Berita Semarang
100 Pedagang Mengadu Persoalan Penataan Pasar Johar ke Dinas Perdagangan Kota Semarang
Sebanyak 100 pedagang mengadu persoalan penataan Pasar Johar kepada Dinas Perdagangan Kota Semarang.
Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: moh anhar
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sebanyak 100 pedagang mengadu persoalan penataan Pasar Johar kepada Dinas Perdagangan Kota Semarang.
Jumlah itu tercatat sejak dibukanya posko pengaduan hingga Rabu (6/10/2021).
Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fravarta Sadman mengatakan, posko pengaduan akan dibuka hingga perpindahan pedagang dari tempat relokasi ke kawasan Johar.
Dimungkinkan, jumlah pedagang akan bertambah mengingat masih ada kendala yang timbul di lapangan.
Dia menyebutkan, persoalan yang diadukan pedagang kepada dinas tak jauh dari pembahasan saat audiensi dengan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, antara lain kios maupun los menjadi kecil, pedagang merasa terlempar karena tidak mendapatkan lapak di Johar Utara, tempat mereka berjualan semula.
Baca juga: Laskar Sambernyawa Gagal Raih Poin Penuh dari Persijap Jepara, Pelatih Persis Akui Permainan Buruk
Baca juga: Prediksi Sriwijaya FC Vs Babel United Liga 2 2021, H2H, Susunan Pemain dan Link Live Streaming
Baca juga: Aksi Begal di Banjarnegara, Pelaku Seret Korban, Rampas Perhiasan Handphonenya
Dinas Perdagangan, kata dia, sudah melakukan sosialisasi berkali-kali bahwa kapasitas Johar Utara dan Tengah memang tidak seperti semula.
Dua blok tersebut tidak bisa menampung seluruh pedagang.
"Johar Utara dan Tengah tidak bisa masuk semua, sehingga yang tidak masuk situ harus bisa menerima. Itu yang kami sampaikan," jelasnya.
Selain itu, ada pula pedagang yang mengadukan belum mendapatkan lapak.
Menurut Fravarta, semua sudah dimasukan dalam undian.
Pedagang seharusnya sudah mendapatkan notifikasi mengenai informasi pengundian.
Hanya saja, jika pedagang mendapat lapak di Johar Selatan, basement Alun-Alun Yaik, dan Shopping Center Johar (SCJ) memang belum tertera nomor lapak dalam notifikasi.
Hal ii mengingat saat ini lapak memang belum siap ditempati.
"Sehingga, sementara notifikasi hanya ditempatkan di Johar Selatan atau SCJ. Ketika lapaknya sudah siap, kami undi," imbuhnya.
Sebagian pedagang, lanjut Fravarta, juga mengadu belum mendapatkan notifikasi.
Ini yang akan dicek kembali oleh petugas. Pasalnya, notifikasi sebenarnya bisa dicek melalui handphone masing-masing.
Jika handphone tidak mendukung smartphone atau nomor handphone ganti, tentu notifikasi tidak bisa masuk.
Ada pula yang dulu mendaftar lewat kelompok atau orang lain.
Sehingga, pemberitahuan masuk ke nomor yang mendaftarkan.
"Ini segera kami selesaikan. Ketika ada pengaduan, kami dalami dan hasilnya seperti apa kami informasikan," terangnya.
Di samping menerima pengaduan, Dinas Perdagangan juga masih membuka pemberkasan untuk berita acara serah terima los atau kios.
Fravarta berharap, pedagang yang sudah tidak bermasalah dengan persoalan penataan segera menepati lapak maksimal 10 Oktober mendatang.
Sementara itu, seorang pedagang sembako, Nani mengaku kecewa dengan hasil pengundian.
Semula, dia berjualan di Johar Tengah sebelum kejadian kebakaran.
Dari hasil pengundian, dia mendapatkan lapak di Kanjengan lantai 3.
Dia merasa keberatan karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk naik turun berjualan di lantai 3.
"Keluarga sudah berjualan, sejak nenek saya, lalu ibu saya, dan sekarang saya melanjutkannya, sudah 42 tahun berjualan di Johar Tengah. Saya menangis dapat lapak di Kanjengan lantai 3. Ukuran lapaknya kecil. Kemarin saya lihat ke sana, kaki saya tidak kuat karena habis operasi," ungkapnya.
Dia pun mencoba menghubungi Dinas Perdagangan agar posisi lapak bisa diganti di Johar Tengah.
Dia mengaku sangat ingin menghabiskan hari tua di Johar.
Baca juga: Tujuan MOTION 2021 Siapkan Desainer Muda Indonesia Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri
Baca juga: Asisten Ayu Ting Ting Blak-blakan Cara Bosnya Perlakukan Anak Buah, Padahal Nggak Pegang Uang
Baca juga: Kasus Dugaan Pencemaran Nama Baik, Ustaz Solmed Laporkan Lurah Cisewu dan Panita Pengajian ke Polisi
Hingga saat ini, dia belum memastikan kapan akan pindah.
Dia mengaku lebih nyaman di tempat relokasi MAJT jika dibanding lapak yang ia dapatkan di Kanjengan.
"Belum ada rencana pindah kapan. Saya pikirkan dulu. Memang pasarnya ada lift, tapi saya malah nyaman di MAJT," ujarnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/para-pedagang-mengantre-1.jpg)