Selasa, 14 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Fokus

Fokus : Banjir di Musim Kemarau

DI tengah musim kemarau ini, datang kabar duka dari Lebak, Banten, dan Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

Penulis: abduh imanulhaq | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Abduh Imanulhaq atau Aim wartawan Tribun Jateng 

Oleh Abduh Imanulhaq

Wartawan Tribun Jateng

DI tengah musim kemarau ini, datang kabar duka dari Lebak, Banten, dan Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Ribuan rumah terendam air saat banjir melanda sejumlah desa dan kecamatan.

Bahkan di Lebak, seorang warga meninggal dunia karena hanyut. Sejumlah warga lain terpaksa meninggalkan rumahnya mengungsi ke tempat yang aman.

Tak ada perasaan lain kecuali solidaritas dan doa sebagai sesama anak bangsa yang kita sampaikan. Meski Jawa Tengah tak terdampak bencana alam tersebut, kita merasakan betul betapa pedihnya perasaan orang-orang yang terkena musibah dan kehilangan anggota keluarga.

Dari sudut ini, kita bisa menilai betapa pentingnya manajemen pencegahan dan penanggulangan bencana yang paripurna. Dimulai dari pengelolaan risiko, tanggap darurat hingga pemulihan.

Terlebih kita tahu, Indonesia memang tak banyak bisa mengelak dari berbagai risiko bencana alam. Posisi geografis negeri kita terletak di ujung pergerakan tiga lempeng dunia, yaitu Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik.

Tak kurang dari lembaga milik PBB yang fokus pada pengurangan risiko bencana, UN-ISDR, menyatakan Indonesia sebagai negara paling rawan terhadap bencana di dunia. Kita menempati peringkat tertinggi untuk ancaman bahaya tsunami, tanah longsor, dan gunung berapi.

Kemudian peringkat tiga untuk ancaman gempa. Selanjutnya posisi keenam untuk banjir. Mengingat predikat tersebut, wajib kiranya kita memiliki manajemen bencana yang mumpuni.

Sebagai negara yang rawan bencana, sejak dulu masyarakat kita pun memiliki kearifan lokal dalam mengenalinya. Berbagai pertanda alam di sekitar sungai biasanya menunjukkan proses banjir yang akan terjadi.

Lebih sering ditandai hujan deras yang berlangsung lama. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menggolongkannya sebagai hujan berintensitas sedang, tinggi, sangat tinggi, dan ekstrem.

Lembaga ini juga mengeluarkan panduan bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana banjir. Di antaranya mengenali potensi bencana di lingkungan masing-masing dan mulai memahami cara mengurangi risiko bencana tersebut semisal tidak membuang sampah sembarangan dan menata lingkungan.

Kemudian tetap tenang namun terus waspada terhadap potensi bencana terutama banjir yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Selanjutnya tetap memantau informasi prakiraan cuaca terkini beserta potensi banjir yang dikeluarkan BMKG melalui website dan akun media sosial resmi milik BMKG.

Di Jawa Tengah, ada beberapa daerah yang paling rentan terjadi banjir karena dilalui sungai besar. Di antaranya Banyumas, Pati, Demak, Kudus, Brebes, dan Cilacap. Kemudian daerah rawan karena keberadaan anak sungai besar seperti Karanganyar, Solo, dan Sukoharjo.

Pada tahun 2017, ada 113 kecamatan dan 1.719 desa di provinsi ini yang rawan banjir. Kita juga berharap data itu makin meningkatkan kewaspadaan warga dan pemerintah daerah.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved