Breaking News:

Virus Corona

WHO Pantau Penyebaran Virus Corona Asal Indonesia, Jenis Ini Menimbulkan Risiko di Masa Depan

Virus corona varian B1.466.2 asal Indonesia menjadi satu mutasi yang dipantau ketat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

STR / AFP
Seorang anak menjalani tes asam nukleat untuk virus corona di Xiamen, Provinsi Fujian timur, China, Selasa (14/9/2021), di tengah kembali melonjaknya kasus covid-19 di negara itu. 

WHO mencatat empat varian yang masuk dalam daftar VoC, yakni varian Alpha, Beta, Gamma, dan Delta. WHO juga memasukkan lima varian corona dalam daftar VoI, yakni varian Eta, Iota, Kappa, Lambda, dan Mu.

Sementara itu, selain B.1.466.2 dari Indonesia, ada 11 varian lain yang masuk dalam kategori Alerts for Future Monitoring WHO, yakni B.1.427 dan B.1.429 dari Amerika Serikat; R.1, B.1.1.318, B.1.1.519, C.36.3, B.1.214.2, B.1.1.523, B.1.619, B.1.620 dari beberapa negara; dan C.1.2 dari Afrika Selatan.
C.1.2 lebih berbahaya

Adapun, ahli epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman mengatakan, ada varian virus corona yang lebih berbahaya dari varian Delta. Varian tersebut, kata dia, adalah virus corona C.1.2 yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan, dan lebih berbahaya dari varian virus corona Mu.

"Varian 1.2 ini luar biasa menurut saya. Kalaupun ada varian yang bisa mengalahkan Delta, varian 1.2 inilah yang punya potensi itu," katanya, dalam diskusi daring, Selasa (14/9).

Menurut dia, varian C.1.2 lebih berbahaya, karena varian itu adalah mutasi dari beberapa jenis virus corona, yakni Alpha, Beta, Delta, dan Gamma. Dicky pun mengingatkan pemerintah harus bersiap dan mencegah masuknya varian tersebut.

"Makanya, bahwa ada potensi varian yang lebih hebat dari Delta itu ada. Dan itu masalah waktu kalau masuk Indonesia, dan untuk itu kita harus siap-siap," ujarnya.

Adapun, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, pemerintah tengah mengamati tiga varian baru covid-19 agar tidak masuk ke wilayah Indonesia.

"Sebagai antisipasi, ada tiga varian baru yang kami amati dari dekat. Pertama adalah varian Lambda, kedua varian MU, dan yang ketiga adalah varian C.1.2," jelasnya, dalam rapat dengan Komisi IX DPR, Senin (13/9).

Budi menyebut, varian Lambda dan Mu yang keduanya ditemukan di Amerika Selatan itu telah dimasukkan kategori VoI oleh WHO. Varian Lambda telah menyebar di 42 negara, sedangkan penyebaran varian Mu lebih cepat, yakni di 49 negara.

"Kedua varian ini memiliki kemampuan untuk menghindari sistem imunitas atau sistem kekebalan dari tubuh kita, sehingga efektivitas dari vaksin yang diberikan akan menurun terhadap kedua varian ini," tuturnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved