Rabu, 15 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jakarta

WAWANCARA : Curahan Hati Saksi Sejarah Peristiwa G 30S PKI

Yasin (71),menjadi saksi sejarah atas tragedi berdarah Gerakan 30 September PKI (G30S/PKI).

Istimewa
Diorama kekejaman PKI kepada para jenderal di Lubang Buaya saat Gerakan 30S/PKI. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Yasin (71),menjadi saksi sejarah atas tragedi berdarah Gerakan 30 September PKI (G30S/PKI).

Sudah puluhan tahun berlalu rasa trauma masih menyelimuti bagi warga Lubang Buaya, Jakarta Timur.

"Setelah kejadian penggerebekan besar-besaran membuat trauma orang sekitar," Yasin mengisahkan pengalamannya kepada Tribun Network, Kamis (30/9).

Yasin menuturkan pada zamannya warga sekitar tidak paham apa yang sedianya terjadi.

Menurut dia, sulit membedakan mana PKI dan mana Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).

"Saya saat itu masih kecil kelas 3 SD apalagi orang kampung di sini ibaratnya bodoh dan tidak mengerti persoalan begitu (politik)," ucap dia.

Ia tidak menampik pula banyak warga yang dihasut untuk menjadi anggota PKI. Yasin bercerita setiap harinya PKI berkeliling rumah warga melakukan pemeriksaan.

Kondisi tersebut diakuinya membuat warga ketakutan.

"Yang dicari apa saya juga tidak mengetahui pasti. Orang kampung saat itu sangat takut. Kondisi ekonomi juga sulit berbeda dengan sekarang," lugasnya.

Yasin menjelaskan sebelum peristiwa 30 September 1965, PKI juga menggelar beberapa persiapan yaitu melatih Pemuda Rakyat dan Gerwani.

Sepengetahuannya, pemuda yang bergabung pelatihan bukan warga Lubang Buaya.

"Mereka orang mana kita juga tidak mengetahui. Orang kita (Lubang Buaya) justru ketakutan," Yasin menambahkan.

Sejarawan dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Baskara T Wardaya SJ menuturkan sejarah pemberontakan G30S/PKI tahun 1965 tidak boleh dilupakan.

Ada yang mengatakan, jas merah atau jangan sekali-kali melupakan sejarah.Sang proklamator Bung Karno yang pertama kali dulu melontarkan istilah jas merah.

"Di dalam filsafat ada yang namanya pengada (being), yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan lainnya. Di antara para pengada di dunia ini, being-being itu hanya satu yaitu manusia," tutur Baskara.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved