongan lain.
Endemi atau wabah intoleransi di kalangan anak muda atau perguruan tinggi harus digerus dengan sikap-sikap yang toleransi dan saling menghargai antara satu golongan dengan yang lain.
Rektor Unika Soegijapranata, Ferdinandus Hindiarto menuturkan, keberagaman adalah kurnia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/dewi-praswida-1.jpg)